- Kapolres Majalengka Ungkap Tiga Kasus Kriminal, Dugaan Kekerasan Seksual Anak Disorot
- Kompetitif di 4 Putaran Awal, Tim HRI Target Raih Gelar Juara Nasional Akhir Pekan Ini di Mandalika
- Jaga Stabilitas Keamanan, Babinsa Koramil Ciledug Dan Pondok Aren Patroli Malam Bersama Komduk.
- Mediasi Dugaan Limbah Greenfields Memanas, kenapa Pejabat Masih Baru Akan Turun ke Lokasi.
- Pemkab Barut Dorong Pemanfaatan Pangan Lokal dan Cegah Stunting Lewat Lomba Cipta Menu B2SA
- Ketua TP-PKK Barito Utara Tekankan Peran Keluarga dalam Pencegahan Stunting melalui Pangan B2SA
- PN Tak Berwenang Adili Sengketa Internal, PDIP Majalengka Tancap Gas Hadapi Pileg 2029
- Asthara Skyfront City Rampungkan Dua Show Unit Terbaru Allurea Type E.
- Tokoh Masyarakat Lahei Minta Keselamatan Warga Jadi Prioritas dalam Persoalan Jalan Hauling
- Dandim 0510/Tigaraksa Dukung Ketahanan Pangan, Panen Padi Sawah dan Pemberian Bantuan Sarana Pertanian
Tanggapi Laporan BPS yang Menyebut Indonesia kembali Deflasi, Ini Kata Ketua DPP PKS

Keterangan Gambar : Ketua DPP PKS Bidang Ekonomi dan Keuangan Anis Byarwati
MEGAPOLITANPOS.COM, Jakarta- Ketua DPP PKS Bidang Ekonomi dan Keuangan Anis Byarwati menangapi laporan Badan Pusat Statistik (BPS) yang menyebut Indonesia kembali mengalami deflasi sebesar 0,18% pada Juli 2024 secara bulanan atau month to month (mtm). Sudah tiga bulan berturut-turut semenjak bulan Mei 2024, Indonesia mengalami penurunan harga secara umum atau dikenal dengan deflasi. "Deflasi yang dialami Indonesia (mtm) dimulai pada bulan Mei 2024 sebesar 0,03 persen, kemudian lanjut ke bulan Juni 2024 sebesar 0,08 persen, dan terakhir terjadi pada bulan Juli 2024 sebesar 0,18 persen," katanya di Jakarta (11/8/24).
Menurut anggota Komisi XI DPR RI ini laporan BPS Bulan Juli menunjukkan bahwa, kelompok makanan, minuman dan tembakau menjadi kelompok penyumbang deflasi 0,97% dan memberikan andil deflasi 0,285. "Beberapa komoditas utama penyumbang deflasi Juli 2024 adalah komoditas bawang merah, cabai merah, tomat dan daging ayam ras dengan masing-masing andil deflasi sebesar 0,11%, 0,09%, 0,07% dan 0,04%," ungkapnya.
Baca Lainnya :
- Sport City Jadi Strategi Baru Kota Tangerang Gerakkan Hotel, UMKM dan Tingkatkan Ekonomi.
- Hari Batik Nasional, BNI Dorong Perajin dan UMKM Batik Naik Kelas hingga Pasar Global
- Tangerang 10K Dongkrak Okupansi Hotel, 1.362 Kamar Terisi Dua Hari.
- Bukan Sekadar Seremoni, PTPN I Hadirkan Dampak Ekonomi bagi Ratusan UMKM
- Sinergi Fiskal Moneter: Arah Baru Industri Jasa Keuangan
Legilslator perempuan PKS ini menjelaskan, sekilas terlihat bahwa deflasi merupakan fenomena ekonomi biasa, yaitu penurunan harga-harga dalam suatu waktu tertentu, seolah-olah menguntungkan masyarakat luas. "Tetapi sesungguhnya perlu diwaspadai, penyebab terjadinya deflasi adalah permintaan barang turun sedangkan produksi meningkat. Permintaan turun bisa disebabkan terjadinya pelambatan kegiatan ekonomi yang kemudian berdampak ke penghasilan yang turun sehingga jumlah uang beredar pun menjadi berkurang," katanya.
Menurut Anis perlu terus dicermati melandainya harga karena sisi permintaan turun menjadi sinyal peringatan bagi pemerintah karena berpotensi menurunkan kontribusi konsumsi rumah tangga pada pertumbuhan ekonomi. "Jika konsumsi rumah tangga turun maka akan menekan angka pertumbuhan ekonomi. Kemudian dari sisi investasi, pelemahan permintaan juga menjadi sinyal peringatan, karena investor akan berpikir ulang untuk melakukan investasi baru atau ekspansi usaha jika permintaan melemah," ujarnya.
Wakil Ketua BAKN ini mengingatkan terjadinya deflasi tersebut konsisten dengan masalah yang krusial yang sedang dihadapi, turunnya pendapatan kelas menengah di Indonesia, sehingga menyebabkan daya beli kelas menengah mengalami penurunan berturut-turut selama enam bulan terakhir. "Bahkan mereka terpaksa menggunakan tabungan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Hal tersebut, terkonfirmasi dari laporan terbaru Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarkat (LPEM) Universitas Indonesia (UI) memperkirakan ada 8,5 juta kelas menengah yang jatuh ke kelas ekonomi yang lebih rendah," katanya.
Anggota Fraksi PKS ini menyebut Pemerintah perlu segera mengambil langkah-langkah konkret untuk mengantisipasi dampak rambatan yang ditimbulkan oleh deflasi, baik yang bersifat jangka pendak maupun panjang. "Perlu diingat Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2024 sebesar 5,05% (YoY), mengalami penurunan jika dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi pada kuartal I 2024 sebesar 5,11% (YoY)," katanya.
Anis menyebut dalam jangka pendek, perlu segera dirumuskan perlindungan sosial bagi kelas menengah untuk konsumsi, biaya pendidikan dan kesehatan serta transportasi. "Dalam jangka panjang, mempertimbangkan kembali kenaikan PPn tahun depan dan merevisi kembali UU Cipta Kerja yang tidak berpihak pada pekerja," tutupnya.(Reporter: Achmad Sholeh Alek).

.jpg)









.jpg)




