- Jakarta Fair 2026 Tembus 4 Juta Pengunjung, JIEXPO Optimistis Capai Target 6 Juta
- Ketua MUI Periuk Yang Baru KH.Muhammad Yasin ,S.Pd Silaturahmi Ke Empat Tokoh Masyarakat
- Pakar Hukum Trisakti: Ancaman terhadap Polisi Saat Bertugas Tak Bisa Ditoleransi
- Pemerintah Perkuat Keamanan Penerbangan Perintis Usai Pembakaran Pesawat AMA di Yahukimo
- DPR Apresiasi BNN dan Polda Jatim Usai Gagalkan Peredaran 3,37 Ton Ganja di Gresik
- Ratusan Mahasiswa LSPR Tampilkan Ekosistem Project-Base Learning melalui COMMFEST 2026 di SMESCO
- PB. Formula: Hukum Cenderung Tajam Ke Bawah Tapi Tumpul Ke Atas
- Maruarar Siraid : Oktober BRI Segera Luncurkan Pinjaman KUR Tanpa Bunga untuk UMKM
- Kunjungan Menteri PKP Berkah untuk Warga Blitar, Tambah Kuota 444 Unit RTLH
- Gerindra Majalengka Gaspol Kaderisasi, 100 Calon Kader Dilepas
Raker DPR RI Bahas Asumsi Dasar Dalam RUU APBN 2024

MEGAPOLITANPOS.COM, Jakarta- Rancangan APBN 2024 yang sudah dibahas panjang persoalannya bukan sekedar angka. Akan tetapi bagaimana angka-angka tersebut bisa menjadi motivasi untuk bekerja lebih baik lagi. Menurut pengamatannya, kinerja pertumbuhan ekonomi Indonesia belum memadai untuk mencapai harapan yang lebih tinggi.
Dengan target pertumbuhan ekonomi tahun 2024 sebesar 5,2 persen, maka pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam satu dekade stagnan dibawah 5 persen, dengan rerata dari 2014-2024 hanya 4,2 persen. Angka ini jauh dari optimisme pemerintah di awal untuk mencapai pertumbuhan 7 persen. Bahkan belum pernah menyentuh target yang direncanakan RPJMN hingga akhir 2024 yaitu di angka 6-6,2 persen.
Demikian yang mengemuka dalam Rapat kerja(Raker) Komisi XI DPR RI dengan Menteri Keuangan, Menteri PPN/Kepala Bappenas, Gubernur BI, Ketua DK OJK dan Kepala BPS di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Kamis 31 Agustus 2023 lalu.
Baca Lainnya :
- RDP dengan Komisi II DPR RI, Sekjen ATR/BPN Laporkan Capaian Pelaksanaan Tujuh Layanan Prioritas
- Ketua Bidang Perempuan PKS Dorong Kampus Bahas Isu Homoseksualitas Secara Objektif dan Menyeluruh
- Blok Masela Dikebut, Ateng Sutisna Ingatkan Ancaman Sosial
- Gen Z Majalengka Bersuara di Senayan, Sekolah Rusak Jadi Sorotan
- Makna Kartini Masa Kini, DPR Soroti Pendidikan Perempuan dan Ketahanan Keluarga
Rapat ini memiliki agenda Pembahasan Asumsi Dasar dalam RUU APBN 2024 dan Pengambilan keputusan Asumsi Dasar dalam RUU APBN 2024.
“Artinya jika di hitung dalam satu dekade ini (2014 sampai 2024), reratanya hanya sekitar 4%. Jika target tersebut bisa dinaikkan sedikit saja, mungkin akan lebih memacu sektor-sektor untuk tumbuh lebih tinggi juga,” kata, ketua Badan Akuntabilitas Keuangan Negara (BAKN) DPR RI, Anis Byarwati.
Dalam kesempatan tersebut, Anis mendorong Bank Indonesia untuk menekan inflasi di desa. Inflasi di desa telah menggerogoti daya beli petani yang sudah rendah. Nilai tukar petani bergerak lambat yang mencerminkan bahwa penghasilan petani dari pertanian tidak mampu memenuhi kebutuhannya.
Anis berharap kepada Bank Indonesia untuk segera mempengaruhi pergerakan suku bunga kredit. Ia menilai bahwa transmisi kebijakan moneter (jalur suku bunga) ke sektor perbankan lamban sehingga berpengaruh terhadap penyaluran kredit dan investasi. Dengan lambannya transmisi tersebut maka ekonomi kekurangan likuiditas.
Ketua DPP PKS Bidang Ekonomi dan Keuangan ini juga mendesak Otoritas Jasa Keuangan untuk fokus pada kondisi likuiditas perbankan di daerah. Menurut data OJK, beberapa provinsi mengalami keterbatasan likuiditas yang tercermin dari Loan to Deposit Ratio (LDR) di atas 100. Bahkan, beberapa provinsi memiliki LDR hingga 120. “OJK perlu menyelesaikan hal ini,” kata Anis.
Politisi senior PKS dari Jakarta Timur ini juga mencermati nilai tukar sebesar Rp15.000 mencerminkan bahwa daya saing ekonomi nasional relatif rendah. Pemerintah dan Bank Indonesia perlu menetapkan nilai tukar yang lebih kuat karena nilai tukar sangat penting bagi pemerintah, swasta dan dunia usaha. “Kegagalan mencapai nilai tukar menyebabkan anggaran cicilan bunga dan pokok utang pemerintah dan swasta melambung,” katanya.
Selanjutnya Anis juga mendorong BI untuk meningkatkan cadangan devisa yang digunakan untuk menjaga stabilitas nilai tukar. “Cadangan devisa yang rendah tidak akan mampu menjaga Rupiah lebih kokoh,” tutupnya.( Reporter: Achmad Sholeh).

















