- Koramil 09/Mauk Gelar Patroli Malam, Antisipasi Daerah Rawan Begal.
- Wujud Sinergi TNI dan Komduk, Dibangun Dengan Jaga Keamanan .
- Transformasi Bank DKI Jadi Bank Jakarta, Pemprov DKI Dorong Ekspansi Bisnis
- Kisah Inspiratif Dwi Suswanti Raih Gelar Doktor, Meski Sang Ibu Tak Lulus SD
- 174 Pelajar Ikuti Persami KKRI 2026 di Menarhanud 10/ABC.
- Rampas Mobil Taksi Online, Pelaku Berhasil Dibekuk Jatanras PMJ di Rangkasbitung
- Disambut Pangkogabwilhan II Marsdya TNI Muzafar, Komisi I DPR RI Tegaskan Komitmen Dukung Alutsista dan Kesejahteraan Prajurit.
- Kantah Kabupaten Tangerang Serahkan 8 Sertipikat Aset BMN untuk Dukung Pembangunan Jalan Tol Tangerang–Merak.
- Sinergi Koramil dan Komduk Gelar Patroli Jaga Kondusifitas Wilayah Binaan.
- Kementerian UMKM Fasilitasi 1.000 Pengusaha Mikro di Sumatera Barat
Ketua Bidang Perempuan PKS Dorong Kampus Bahas Isu Homoseksualitas Secara Objektif dan Menyeluruh

Keterangan Gambar : Ketua Bidang Perempuan dan Keluarga DPP PKS, Dr. Eko Yuliarti Siroj.( Foto Narsum).
MEGAPOLITANPOS.COM, Jakarta– Ketua Bidang Perempuan dan Keluarga DPP PKS, Dr. Eko Yuliarti Siroj, menyampaikan keprihatinannya terhadap narasi yang disampaikan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI) yang menyebut homoseksualitas sebagai sesuatu yang normal dan bukan penyimpangan.
Menurut Eko, perguruan tinggi merupakan ruang lahirnya pemikiran ilmiah yang seharusnya menghadirkan kajian secara utuh, objektif, dan bertanggung jawab. Ia menilai isu yang berkaitan dengan manusia, keluarga, dan masa depan peradaban tidak semestinya dipandang hanya dari satu sudut pandang.
"Sebagai seorang muslim, kami meyakini bahwa nilai-nilai kehidupan tidak hanya ditentukan oleh kesepakatan manusia yang dapat berubah mengikuti perkembangan zaman, tetapi juga berpijak pada tuntunan Allah SWT sebagai Pencipta manusia yang paling mengetahui fitrah, kebutuhan, dan jalan terbaik bagi kehidupan manusia," ujar Eko di Jakarta, Rabu (1/7/2026).
Baca Lainnya :
Eko menegaskan bahwa kebebasan akademik harus berjalan beriringan dengan tanggung jawab moral dan intelektual. Menurutnya, setiap narasi yang disampaikan kepada publik, khususnya oleh institusi akademik, perlu memberikan ruang bagi beragam perspektif, termasuk agama, budaya Indonesia, kesehatan masyarakat, serta dampaknya terhadap ketahanan keluarga.
Ia juga menyoroti berbagai kajian kesehatan masyarakat yang menunjukkan adanya tantangan kesehatan tertentu. Menurut Eko, data epidemiologi dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menunjukkan bahwa kelompok lelaki yang berhubungan seks dengan lelaki (LSL) memiliki risiko infeksi HIV dan sejumlah penyakit menular seksual yang lebih tinggi dibandingkan populasi umum. Karena itu, ia menilai fakta tersebut perlu menjadi bagian dari diskursus ilmiah dalam penyusunan materi edukasi.
Selain aspek kesehatan, Eko mengajak dunia akademik untuk mengkaji berbagai implikasi sosial, psikologis, budaya, serta ketahanan keluarga secara lebih komprehensif. Menurutnya, pembahasan mengenai orientasi seksual tidak cukup hanya dilihat dari perspektif penerimaan sosial, tetapi juga perlu mempertimbangkan nilai-nilai agama, norma budaya bangsa, dan tujuan pembangunan keluarga sebagai fondasi masyarakat Indonesia.
"Kampus memiliki tanggung jawab besar dalam membangun tradisi berpikir kritis. Karena itu, setiap isu yang sensitif hendaknya dikaji secara utuh, menghadirkan berbagai perspektif ilmiah, sosial, budaya, hukum, dan agama, sehingga mahasiswa memperoleh pemahaman yang seimbang dan tidak parsial," katanya.
Eko berharap seluruh sivitas akademika terus menjaga tradisi akademik yang objektif, terbuka terhadap dialog ilmiah, serta tetap menghormati nilai-nilai Pancasila, konstitusi, dan karakter religius masyarakat Indonesia. Menurutnya, perbedaan pandangan seharusnya menjadi ruang untuk memperkaya kajian ilmiah, bukan menghilangkan perspektif yang hidup dan diyakini masyarakat.(AS/MP).





.jpg)


.jpg)
.jpg)






