- 117 Kilometer Jalan Dikebut, Warga Majalengka Sambut Mudik Tanpa Waswas
- PWHI Surati DPKAD Kab.Tangerang Terkait Dugaan Penyalahgunaan Lahan Fasos Fasum RW 09 Kel. Kutabumi
- Bencana Alam Datang Tanpa Permisi, Sertipikat Elektronik Jadi Pilihan karena Beri Rasa Aman
- Kembangkan Aplikasi Dashboard SDM, Sekjen ATR/BPN: Proses Mutasi dan Promosi Jadi Lebih Efektif dan Efisien
- BNN Gandeng Citilink, Perangi Narkotika Jalur Udara
- Safari Ramadan 1447 H, Bupati Eman Suherman Hadirkan Kehangatan dan Semangat SAE Keun di Putridalem
- Kolaborasi Lintas Komunitas, KRESHNA Foundation Dorong Strokers Sehat, Produktif, dan Sejahtera
- Gabungan Ormas dan Relawan Gelar Buka Puasa Tegaskan Komitmen Jaga Jakarta
- Fraksi PDI-P Terima Lima Raperda, Soroti Infrastruktur hingga Ketahanan Pangan
- Fraksi Demokrat Terima dan Siap Bahas Lima Raperda Strategis di Paripurna DPRD Barito Utara
APBN Defisit Rp479,7 Triliun di Oktober 2025, DPR Minta Kemenkeu Genjot Pendapatan dan Percepat Belanja

Keterangan Gambar : anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi PKS, Anis Byarwati
MEGAPOLITANPOS.COM, Jakarta — Kementerian Keuangan melaporkan realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mengalami defisit sebesar Rp479,7 triliun hingga Oktober 2025, atau 2,02 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Defisit terjadi karena pendapatan negara belum mampu mengimbangi realisasi belanja pemerintah.
Berdasarkan laporan Kemenkeu, pendapatan negara sampai akhir Oktober 2025 mencapai Rp2.113,3 triliun, atau 73,7 persen terhadap outlook APBN 2025. Sementara itu, realisasi belanja negara telah mencapai Rp2.593 triliun, atau 73,5 persen dari outlook 2025.
Menanggapi hal tersebut, Anggota DPR RI sekaligus anggota Badan Anggaran, Anis Byarwati, menyampaikan apresiasi sekaligus sejumlah catatan kritis terhadap kinerja APBN 2025.
Baca Lainnya :
- Saan Mustopa: Safari Ramadhan Tumbuhkan Jiwa Nasionalisme Bung Karno
- Anis Byarwati Hadiri Gema Ramadan Menwa Jayakarta, Salurkan 100 Paket Sembako untuk Warga
- Nilai 32,40 dari KLH, Ateng Sutisna: Sumedang Sedang Berdiri di Bibir Krisis Sampah!
- Galih Dimuntur Serukan Perlawanan terhadap Polarisasi, Empat Pilar Jadi Benteng Bangsa
- Perkuat Pencegahan Stunting, Posyandu RW 03 Batu Ampar Terima Bantuan Sarana dari Dr. Anis Byarwati
“Jika dibandingkan dengan Oktober 2024, pendapatan negara menurun sebesar 6,5 persen. Tahun lalu realisasi mencapai 80,2 persen, sementara sekarang hanya 73,7 persen,” ujar Anis di Komplek Parlemen DPR RI, Senayan, Jakarta, Sabtu (22/11/2025).
Belanja Negara Melambat
Anis juga menyoroti perlambatan realisasi belanja negara. Ia mencatat bahwa belanja negara Oktober 2025 73,5 persen dari outlook lebih rendah dibandingkan Oktober 2024 yang mencapai 74,3 persen.
“Ada penurunan 0,8 persen. Padahal semangat percepatan belanja terus didengungkan. Namun data berbicara sebaliknya,” ungkapnya.
Menurutnya, pemerintah harus mendorong penyerapan anggaran agar lebih cepat demi mendorong daya ungkit ekonomi.
“Realisasi dan eksekusi yang lambat akan mereduksi fungsi stimulus fiskal. Pemerintah harus bekerja lebih ekstra karena ini menyangkut kondisi ekonomi, harapan, dan kesejahteraan rakyat,” tegasnya.
Defisit Meningkat Dibanding Tahun Lalu
Dari sisi fiskal, defisit APBN hingga Oktober 2025 lebih besar dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pada Oktober 2024, defisit tercatat 1,37 persen terhadap PDB, sementara tahun ini melebar menjadi 2,02 persen.
“Defisit ini terjadi karena pendapatan negara lebih rendah dibanding belanja negara. Kemenkeu harus bekerja lebih keras untuk mengoptimalkan pendapatan di tengah ketidakpastian global,” katanya.
Politisi PKS tersebut juga mengingatkan bahwa target penurunan defisit anggaran merupakan amanat penting dari Presiden Prabowo Subianto saat penyampaian RUU APBN dan Nota Keuangan di DPR pada Agustus 2025.
“Menteri Keuangan harus mengupayakan amanat presiden tersebut seoptimal mungkin,” tutup Anis.(Reporter: Achmad Sholeh Alek).
















