- PRSI: Prodi Robotika dan AI UHB Jadi Langkah Besar untuk Masa Depan Indonesia
- Dunia Pers Berduka: Sekjen PWI Zulmansyah Sekedang Meninggal Dunia di Jakarta
- Pelaku Pembunuhan Wanita di Serpong Utara Dibekuk Resmob PMJ Kurang dari 24 Jam
- Pramono Anung Tekankan Sinergi dan Ekspansi BUMD demi Jakarta Global City
- Dorong Peran BUMD DKI sebagai Pilar Ekonomi, Pemprov DKI Jakarta Gelar BUMD Leaders Forum
- Pemkab Barito Utara Komitmen Dukung Cegah Karhutla, Sekda Muhlis Hadiri Apel Siaga Karhutla 2026
- Polda Metro Bongkar 6 Lokasi Praktik Pengoplosan Gas Subsidi Beromzet hingga Miliaran Rupiah
- Kemnaker Gandeng TikTok, Perkuat Talenta Ekonomi Digital dan Buka Peluang Kerja Baru
- Kodim Tangerang Gelar Patroli Dialogis, Ajak Warga Bersatu Cegah Kriminalitas
- Koramil 01/Tgr Bersama Warga, Patroli Malam Ciptakan Keamanan Wilayah
PRSI: Prodi Robotika dan AI UHB Jadi Langkah Besar untuk Masa Depan Indonesia
Selain memperkuat pendidikan STEM, prodi ini juga diharapkan mampu menjembatani kebutuhan industri dan dunia akademik.

Keterangan Gambar : Sekretaris Jenderal PRSI, Dr. (c) Dwi Nugroho Marsudianto, S.Sos., M.M saat menyampaikan pandangannya terkait penguatan ekosistem robotika dan kecerdasan buatan di Indonesia.
JAKARTA – Persatuan Robotika Seluruh Indonesia (PRSI) mengapresiasi dan mendukung penuh dibukanya Program Studi S1 Teknik Robotika dan Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI) di Universitas Harapan Bangsa, Purwokerto, Jawa Tengah. Kehadiran program studi ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat pengembangan sumber daya manusia di bidang teknologi masa depan, khususnya robotika dan kecerdasan buatan, serta memperkuat pendidikan berbasis STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) di Indonesia. Pendaftaran mahasiswa baru Program Studi S1 Teknik Robotika dan Kecerdasan Buatan tahun akademik 2026–2027 telah resmi dibuka oleh Universitas Harapan Bangsa.
PRSI menilai langkah Universitas Harapan Bangsa ini relevan dengan arah kebijakan pemerintah yang terus mendorong penguatan industri berbasis teknologi tinggi. Robotika dan AI kini telah menjadi tulang punggung berbagai sektor, mulai dari manufaktur, kesehatan, pertanian presisi, hingga pertahanan. Hal ini juga sejalan dengan pentingnya penguatan kompetensi STEM sebagai fondasi dalam menghadapi perkembangan teknologi modern. Di sektor industri, penggunaan robot industri di Asia Tenggara meningkat signifikan dalam lima tahun terakhir, sementara adopsi AI di perusahaan Indonesia terus tumbuh seiring kebutuhan efisiensi dan inovasi.
Baca Lainnya :
- PRSI: Prodi Robotika dan AI UHB Jadi Langkah Besar untuk Masa Depan Indonesia
- Audiensi PRSI di BRIN, Awali Penguatan Kolaborasi Strategis
- Implementasi Robotika untuk Negeri di Padang, Siswa MAN 1 Tunjukkan Prestasi Gemilang
- Lukman Abdul Fatah Kembangkan CNC Multifungsi, PRSI Perkuat Ekosistem Robotika Nasional
- PRSI dan Pemprov Jabar Bahas TechnoFest 2026 serta Pengembangan Ekosistem Robotika dan AI
“Pembukaan Program Studi S1 Teknik Robotika dan Kecerdasan Buatan ini merupakan langkah maju yang sangat strategis. Kami berharap ke depan program ini mampu membangun ekosistem robotika yang kuat. Lebih dari itu, kami optimistis langkah ini akan memberikan kontribusi nyata dalam memajukan perkembangan robotika dan kecerdasan buatan di Indonesia,” ujar Sekretaris Jenderal PRSI, Dr. (c) Dwi Nugroho Marsudianto, S.Sos., M.M di Jakarta, Sabtu (18/4/26).
PRSI menegaskan kolaborasi antara institusi pendidikan, organisasi, dan industri menjadi kunci utama dalam menciptakan inovasi dan daya saing bangsa di era transformasi digital. Dengan hadirnya program studi ini, diharapkan lahir generasi muda yang kompeten, kreatif, serta memiliki fondasi STEM yang kuat untuk menghadapi tantangan teknologi masa depan.
Data Kementerian Komunikasi dan Digital menunjukkan kebutuhan talenta digital Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 9 juta orang hingga 2030. Sementara itu, laporan industri global seperti dari World Economic Forum juga mencatat bahwa bidang AI, robotika, dan otomasi menjadi salah satu sektor dengan pertumbuhan pekerjaan tercepat di dunia. Kondisi ini menuntut dunia pendidikan untuk bergerak lebih adaptif, termasuk menghadirkan program studi yang relevan dengan kebutuhan industri.
“Program studi seperti ini harus mampu menjembatani teori dan praktik. Lulusan diharapkan tidak hanya paham konsep, tetapi juga mampu menciptakan solusi nyata yang bisa langsung diterapkan di industri,” tegas Dwi Nugroho.

PRSI juga memandang momentum ini sebagai bagian dari upaya besar membangun kemandirian teknologi nasional. Di tengah persaingan global yang semakin ketat, penguasaan robotika dan kecerdasan buatan menjadi faktor penentu dalam menjaga daya saing industri sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi. Peran perguruan tinggi dalam mencetak talenta unggul menjadi semakin krusial, terutama dalam menjembatani kebutuhan industri dengan pengembangan ilmu pengetahuan berbasis teknologi.
“Ini adalah investasi jangka panjang bagi bangsa. Ketika pendidikan, riset, dan industri berjalan selaras, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi pemain penting dalam ekosistem robotika dan AI dunia,” pungkas Dwi Nugroho.















