- Hadiri Hardiknas 2026, Ketua DPRD Barito Utara Perkuat Komitmen Pendidikan
- Bupati Barut Dalam Moment Hardiknas, Sekolah Jadi Pilar Integrasi Sosial Melalui Pendidikan Inklusif dan Holistik
- Hardiknas 2026 : Fajar Muh Shidik Gugat Pendidikan Baik atau Kita Terbiasa Rusak?
- Kadisdik Majalengka : Hayu Saekola Dorong Revolusi Lingkungan Sekolah melalui Geber
- Kecam Keras 9 Pasar di Kota Blitar Sepi, Disperindag Harus Buang Konsep Cara Lama
- Proyek Jaringan Irigasi Disorot, Dugaan Penyimpangan Menguat di Majalengka
- Digerebek di Parkiran Alfamart! Pengedar Obat Keras Ilegal Diciduk di Talaga
- Bupati Eman : Prestasi IPM 71,37 Tercapai, Tapi ATS Jadi PR Besar
- Gagal Kabur! Pencuri Motor Diringkus Warga Usai Kepergok Dorong Scoopy
- Ratusan Pil Obat Keras Digulung! Satres Narkoba Majalengka Bongkar Peredaran Ilegal di Kampung
Bupati Eman : Prestasi IPM 71,37 Tercapai, Tapi ATS Jadi PR Besar

Keterangan Gambar : Bupati Majalengka, H Eman Suherman dan Wakil Bupati Majalengka Dena M Ramdhan
MEGAPOLITANPOS.COM MAJALENGKA - Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 di Kabupaten Majalengka berubah menjadi panggung refleksi tajam. Di satu sisi, prestasi membanggakan ditorehkan. Namun di sisi lain, fakta getir tentang ribuan anak yang belum mengenyam pendidikan justru mencuat ke permukaan.
Bupati Majalengka, Eman Suherman, saat bertindak sebagai pembina upacara di Lapangan GGM, Sabtu (2/5/2026), secara terbuka memaparkan dua wajah dunia pendidikan daerahnya dinilai kemajuan signifikan sekaligus tantangan serius yang belum terselesaikan.
Di hadapan Wakil Bupati, pimpinan DPRD, Forkopimda, hingga jajaran pendidikan, Eman mengungkapkan bahwa Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Majalengka tahun 2026 menembus angka 71,37 melonjak dibandingkan tahun 2024 dan menjadikan Majalengka sebagai daerah dengan IPM tertinggi di wilayah Ciayumajakuning.
Baca Lainnya :
- Hardiknas 2026 : Fajar Muh Shidik Gugat Pendidikan Baik atau Kita Terbiasa Rusak?
- Kadisdik Majalengka : Hayu Saekola Dorong Revolusi Lingkungan Sekolah melalui Geber
- Digerebek di Parkiran Alfamart! Pengedar Obat Keras Ilegal Diciduk di Talaga
- Bupati Eman : Prestasi IPM 71,37 Tercapai, Tapi ATS Jadi PR Besar
- Gagal Kabur! Pencuri Motor Diringkus Warga Usai Kepergok Dorong Scoopy
"Ini bukti nyata bahwa investasi di sektor pendidikan mulai membuahkan hasil," tegasnya.
Namun, pernyataan itu seketika diimbangi dengan fakta mencengangkan. Di tengah capaian tersebut, masih terdapat 10.374 Anak Tidak Sekolah (ATS) pada tahun ajaran 2025/2026.
"Ini pekerjaan rumah besar. Saya tidak ingin ada lagi anak Majalengka yang kehilangan haknya untuk sekolah," ujar Eman dengan nada tegas.
Data pendidikan 2026 memang menunjukkan tren positif. Rata-rata Lama Sekolah (RLS) meningkat menjadi 7,81 dari sebelumnya 7,53. Angka Partisipasi Murni (APM) PAUD mencapai 90,90 persen, SD/MI 90,79 persen, SMP/MTs 85,92 persen, serta Angka Partisipasi Kasar (APK) di angka 44,19 persen. Namun, angka ATS yang masih tinggi menjadi alarm keras bagi semua pihak.
Kepala Dinas Pendidikan Majalengka, Muhamad Umar Ma'ruf, menegaskan pihaknya akan bergerak cepat menindaklanjuti instruksi Bupati dengan strategi jemput bola.
"Kami akan memperkuat sinergi lintas sektor. Anak-anak yang putus sekolah harus kita tarik kembali ke sistem pendidikan," ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa peningkatan angka statistik belum cukup jika tidak diiringi kualitas lulusan yang kompetitif.
"RLS naik itu positif, tapi kualitas harus menjadi prioritas agar generasi kita mampu bersaing," tambahnya.
Sementara itu, Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Majalengka, Iman Pramudiya, memberikan catatan kritis. Ia menilai capaian IPM patut diapresiasi, namun persoalan ATS memerlukan penanganan luar biasa.
"Angka di atas 10 ribu itu tidak kecil. Ini harus ditangani secara masif dan kolaboratif," ujarnya.
Menurutnya, solusi tidak cukup hanya dari pemerintah. Keterlibatan masyarakat, dunia usaha, hingga tokoh lokal menjadi kunci untuk memutus rantai anak putus sekolah. Ia juga mendorong penguatan pendidikan nonformal sebagai jalur alternatif.
Hardiknas 2026 di Majalengka pun tak sekadar seremoni. Ia menjadi cermin keras di tengah prestasi yang membanggakan, masih ada ribuan anak yang tertinggal. Sebuah pengingat bahwa perjuangan pendidikan belum selesai dan tidak boleh berhenti. ** (Agit)
















