- Mensos Gus Ipul Minta Pejabat Baru Fokus Validasi Data dan Berantas Korupsi
- Kinerja BNI Melesat, Transformasi Digital dan BRAVE Jadi Motor Pertumbuhan
- PTPN I Percepat Optimalisasi Aset, Siapkan Mesin Pertumbuhan Baru untuk Ketahanan Pangan
- Perkuat Tata Kelola Pemerintahan dan Pelayanan Publik, Pemkab Barito Utara Laksanakan Kaji Tiru ke DIY
- Elim Tyu Samba Dampingi Ketua MPR RI Ziarah Ke Makam Bung Karno
- Ateng Sutisna dan Viking Majalengka Gelar Festival Nobar Persib Meriah
- Dari Mangrove hingga Internet Publik, Program PLN di Pulau Sabira Raih Predikat Platinum
- BMKG Prediksi Jakarta Cerah hingga Cerah Berawan Sepanjang Senin, Suhu Capai 33 Derajat Celsius
- Tanpa Kedip, PLN Jaga Keandalan Listrik Zikir dan Doa Kebangsaan di Monas Berjalan Sukses
- Peluncuran Buku Abdul Rivai Ras Tegaskan Peran Strategis PTPN I bagi Indonesia
Kecam Keras 9 Pasar di Kota Blitar Sepi, Disperindag Harus Buang Konsep Cara Lama

Keterangan Gambar : Sekretaris Komisi 2 DPRD Kota Blitar, Nuhan Eko Wahyudi
MEGAPOLITANPOS.COM, Blitar – Kondisi pasar Legi kota Blitar semakin hari semakin mengenaskan, karuan saja pusat perbelanjaan sebagai pasar tradisional dan pusat kuliner di Kota Blitar yang semakin lengang ibarat mati enggan hiduppun tak mau. Sebuah bangunan megah yang menghabiskan anggaran milyaran rupiah ini banyak menjadi sarang binatang malam sejenis kelelawar dan juga hunian tikus.
Atas hal ini termasuk pasar legi mendapat sorotan tajam Legislatif dari Fraksi PPP yang juga Sekretaris Komisi 2 DPRD Kota Blitar, Nuhan Eko Wahyudi, Nuhan mengemukakan keprihatinannya setelah melihat lesunya aktivitas ekonomi di sembilan pasar utama yang menjadi tumpuan hidup warga.
Adapun sembilan pasar yang disorot oleh Nuhan meliputi: Pasar Legi, Pasar Pon, Pasar Wage, Pasar Pahing, Pasar Dimoro, Pasar Templek, Pasar Sepeda, Pasar Loak, hingga Pusat Kuliner.
Baca Lainnya :
- Endro Hermono Anggota Komisi VIII DPR-RI Sosialisasikan Keuangan Ibadah Haji Praktis Cepat dan Terjangkau
- Pari Purna DPRD Kota Blitar Pilih Sabotase Absen, Ini Alasannya
- Pin Garuda Emas PAW Hendi Sang Jurnalis Siap Laksanakan Tugas Partai
- Ketua KONI Kota Blitar Bersama Jajaran Pengurus Bahas Penyamaan Visi Misi
- Tan Ngi Hing : Dukung Rasionalisasi Platform Anggaran MBG Rp270 Trilyun 2027
Nuhan menegaskan bahwa sepinya pasar-pasar tersebut tidak bisa terus-menerus dikambinghitamkan pada faktor belanja daring (online). Menurutnya, ada masalah mendasar pada manajemen dan inovasi yang dilakukan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Blitar.
"Hasil pantauan kami, sembilan pasar ini mengalami tren penurunan pengunjung yang mengkhawatirkan. Disperindag tidak boleh 'tidur'. Harus ada langkah luar biasa, bukan sekadar pemeliharaan rutin. Jika pola pengelolaannya masih menggunakan cara lama, pasar-pasar kita akan habis tergilas zaman," tegas Nuhan Eko Wahyudi dalam keterangannya, Sabtu (02/05/26).
Kritik Terhadap Pengelolaan Pasar Tematik dan Kuliner Politisi kawakan ini menyoroti secara khusus pasar-pasar tematik seperti Pasar Sepeda, Pasar Loak, dan Pusat Kuliner yang seharusnya memiliki daya tarik wisata tersendiri.
"Pasar Sepeda dan Pasar Loak itu punya segmentasi hobi, harusnya bisa dibuatkan festival atau bursa rutin agar orang luar daerah mau datang ke Blitar. Begitu juga dengan Pusat Kuliner kita, fasilitas sudah ada tapi kalau minim promosi dan kreativitas, ya akan tetap sepi seperti sekarang," lanjutnya.
Desakan Revitalisasi Konsep
Sebagai Sekretaris Komisi yang membidangi ekonomi, Nuhan mendesak pemerintah kota melalui Disperindag untuk segera melakukan revitalisasi konsep pengelolaan pasar, yang meliputi:
1. Digitalisasi Pasar: Membantu pedagang tradisional masuk ke ekosistem digital.
2. Perbaikan Kenyamanan: Menjamin kebersihan dan tata ruang pasar agar tidak kalah dengan ritel modern.
3. Aktivasi Event: Menyelenggarakan agenda rutin di pasar-pasar yang sepi untuk memancing keramaian.
"Kami di Komisi 2 akan segera memanggil Disperindag untuk memberikan penjelasan terkait strategi mereka menyelamatkan sembilan pasar ini. Kami ingin melihat roadmap yang jelas, bukan sekadar wacana," tambah Nuhan.
Nuhan juga berencana mengajak anggota Komisi 2 lainnya untuk turun langsung ke lapangan (sidak) guna mendengarkan aspirasi para pedagang yang kian terhimpit. "Kasihan pedagang kalau kita hanya diam. Retribusi ditarik, tapi keramaian pasar tidak diciptakan," pungkasnya. ( za/mp )











.jpg)




