- Menkop Dorong Transformasi Komunitas Ekraf Malang Jadi Koperasi
- Bank Jakarta dan ITB Perkuat Kolaborasi Pendidikan, Riset, dan Pengembangan Talenta
- Momen Istimewa Hari Juang Polri 2026, Para Mantan Kapolri dan Wakapolri Berkumpul di Mabes Polri
- Jalan Sangego Selatan Kota Tangerang Diperbaiki, Pemkot Mulai Terapkan Contraflow
- Menteri UMKM Ajak Mahasiswa Berwirausaha dan Ciptakan Lapangan Kerja
- Ciputra Life Bukukan Laba Rp99,3 Miliar, Premi Semester I 2026 Tumbuh 53 Persen
- Silaturahmi ke PDM Depok, Kapolres Christian Rony Putra Ajak Muhammadiyah Perkuat Kamtibmas
- Bursa Wirausaha Unggulan Hadir di Sumut, Kementerian UMKM Buka Akses Pasar dan Pembiayaan
- Dari Jakarta ke Flores, Kemenhub Salurkan Bantuan Korban Gempa Lewat Laut dan Udara
- Bukan Sekadar Gangguan Sinyal, KRL Bogor-Jakarta Terganggu akibat Insiden di Tebet
Tak Bisa Andalkan TPA! HPSN 2026, DLH Majalengka Gaspol Bentuk 26 Bank Sampah Desa

Keterangan Gambar : Foto : dok. kominfo
MEGAPOLITANPOS.COM MAJALENGKA - Ancaman sampah kian nyata. Produksi sampah di Kabupaten Majalengka menembus angka sekitar 900 ton per hari, sementara yang mampu tertangani di TPA Heuleut baru sekitar 120 ton per hari. Situasi ini menjadi alarm keras bagi semua pihak.
Momentum Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2026 pun tak dibiarkan berlalu begitu saja. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Majalengka langsung "tancap gas" dengan mengukuhkan 26 Bank Sampah Unit (BSU) desa serta meluncurkan inovasi EMAS PKK bersamaan Gerakan Bersih (Geber) Jum'at di Kecamatan Sukahaji. Jumat (20/2/2026).
Kepala DLH Kabupaten Majalengka, Wawan Sarwanto, menegaskan bahwa pola lama mengandalkan pengangkutan ke TPA tidak lagi cukup.
Baca Lainnya :
- Warung Tiwul hingga Sate Taichan Ludes, UMKM Rasakan Manfaat Kumpul Bersama Rakyat
- Kumpul Bersama Rakyat, Menteri UMKM Ajak Perkuat Solidaritas dan Satukan Semangat Kemerdekaan
- Komisi Ii DPRD Kota Tangerang Apresiasi Program CKG
- Komisi II DPRD Minta Kemarau Agar Bupati Blitar Fokus Pola Pertanian Gogorancah
- Ineu Bongkar Alasan Jabar Pinjam Rp 3,4 Triliun di Tengah Defisit
"Kita tidak bisa terus menerus mengandalkan TPA. Kalau sampah tidak dikurangi dan dipilah dari rumah tangga, maka beban di hilir akan terus menumpuk. Kuncinya ada di sumbernya," tegas Wawan.
Menurutnya, pengukuhan 26 BSU desa bukan sekadar seremoni, melainkan strategi konkret untuk memangkas residu sejak dari hulu.
"Sampah harus selesai di desa. Bank sampah bukan pajangan. Ini harus jadi gerakan nyata yang memberi dampak lingkungan sekaligus nilai ekonomi bagi masyarakat," ujarnya.
DLH menegaskan, perubahan perilaku masyarakat menjadi harga mati dalam upaya mengatasi persoalan sampah yang kian kompleks. Tanpa keterlibatan aktif warga dalam memilah sampah organik dan anorganik sejak dari rumah, persoalan ini akan terus berulang.
"HPSN 2026 ini harus menjadi titik balik. Edukasi dan pendampingan akan terus kami lakukan. Tapi keberhasilan ada di tangan masyarakat. Kalau sudah terbiasa memilah, persoalan sampah akan jauh lebih ringan," tambahnya.
Dengan penguatan Bank Sampah Unit di 26 desa serta kolaborasi bersama PKK melalui program EMAS PKK, DLH optimistis Majalengka mampu menekan volume residu ke TPA dan membangun sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang berkelanjutan.
Tantangannya kini, konsistensi dan kesadaran bersama untuk menjadikan perubahan perilaku sebagai budaya, bukan sekadar slogan tahunan. ** (Agit)





.jpg)











