- Dua Pria Pelaku Pembunuhan Berencana di Pinang Ranti Jaktim Berhasil Ditangkap
- Manfaatkan PTSL untuk Urus Sertipikat, Masyarakat: Proses Dipermudah.
- Menkop Kukuhkan Prof. Yudi Azis Sebagai Rektor IKOPIN University
- Anggaran BPJS Kesehatan Disorot DPRD Kota Bogor
- Anggaran BPJS Kota Bogor Menjadi Sorotan DPRD Kota Bogor
- Soal Video AI Prof Djokosoetono, Mintarsih: Tiga Pendiri Blue Bird Hilang
- Jangkau Lokasi Sempit, Babinsa Dan Komduk Patroli Malam Gunakan Motor.
- TMMD 130 Jadi Kado Istimewa HUT Kab Tangerang Ke-394.
- Banten Investment Forum 2026 Dorong Investasi Asing dan Domestik, Pacu Ekonomi Daerah.
- BRI Life Perkuat Integrasi Layanan Kesehatan Lewat Kerja Sama KAPJ
Tak Bisa Andalkan TPA! HPSN 2026, DLH Majalengka Gaspol Bentuk 26 Bank Sampah Desa

Keterangan Gambar : Foto : dok. kominfo
MEGAPOLITANPOS.COM MAJALENGKA - Ancaman sampah kian nyata. Produksi sampah di Kabupaten Majalengka menembus angka sekitar 900 ton per hari, sementara yang mampu tertangani di TPA Heuleut baru sekitar 120 ton per hari. Situasi ini menjadi alarm keras bagi semua pihak.
Momentum Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2026 pun tak dibiarkan berlalu begitu saja. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Majalengka langsung "tancap gas" dengan mengukuhkan 26 Bank Sampah Unit (BSU) desa serta meluncurkan inovasi EMAS PKK bersamaan Gerakan Bersih (Geber) Jum'at di Kecamatan Sukahaji. Jumat (20/2/2026).
Kepala DLH Kabupaten Majalengka, Wawan Sarwanto, menegaskan bahwa pola lama mengandalkan pengangkutan ke TPA tidak lagi cukup.
Baca Lainnya :
- Banten Investment Forum 2026 Dorong Investasi Asing dan Domestik, Pacu Ekonomi Daerah.
- Kejari Kota Tangerang Musnahkan BB 210 Perkara, Pidum Dan Pidsus.
- Pengeroyokan Brutal di Majalengka, 4 Orang Diamankan, 3 Diburu
- Harga Cabai Bikin Dapur Tertekan, Bupati Majalengka Ajak Warga Menanam
- Wamen ATR/Waka BPN: Kepastian Pertanahan dan Tata Ruang Jadi Fondasi Investasi.
"Kita tidak bisa terus menerus mengandalkan TPA. Kalau sampah tidak dikurangi dan dipilah dari rumah tangga, maka beban di hilir akan terus menumpuk. Kuncinya ada di sumbernya," tegas Wawan.
Menurutnya, pengukuhan 26 BSU desa bukan sekadar seremoni, melainkan strategi konkret untuk memangkas residu sejak dari hulu.
"Sampah harus selesai di desa. Bank sampah bukan pajangan. Ini harus jadi gerakan nyata yang memberi dampak lingkungan sekaligus nilai ekonomi bagi masyarakat," ujarnya.
DLH menegaskan, perubahan perilaku masyarakat menjadi harga mati dalam upaya mengatasi persoalan sampah yang kian kompleks. Tanpa keterlibatan aktif warga dalam memilah sampah organik dan anorganik sejak dari rumah, persoalan ini akan terus berulang.
"HPSN 2026 ini harus menjadi titik balik. Edukasi dan pendampingan akan terus kami lakukan. Tapi keberhasilan ada di tangan masyarakat. Kalau sudah terbiasa memilah, persoalan sampah akan jauh lebih ringan," tambahnya.
Dengan penguatan Bank Sampah Unit di 26 desa serta kolaborasi bersama PKK melalui program EMAS PKK, DLH optimistis Majalengka mampu menekan volume residu ke TPA dan membangun sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang berkelanjutan.
Tantangannya kini, konsistensi dan kesadaran bersama untuk menjadikan perubahan perilaku sebagai budaya, bukan sekadar slogan tahunan. ** (Agit)







.jpg)



.jpg)




