- Kakek Mujiran Resmi Bebas, PTPN I Tegaskan Komitmen BUMN Humanis
- Keluhan Pasien Meningkat, DPRD dan Pemkab Barito Utara Evaluasi Layanan RSUD dan BPJS
- Polemik Jabatan Ketua KONI Kota Blitar, Ini Kata Hendi Priono
- Pemerintah Siapkan 34 Aglomerasi Waste to Electricity, Depok dan Bogor Jadi Prioritas Pengolahan Sampah Modern
- Loyalitas Nasabah Diganjar Hadiah Mewah, BNI Kembali Hadirkan Rejeki wondr 2026
- Kementan Pastikan Pupuk Subsidi Tepat Sasaran Melalui Digitalisasi Data Petani
- Ketua Dewan Pembina PP MES Ma,ruf Amin Lantik Pengurus Masyarakat Ekonomi Syariah Periode 2026-2031
- Blok Masela Dikebut, Ateng Sutisna Ingatkan Ancaman Sosial
- Menkop Ajak Lulusan Universitas Trilogi Agar Jadi Motor Penggerak KDKMP
- BRI Life Gelar Pelepasan Tukik, Dukung Konservasi Penyu di Pantai Kuta Bali
RS Srengat Disorot Publik Paska Tewasnya Siswa MTs Bacem Pelayanan Dianggap Jelek dan Jadi Tamparan Dunia Medis

MEGAPOLITANPOS.COM, Blitar – Kejadian tewasnya siswa MTs Plus Al Mahmud Bacem Ponggok menuai kritikan tajam, atas kasus yang menimpa siswa berinisial K hingga meninggal dunia diduga terjadi akibat buruknya pelayanan di Rumah Sakit Umum (RSU) Srengat yang dibanggakan publik.
Tragis dialami oleh korban yang terluka parah akibat kepalanya terkena lemparan kayu berpaku datang ke IGD rumah sakit tersebut sekitar pukul 07.00 WIB dalam kondisi pendarahan lamban dalam. tindakan pelayanan, tim medis di Instalasi Gawat Darurat (IGD) malah sibuk berdiskusi soal pasien yang kondisinya sedang kritis.
Pengakuan oleh pengantar pasien ( korban) mengaku sangat kecewa karena korban tidak segera mendapatkan perawatan ber jam - jam, sehingga Akhirnya, sekitar pukul 14.00 WIB, yang pada ahirnya korban dirujuk ke RSUD Pare Kediri karena dianggap tidak mampu ditangani oleh tim medis RSUD Srengat.
Baca Lainnya :
- Kakek Mujiran Resmi Bebas, PTPN I Tegaskan Komitmen BUMN Humanis
- Keluhan Pasien Meningkat, DPRD dan Pemkab Barito Utara Evaluasi Layanan RSUD dan BPJS
- Polemik Jabatan Ketua KONI Kota Blitar, Ini Kata Hendi Priono
- Pemerintah Siapkan 34 Aglomerasi Waste to Electricity, Depok dan Bogor Jadi Prioritas Pengolahan Sampah Modern
- Loyalitas Nasabah Diganjar Hadiah Mewah, BNI Kembali Hadirkan Rejeki wondr 2026
"Seandainya pihak rumah sakit memberikan tindakan dan pelayanan lebih awal, kemungkinan besar nyawa korban bisa diselamatkan."ungkap salah satu ustadz yang mengantar almarmum.
Ditambahkan pihak rumah sakit di Kediri juga menyayangkan kondisi korban yang belum mendapatkan pertolongan medis sejak pagi, meski kepala korban mengalami pendarahan hebat.
"Kondisi korban seperti ini tidak memungkinkan untuk dilakukan operasi. Mestinya di rumah sakit Srengat korban sudah mendapatkan pertolongan pertama," ujar salah satu tim medis RS Kediri, yang ditirukan oleh ustadz tersebut.
Korban diketahui merupakan siswa MTs Plus Al-Mahmud dan menjadi korban kekerasan oleh gurunya. Insiden ini bermula saat korban masih bermain di halaman sekolah ketika teman-temannya sedang sholat Dhuha, yang membuat sang guru jengkel. Guru tersebut melemparkan kayu berpaku yang biasa digunakan untuk mengumpulkan nota, dan kayu itu mengenai kepala korban hingga berakibat fatal.
Sementara itu, Direktur RSU Srengat, dr. Baihaqi, memberikan klarifikasi terkait lambannya pelayanan.
"Tim IGD sudah melakukan upaya penanganan kegawatdaruratan. Jika harus dirujuk, kami upayakan stabilisasi transportasi pasien, sehingga rujukan dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi pasien," jelasnya.
Kasus ini masih dalam proses hukum dan sedang diselidiki lebih lanjut oleh pihak kepolisian. Peristiwa naas itu terjadi pada 15 September sekitar pukul 06.00 WIB, bocah malang yang masih duduk di bangku klas 2 ini meregang nafas akibat tindakan arogansi oknum Ustadz.
Sisi lain dari pengamat medis di Blitar sebut saja Budi pihaknya menyampaikan, bahwa kalau kondisi korban sudah kritis dan harus di rujuk, katakan kalau posisi korban termasuk lukanya di jaringan saraf dan butuh pertimbangan tindakan medis kenapa dipilih RS yang jauh jangkauanya seperti di kediri.
"Seyognya para medis mengambil langkah yang sesuai SOP, masak di Blitar tidak ada alat dan tenaga ahli, saraf, sehingga minimal korban mendapat layanan kedaruratanya dengan tepat, kami sangat prihatin atas kejadian ini, sehingga citra tenaga. Medis di Blitar kurang profesional, "tuturnya.(za/mp)
















