- Sosok Mohammad Novianto, Pebisnis Landscape Muda yang Digadang Jadi Pemimpin Masa Depan Lamongan
- Fauzi Arfan Resmi Jadi Ketum AASI Periode 2026 - 2029
- Polisi Pastikan Tak Ada Korban Tewas Akibat Senpi, Tragedi Berdarah Di Teweh Timur
- Bupati Majalengka Bongkar Dugaan Konstruksi Bermasalah di Balik Ambruknya Atap SD
- Edy Kusnadi Resmi Jadi Calon Dirut Bank Kalbar, Ini Strateginya Perkuat Ekonomi di Kalbar
- KDMP Desa Tegalrejo Selopuro Didukung Msyarakat Perkuat Ekonomi Desa
- Bentengi Barito Utara Dari Konflik Sosial, Kesbangpol Perkuat Deteksi Dini Dan Kolaborasi Lintas Sektor
- Jeritan dari Daerah! H. Iing Misbahuddin, SM, SH Soroti Ketimpangan Nasib Buruh
- Listrik Padam di Tengah Paripurna, DPRD Tetap Gas Kritik Keras Kinerja Pemda 2025
- Ketua Dprd Barito Utara Berikan Apresiasi Dan Tekankan Fungsi Pengawasan Dalam Paparan Skema Pembangunan Multiyears
Menkop Dorong Optimalisasi Pengelolaan Dana Umat Dan Sinkronisasi Dengan Program Kopdes Merah Putih

Keterangan Gambar : Diskusi Publik Ikatan Alumni Universitas Padjadjaran (IKA Unpad) di Hotel Aryaduta Menteng, Jakarta, Sabtu (14/3).
MEGAPOLITANPOS.COM, Jakarta – Menteri Koperasi (Menkop) Ferry Juliantono menegaskan bahwa pengelolaan dana umat harus diarahkan untuk kesejahteraan masyarakat melalui ekosistem keuangan syariah yang terintegrasi. Hal itu disampaikan dalam Buka Puasa Bersama dan Diskusi Publik Ikatan Alumni Universitas Padjadjaran (IKA Unpad) di Hotel Aryaduta Menteng, Jakarta, Sabtu (14/3).
Menkop Ferry menekankan bahwa potensi zakat, infak, sedekah, dan wakaf yang mencapai ratusan triliun rupiah per tahun belum dimanfaatkan secara optimal. Padahal dana yang terkumpul sangat besar dan sangat berpotensi mendukung berbagai program peningkatan kesejahteraan masyarakat, salah satunya program Koperasi Desa/Kelurahan (Kopdes/Kel) Merah Putih. Oleh karena itu, diperlukan pengelolaan yang baik serta sinergi antar lembaga keuangan syariah agar manfaatnya semakin optimal.
Menkop Ferry menambahkan bahwa saat ini progres pembangunan gerai, gudang dan sarana pendukung Kopdes/Kel Merah Putih secara nasional mencapai 32 ribuan unit. Sementara untuk pembangunan yang telah selesai 100 persen dan siap beroperasi sekitar 2.000an unit.
Baca Lainnya :
- Edy Kusnadi Resmi Jadi Calon Dirut Bank Kalbar, Ini Strateginya Perkuat Ekonomi di Kalbar
- Menteri Maman Ajak Pengusaha UMKM di NTT Optimalkan KUR
- Menteri UMKM Lantik Sekretaris Kementerian dan Deputi Kewirausahaan
- Menkop Sebut, Kopdes di NTT akan Menjadi Ekosistem Baru Ekonomi
- Menkop Siapkan Kopdes Merah Putih Jadi Garda Terdepan Kedaulatan Pangan
"Akan sangat baik apabila dana umat itu dikonsolidasikan untuk membangun industri (investasi) yang memproduksi berbagai produk kebutuhan masyarakat. Produk-produk itu siap dipasarkan melalui ribuan gerai Koperasi Desa Merah Putih," kata Menkop Ferry.
Turut hadir dalam acara tersebut Anggota Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH), Dr. Indra Gunawan, Ketua BAZNAS RI Sodik Mujahid, Kepala Kantor Kemitraan Alumni & Dana Abadi Dr. Prita Amalia, S.H., M.H, Ketua Dewan Pembina IKA Unpad, Dr. (HC). Ir. Burhanuddin Abdullah, M.A, Ketua Komisi Etik IKA Unpad Hendrias Haryotomo, Ketua Koperasi Bumi Padjadjaran Lestari Dr. Tasdiyanto Rohadi, S P, M.Si, Wakil Ketua Dewan Penasehat Dr. Ir. Iwan P Pontjowinoto, MM., CFP, Ketua Koperasi Danakitri Kuseryansyah, S.IP, M.M.
Sebagai Ketua Umum IKA Unpad yang juga menjabat sebagai Ketua Harian Masyarakat Ekonomi Syariah (MES), Menkop Ferry menegaskan bahwa saat ini ekosistem pengelolaan dana umat yang profesional, transparan, dan produktif sangat dibutuhkan. Menurut catatannya, potensi zakat nasional diperkirakan lebih dari Rp320 triliun per tahun. Sementara potensi wakaf produktif sekitar Rp180 triliun.
Diakui bahwa masih banyak tantangan dalam upaya mengoptimalkan pengelolaan dana umat tersebut seperti tingkat literasi masyarakat yang rendah, kepercayaan publik, profesionalisme pengelola, koordinasi antar lembaga, serta distribusi dana yang masih banyak bersifat konsumtif.
"Kami di Masyarakat Ekonomi Syariah juga terus mendorong agar kita mulai masuk ke sektor riil, kita tidak boleh hanya menjadi nasabah tapi kita juga harus menjadi debiturnya ke bank atau lembaga keuangan syariah untuk bisa mendanai pembangunan pabrik-pabrik," ucap Menkop Ferry.
Dalam konteks ini, MES menjadi wadah strategis untuk mempercepat penerapan sistem ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia yang terintegrasi. Melalui MES, berbagai pihak dapat bersinergi, mulai dari pemerintah, lembaga keuangan, akademisi, hingga pelaku usaha guna memperkuat ekosistem ekonomi syariah secara menyeluruh.
"Kita harus memulai, lembaga seperti BPKH (Badan Pengelolaan Keuangan Haji) dan Baznas (Badan Amil Zakat Nasional) bisa masuk menjadi offtakernya," katanya.
Menutup sesi diskusi tersebut, Menkop Ferry menegaskan bahwa pengelolaan dana umat adalah amanah sekaligus peluang besar yang perlu dikembangkan agar manfaatnya dapat kembali kepada umat dan mendorong peningkatan kesejahteraan umat.
“Dengan pengelolaan yang baik, potensi besar ini dapat memberikan manfaat yang lebih luas,” pungkasnya.
Ketua BAZNAS RI Sodik Mujahid membenarkan bahwa potensi pengumpulan zakat nasional sangat besar, namun pihaknya baru dapat merealisasikan antara 8-10 persen per tahunnya. Apabila potensi ratusan triliun zakat yang bisa dikumpulkan dapat tercapai, maka peluang untuk mempercepat realisasi program peningkatan kesejahteraan masyarakat dapat dilakukan.
“Betapa strategis mustahik yang harus diberdayakan, dan potensi atau peluang yang ada di Indonesia sangat besar. Maka tugas ke depan adalah sosialisasi dan peningkatan literasi masyarakat (terkait zakat),” kata Sodik.
Ia menambahkan, perluasan jaringan seperti Unit Pengumpul Zakat (UPZ) menjadi agenda penting agar potensi zakat ini bisa dioptimalkan. Bahkan ke depan diperlukan integrasi program CSR (Corporate Social Responsibility) dengan inisiatif sosial Baznas. Pihaknya siap bermitra dengan berbagai pihak termasuk dengan koperasi dalam rangka memperluas jaringan UPZ.(Reporter: Achmad Sholeh Alek).

.jpg)















