- Dua Pria Pelaku Pembunuhan Berencana di Pinang Ranti Jaktim Berhasil Ditangkap
- Manfaatkan PTSL untuk Urus Sertipikat, Masyarakat: Proses Dipermudah.
- Menkop Kukuhkan Prof. Yudi Azis Sebagai Rektor IKOPIN University
- Anggaran BPJS Kesehatan Disorot DPRD Kota Bogor
- Anggaran BPJS Kota Bogor Menjadi Sorotan DPRD Kota Bogor
- Soal Video AI Prof Djokosoetono, Mintarsih: Tiga Pendiri Blue Bird Hilang
- Jangkau Lokasi Sempit, Babinsa Dan Komduk Patroli Malam Gunakan Motor.
- TMMD 130 Jadi Kado Istimewa HUT Kab Tangerang Ke-394.
- Banten Investment Forum 2026 Dorong Investasi Asing dan Domestik, Pacu Ekonomi Daerah.
- BRI Life Perkuat Integrasi Layanan Kesehatan Lewat Kerja Sama KAPJ
Lamban Tangani Penegakan Hukum Kasus Salah Tangkap, FMPB Gruduk Polres Blitar

Keterangan Gambar : FMPB menggelar aksi unjuk rasa di depan Markas Kepolisian Resor (Mapolres) Blitar, Rabu (18/12/2025)
MEGAPOLITANPOS.COM, Blitar – Forum Masyarakat Peduli Blitar (FMPB) menggelar aksi unjuk rasa di depan Markas Kepolisian Resor (Mapolres) Blitar, Rabu (18/12/2025). Aksi tersebut dilakukan untuk menyampaikan tuntutan keadilan atas kasus salah tangkap yang menimpa warga Selopuro, Kabupaten Blitar, bernama Feriadi, sekaligus menyoroti potret penegakan hukum di wilayah hukum Polres Blitar.
Koordinator FMPB Kota dan Kabupaten Blitar sekaligus Penasihat Hukum Feriadi ( Haryono,S.H.M.H.) yang menyampaikan orasi dalam aksi tersebut, mengatakan bahwa permintaan maaf terbuka dari Kapolres Blitar dan sanksi internal terhadap anggota kepolisian belum cukup untuk memulihkan keadilan bagi korban.
“Kami mengapresiasi permintaan maaf Kapolres Blitar dan adanya sanksi terhadap anggota yang melakukan kesalahan. Namun, keadilan tidak boleh berhenti pada permintaan maaf. Substansi persoalan belum tuntas,” ujar Haryono dalam orasinya.
Baca Lainnya :
- Anggaran BPJS Kesehatan Disorot DPRD Kota Bogor
- Hadiri Talk show Perlindungan Anak, Ketua DPRD Kota Bogor Dorong Sinergi Menuju Indonesia Emas 2045
- Pengeroyokan Brutal di Majalengka, 4 Orang Diamankan, 3 Diburu
- Harga Cabai Bikin Dapur Tertekan, Bupati Majalengka Ajak Warga Menanam
- Baznas Majalengka Siapkan 10 Masjid Jadi Motor Penggerak Ekonomi Umat
Menurut Haryono, hingga saat ini pelaku pemerkosaan yang sebenarnya belum berhasil ditangkap, sehingga menimbulkan pertanyaan besar terkait keseriusan penegakan hukum dalam perkara tersebut.
Selain itu, FMPB juga menyoroti laporan Feriadi terhadap seorang warga berinisial ETS atas dugaan pencemaran nama baik yang dinilai belum menunjukkan kepastian hukum.
“Korban salah tangkap justru masih harus menunggu kejelasan atas laporan hukumnya sendiri. Ini ironi penegakan hukum,” kata Haryono.
Dalam aksinya, FMPB juga menuntut agar hak-hak Feriadi sebagai korban salah tangkap dipenuhi sepenuhnya, termasuk pemulihan nama baik dan hak lain sebagaimana diatur dalam ketentuan hukum yang berlaku.
Tak hanya kasus Feriadi, FMPB turut menyoroti sejumlah perkara lain yang dinilai mandek di Polres Blitar. Di antaranya, dua oknum kepala desa yang telah berstatus tersangka sejak sekitar dua tahun lalu, serta lima oknum aparatur sipil negara (ASN) yang berstatus tersangka sejak kurang lebih sembilan tahun lalu, namun hingga kini belum ada kepastian hukum.
“Kasus-kasus tersebut menjadi potret buram penegakan hukum. Kami khawatir ada praktik pembiaran dan dugaan penyalahgunaan kewenangan,” tegas Haryono.
FMPB menyatakan akan terus mengawal dan menggelar aksi lanjutan apabila tuntutan keadilan tersebut tidak segera ditindaklanjuti oleh aparat penegak hukum. (za/mp)

.jpg)


.jpg)


.jpg)



.jpg)




