- Mendag Budi Santoso Serahkan UKM Pangan Award 2026, Buka Peluang Masuk Ritel Modern
- Menkop Perkuat Koordinasi untuk Pastikan Kesiapan Operasionalisasi KDKMP
- Realisasi Pengadaan Majalengka Baru 25 Persen, Ribuan Paket Belum Terealisasi
- Harga Pupuk Subsidi Turun 20 Persen, Pemerintah Perkuat Ketahanan Pangan Nasional
- Kementerian UMKM Perkuat Pemulihan UMKM Aceh melalui Akses Pasar Digital dan Dukungan Pengembangan Usaha
- PERINTIS 10 Hari Mulai Diterapkan, Kantah Kabupaten Tangerang Hadirkan Layanan Peralihan Hak yang Lebih Cepat dan Mudah.
- 14 Samsat Polda Metro Kunjungi Taman Kanak-kanak, Hadirkan Sosok Polisi yang Bersahabat
- Mulyani Dukung Deteksi Dini Kanker Serviks, Apresiasi Gerakan Perempuan Sadar Sehat di Pasir Kuda
- DPMPTSP Barito Utara Paparkan Lima Manfaat Perizinan bagi Pelaku Usaha Mikro
- Buka Bimtek Perizinan Usaha Berbasis Risiko dan LKPM, Wabup Tekankan Pemahaman Pelaku Usaha Terhadap OSS-RBA
KRPK Tegas Minta Kejari Kabupaten Blitar Bongkar dan Lakukan Investigatif Dugaan Korupsi Proyek E-Katalog Ratusan Milyar

MEGAPOLITANPOS.COM, Blitar- Geram LSM terkait semakin merajalela atas temuan dugaan potensi kerugian negara yang mencapai angka ratusan miliar rupiah.
Atas hal itu, LSM Komite Rakyat Pemberantas Korupsi (KRPK) dan Front Mahasiswa Revolusioner (FMR) melaporkan dugaan korupsi dalam proyek e-katalog di Kabupaten Blitar ke Kejaksaan Negeri Kabupaten Blitar, Senin (16/6/25).
"Hari ini kami menyampaikan laporan ke Kejaksaan Negeri Blitar terkait adanya potensi-potensi kerugian negara," seperti diungkapkan oleh Sabar Rudin koordinator LSM KRPK.
Baca Lainnya :
- Realisasi Pengadaan Majalengka Baru 25 Persen, Ribuan Paket Belum Terealisasi
- Pengeroyokan Brutal di Majalengka, 4 Orang Diamankan, 3 Diburu
- Harga Cabai Bikin Dapur Tertekan, Bupati Majalengka Ajak Warga Menanam
- Baznas Majalengka Siapkan 10 Masjid Jadi Motor Penggerak Ekonomi Umat
- Yonif TP 338 Majalengka Bergerak, dari Pangan hingga Kesehatan
Disampaikan oleh Sekertaris FMR Sabar Rudin didampingi oleh M Trijanto bahwa laporan tersebut tentang proyek yang diselenggatakan dengan sistem E Purchasing e-katalog Kabupaten Blitar semenjak tahun 2022 hingga tahun 2024,selama itu pula pihaknya mengindikasi banyak pelanggaran hukum dan berpotensi pada kerugian negara.
"Kita prediksi itu sekitar 185 miliar rupiah. Ini untuk proyek e-katalog tahun 2022 hingga tahun 2024," tandasnya
Selanjutnya Trijanto juga menegaskan, bahwa selain dugaan korupsi Sabo Dam Kalibentak, potensi kerugian negara yang jauh lebih besar diduga terjadi di berbagai proyek lain.
"Hampir sekitar 1,1 triliun rupiah uang rakyat untuk pengadaan ini berpotensi diselewengkan," tegasnya.
Trijanto menuding adanya dua modus operandi yang diduga digunakan dalam proyek tersebut. Pertama, modus-modus pinjam bendera.
"Bahwa dugaan ini mengacu pada penggunaan nama perusahaan tertentu untuk memenangkan tender proyek," ujarnya.
Yang kedua, mengondisikan PPK (Pejabat Pembuat Komitmen), konsultan perencanaan dan pengawasan,"dengan kata lain, diduga ada upaya untuk mengendalikan proses pengadaan agar menguntungkan pihak-pihak tertentu," imbuhnya.
Lebih lanjut Dia menandaskan, contoh kasus yang paling konkret, yaitu yang terjadi di Dam Kali Bentak. Ia yakin bahwa praktik serupa juga terjadi di proyek-proyek lain. 
"Ada dugaan kerugian negara dalam proyek e-katalog di Kabupaten Blitar yang mencengangkan sejak tahun 2022 hingga tahun 2024," tandasnya.
Selain menyerahkan laporan ke Kejaksaan Negeri Kabupaten Blitar, KRPK juga meminta agar Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK RI) melakukan audit investigatif.
"Kita meminta BPK RI untuk melakukan audit investigatif. Kita berharap langkah ini dapat mengungkap sepenuhnya dugaan korupsi dan membawa para pelaku ke meja hijau," pungkasnya. **(za/mp)

.jpg)


.jpg)





.jpg)





