Breaking News
- Tim Bola Voli Merpati Blitar Raih Juara 2
- Prabowo Tunjuk Suahasil Nazara sebagai Menkeu Baru, Ini Rekam Jejaknya
- Polres Majalengka Ungkap 4 Kasus Narkoba, Sabu dan Sintetis Disita
- Ketua DPRD Majalengka Dorong Perda Miras, Warga Diminta Aktif Melapor
- Kapolres Majalengka Bongkar Modus COD Miras, Warga Diminta Melapor
- Polres Majalengka Musnahkan 2.700 Botol Miras, Total Tembus 20 Ribu
- Sekda Minta Jajarannya Bergerak Lebih Cepat!
- Usaha Laundry Tumbuh di Berbagai Daerah, Menteri UMKM Ingatkan Risiko Persaingan
- Open Turnamen Piala Panglima TNI Atlit PSHT Cabang Kota Blitar Borong 6 Medali Luar Biasa.
- Babinsa Koramil Ciledug Dan Serpong Bersama Komduk Aktif Patroli Malam.
Korban Investasi Pengadaan Alkes Rugi 1,8 Miliar Lapor ke Polda Metro Jaya

MEGAPOLITANPOS.COM, Jakarta - Farditha Sari (Fara), korban investasi pengadaan alat kesehatan (alkes) melaporkan dua orang inisial G dan KL ke Polda Metro Jaya atas dugaan tindak pidana penipuan dan penggelapan serta TPPU (tindak pidana pencucian uang). "Kita habis buat laporan terkait dugaan penipuan dan penggelapan, dan tindak pidana pencucian uang (TPPU) juga terkait dengan modus (investasi) alkes (alat kesehatan). Jadi yang kita laporin ada 2 orang, inisial KL dan G," kata Leo Sani Putra Siregar, Kuasa Hukum pelapor kepada wartawan seusai membuat laporan, di Mapolda Metro Jaya, Jum'at malam (14/1/2021). Bukti pelaporan atas dugaan tindak pidana tersebut terdaftar di SPKT Polda Metro Jaya tanggal 14 Januari 2022 dengan nomor: LP/B/256/1/2022/SPKT/Polda Metro Jaya. Leo mengatakan, kliennya mengalami kerugian sebesar Rp 1,8 miliar lebih akibat investasi pengadaan alkes yang diduga fiktif alias bodong itu. "Kerugian Rp 1,8 miliar lebih," cetus Leo. Dijelaskan Leo, bahwa pelapor kenal dengan terlapor di media sosial (Instagram). Adapun modus terlapor (KL dan G) menjanjikan keuntungan hingga 25% apabila berinvestasi melalui suntikan modal (sunmod) pengadaan alkes. Namun berjalan bisnis tersebut, keuntungan dan modal pelapor tak kunjung didapat dan dikembalikan. "KL dan G adalah 'Up Line' dari klien kami (Fara), jadi setor uangnya ke mereka (KL dan G). Namun mulai bulan November setelah masukin uang, ternyata untuk pengembalian modalnya kita nggak dapat. Artinya keuntungan yang dijanjikan dan modalnya nggak dapat. Jadi kerugian kita Rp 1,8 miliar lebih," beber Leo. Lanjut Leo menambahkan, sebelum melaporkan perkara tersebut, pihaknya bersama pelapor telah berupaya melakukan mediasi terlebih dulu. Alhasil, tidak mendapatkan respon dan jawaban dari terlapor (KL dan G). "Kita sudah 2 kali somasi terlapor. Kita sudah berusaha mendatangi, tapi terlapor sendiri tidak ada di rumah, kita juga sudah mengirimkan surat somasi tetapi mereka juga tidak ada di rumah," ungkap Leo. Dia berharap, dari laporan tersebut pihak Kepolisian dapat mengusut tuntas dugaan kasus yang dialami kliennya. "Kami berharap modal yang sudah dikeluarkan (kliennya, red) dan apa yang menjadi haknya dapat dikembalikan," tukasnya. "Kita juga berharap kepolisian bisa melakukan untuk penegakan hukumnya," tambahnya.(Anton)


.jpg)




.jpg)

.jpg)






