- Bamsoes dan Mayjen TNI Arnold Ritiauw: Dua Tokoh, Satu Semangat Pengabdian untuk Indonesia
- Kemenkop: Kampus Akan Menjadi Rumah Baru Bagi Gerakan Koperasi
- Bazar Peduli Ramadhan di Majalengka Diserbu Warga, Sembako hingga Pakaian Murah Laris Manis
- Kejari Majalengka Bongkar Dugaan Korupsi Hibah KONI 2024 - 2025
- Ramadhan Berkah Sekertaris DPDC PDI-Perjuangan Bagikan Bingkisan Lebaran untuk Ratusan Warga
- Akses Jalan Total Persada Periuk Kota Tangerang Masih Lumpuh
- Ateng Sutisna Luncurkan Website Resmi, Buka Kanal Aspirasi Warga Jabar IX
- Program SAE Ramadhan Fest 2026 Kiat Anggia Emarini Majukan Pelaku UMKM Blitar
- Sidak Lampu Hias Kota Muara Teweh, Bupati Pastikan Suasana Ramadhan dan Jelang Lebaran Semarak
- Hangatkan Kebersamaan Ramadhan, Bupati Barito Utara Buka Puasa Bersama PAKUWOJO
Indonesia dan Suriname Kolaborasi Ajukan Aksara Pegon dan Jawa ke UNESCO

Keterangan Gambar : Komunitas Aksara Tradisi dari Indonesia bersama komunitas Aksara Arab Pegon dan Aksara Jawa di Suriname sukses menggelar Forum Group Discussion (FGD) Tahap I pada Sabtu, 1 November 2025.
MEGAPOLITANPOS.COM, Jakarta – Komunitas Aksara Tradisi dari Indonesia bersama komunitas Aksara Arab Pegon dan Aksara Jawa di Suriname sukses menggelar Forum Group Discussion (FGD) Tahap I pada Sabtu, 1 November 2025.
Kegiatan ini difasilitasi oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Paramaribo sebagai langkah strategis menuju nominasi bersama (joint nomination) ke UNESCO dalam kategori Intangible Cultural Heritage (ICH) atau Warisan Budaya Takbenda.

Baca Lainnya :
- Diskusi UMKM: KUR Meningkat, Tapi Produk Impor dan Biaya Platform Digital Jadi Tantangan
- Jakarta Mantapkan Diri Jadi Global Wellness City, Wagub Rano Karno Buka FGD Jakarta Wellness Tourism with ETNAPRANA
- DKI Jakarta Evaluasi POPNAS XVII: Siwo PWI Jaya dan KONI Rumuskan Strategi Pembinaan Atlet Muda
- Indonesia dan Suriname Kolaborasi Ajukan Aksara Pegon dan Jawa ke UNESCO
- UKP Mardiono: Masalah Kemiskinan Akan Berkorelasi Erat Dengan Ketahanan Pangan
Format Lintas Waktu dan Ruang
FGD diselenggarakan dalam format hibrida, menghubungkan peserta di dua benua.
Para pegiat budaya di Indonesia bergabung secara daring pada pukul 20.00 WIB melalui Zoom Meeting, sementara peserta di Suriname hadir langsung di KBRI Paramaribo, Van Brusellaan #3, Uitvlugt, yang dipimpin langsung oleh Duta Besar Indonesia untuk Suriname, Agus Priyono, pada pukul 10.00 waktu setempat.
Kegiatan ini dihadiri sejumlah pakar aksara, akademisi, dan komunitas budaya, yang menunjukkan komitmen kuat dari berbagai pihak dalam upaya pelestarian aksara warisan leluhur.
Tujuan Utama: Naskah Bersama untuk UNESCO
Fokus utama FGD adalah penyusunan naskah nominasi bersama antara Indonesia dan Suriname.
Indonesia akan mengusung tradisi baca-tulis aksara nusantara yang masih hidup dan dipraktikkan di berbagai daerah, sementara Suriname menonjolkan Aksara Arab Pegon dan Hanacaraka (Jawa) — warisan yang dibawa oleh leluhur keturunan Jawa sejak abad ke-19.
“Kolaborasi antara komunitas di Indonesia dan Suriname merupakan langkah strategis yang sangat penting. Ini bukan hanya tentang warisan aksara, tetapi juga tentang memperkuat ikatan sejarah dan budaya antara dua negara,”ujar Duta Besar Agus Priyono dalam sambutannya.
Pokok Bahasan FGD
Beberapa poin penting yang dibahas dalam FGD antara lain:
Definisi dan Signifikansi: Penguatan konsep “praktik menulis aksara tradisional” sebagai identitas budaya yang terus hidup di kedua negara.
Pembagian Peran: Penentuan kontribusi komunitas dan lembaga dalam riset, dokumentasi, dan pelestarian aksara.
Strategi Konservasi: Rencana keberlanjutan program pelatihan, pengajaran, dan regenerasi pengguna aksara pasca-nominasi UNESCO.
Partisipasi aktif para ahli dan pegiat budaya diharapkan melahirkan draf awal nominasi yang kuat dan representatif.
Langkah Selanjutnya: Tim Teknis Gabungan
Kesuksesan pelaksanaan FGD tahap pertama ini menjadi momentum penting bagi kedua negara dalam memperkuat diplomasi kebudayaan.
Hasil diskusi akan ditindaklanjuti dengan pembentukan tim teknis gabungan Indonesia–Suriname yang bertugas menyempurnakan naskah nominasi untuk diserahkan ke UNESCO.
Kolaborasi ini menjadi contoh nyata bagaimana diaspora budaya mampu menjadi kekuatan global dalam melestarikan warisan takbenda bangsa yang lintas generasi dan lintas geografi.(Reporter: Achmad Sholeh Alek).

















