- Indonesia Juara Beregu Putra Asian Games 2026, BNI: Bukti Kerja Keras dan Pembinaan
- Pendam Jaya Perkuat Sinergi dengan Insan Pers melalui Pembinaan Media Massa.
- Kodam Jaya Gelar Hit & Eat, Berbagi Kebahagiaan Bersama Warga Jakarta.
- Onderdil YSP Dukung Hit & Eat Kodam Jaya, 2.300 Paket Dibagikan kepada Ojol.
- BRI Life Raih Dua Penghargaan Silver di The Best Contact Center Indonesia 2026
- BNI Sahabat Sekolah Rakyat Hadirkan Edukasi dan Inspirasi bagi Siswa di Sulawesi Selatan
- Program Revitalisasi di Blitar Disinyalir Banyak Campur Tangan Siapa Mereka ? .
- Pasangan Suami Istri Resmi Maju Pilkades Kedungbanteng 2026-2031 \"Dua Hati Satu Tujuan\".
- Perkuat Nilai Kejuangan di Momentum HUT TNI ke-81 Pangdam V/ Brawijaya Nyekar ke MBK Apa Pesanya.
- Dari Celengan ke Buku Rekening, Siswa Sekolah Rakyat Belajar Menabung bersama BNI
Indonesia dan Suriname Kolaborasi Ajukan Aksara Pegon dan Jawa ke UNESCO

Keterangan Gambar : Komunitas Aksara Tradisi dari Indonesia bersama komunitas Aksara Arab Pegon dan Aksara Jawa di Suriname sukses menggelar Forum Group Discussion (FGD) Tahap I pada Sabtu, 1 November 2025.
MEGAPOLITANPOS.COM, Jakarta – Komunitas Aksara Tradisi dari Indonesia bersama komunitas Aksara Arab Pegon dan Aksara Jawa di Suriname sukses menggelar Forum Group Discussion (FGD) Tahap I pada Sabtu, 1 November 2025.
Kegiatan ini difasilitasi oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Paramaribo sebagai langkah strategis menuju nominasi bersama (joint nomination) ke UNESCO dalam kategori Intangible Cultural Heritage (ICH) atau Warisan Budaya Takbenda.

Baca Lainnya :
- Mohammad Zainul Ichwan Resmi Pimpin DPC PKB Kota Blitar
- Diskusi UMKM: KUR Meningkat, Tapi Produk Impor dan Biaya Platform Digital Jadi Tantangan
- Jakarta Mantapkan Diri Jadi Global Wellness City, Wagub Rano Karno Buka FGD Jakarta Wellness Tourism with ETNAPRANA
- DKI Jakarta Evaluasi POPNAS XVII: Siwo PWI Jaya dan KONI Rumuskan Strategi Pembinaan Atlet Muda
- Indonesia dan Suriname Kolaborasi Ajukan Aksara Pegon dan Jawa ke UNESCO
Format Lintas Waktu dan Ruang
FGD diselenggarakan dalam format hibrida, menghubungkan peserta di dua benua.
Para pegiat budaya di Indonesia bergabung secara daring pada pukul 20.00 WIB melalui Zoom Meeting, sementara peserta di Suriname hadir langsung di KBRI Paramaribo, Van Brusellaan #3, Uitvlugt, yang dipimpin langsung oleh Duta Besar Indonesia untuk Suriname, Agus Priyono, pada pukul 10.00 waktu setempat.
Kegiatan ini dihadiri sejumlah pakar aksara, akademisi, dan komunitas budaya, yang menunjukkan komitmen kuat dari berbagai pihak dalam upaya pelestarian aksara warisan leluhur.
Tujuan Utama: Naskah Bersama untuk UNESCO
Fokus utama FGD adalah penyusunan naskah nominasi bersama antara Indonesia dan Suriname.
Indonesia akan mengusung tradisi baca-tulis aksara nusantara yang masih hidup dan dipraktikkan di berbagai daerah, sementara Suriname menonjolkan Aksara Arab Pegon dan Hanacaraka (Jawa) — warisan yang dibawa oleh leluhur keturunan Jawa sejak abad ke-19.
“Kolaborasi antara komunitas di Indonesia dan Suriname merupakan langkah strategis yang sangat penting. Ini bukan hanya tentang warisan aksara, tetapi juga tentang memperkuat ikatan sejarah dan budaya antara dua negara,”ujar Duta Besar Agus Priyono dalam sambutannya.
Pokok Bahasan FGD
Beberapa poin penting yang dibahas dalam FGD antara lain:
Definisi dan Signifikansi: Penguatan konsep “praktik menulis aksara tradisional” sebagai identitas budaya yang terus hidup di kedua negara.
Pembagian Peran: Penentuan kontribusi komunitas dan lembaga dalam riset, dokumentasi, dan pelestarian aksara.
Strategi Konservasi: Rencana keberlanjutan program pelatihan, pengajaran, dan regenerasi pengguna aksara pasca-nominasi UNESCO.
Partisipasi aktif para ahli dan pegiat budaya diharapkan melahirkan draf awal nominasi yang kuat dan representatif.
Langkah Selanjutnya: Tim Teknis Gabungan
Kesuksesan pelaksanaan FGD tahap pertama ini menjadi momentum penting bagi kedua negara dalam memperkuat diplomasi kebudayaan.
Hasil diskusi akan ditindaklanjuti dengan pembentukan tim teknis gabungan Indonesia–Suriname yang bertugas menyempurnakan naskah nominasi untuk diserahkan ke UNESCO.
Kolaborasi ini menjadi contoh nyata bagaimana diaspora budaya mampu menjadi kekuatan global dalam melestarikan warisan takbenda bangsa yang lintas generasi dan lintas geografi.(Reporter: Achmad Sholeh Alek).

.jpg)

.jpg)
.jpg)


.jpg)








