- Wamen UMKM Helvi Moraza Ungkap 3 Kunci UMKM Indonesia Tembus Pasar Global
- Kemenkop Kembali Tegaskan Isu Anggaran Rp103 Miliar Untuk Podcast Tidak Tepat
- DKP3 Majalengka Uji Solar Dryer Dome, Petani Tembakau Tak Lagi Takut Hujan
- H. Iing Bongkar Masalah Proyek Majalengka: Belum PHO Sudah Rusak
- Kepala Desa Akhsan Disorot, Tiga Ekskavator Gali Tanah Cibogo
- Ini Wajah Terduga Pelaku Pengeroyokan hingga Menewaskan Pedagang Cermin di Pejompongan Seusai Aksi Demo 27 Agustus
- Proyek Revit SDN Nanggewer Rp 572 Juta Disorot, P2SP Tak Terlihat di Lokasi
- Kabid PUTR Majalengka Tegas : K3 Proyek Jembatan Harus Konsisten
- Proyek Jembatan Rp 7,35 M di Majalengka Disorot, K3 Dipertanyakan
- Pengurus KONI Kota Blitar Keluhkan Anggaran Cabor Tak Kunjung Cair
DKP3 Majalengka Uji Solar Dryer Dome, Petani Tembakau Tak Lagi Takut Hujan

Keterangan Gambar : Uji fungsi atau running test fasilitas Solar Dryer Dome
MEGAPOLITANPOS.COM MAJALENGKA - Ketergantungan petani tembakau terhadap terik matahari perlahan mulai ditinggalkan. Pemerintah Kabupaten Majalengka melalui Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) mulai mendorong babak baru pengolahan hasil tembakau dengan teknologi pengering berbasis tenaga surya.
Langkah itu ditandai dengan uji fungsi atau running test fasilitas Solar Dryer Dome bagi Kelompok Tani Mekar Abadi di Desa Babakansari, Kecamatan Bantarujeg, Kamis (3/9/2026).
Teknologi tersebut diproyeksikan menjadi solusi atas persoalan klasik petani tembakau, yakni proses pengeringan yang selama ini sangat bergantung pada kondisi cuaca. Ketika hujan atau matahari tidak maksimal, proses pengeringan dapat terganggu dan berpotensi memengaruhi mutu hasil produksi.
Baca Lainnya :
- DKP3 Majalengka Uji Solar Dryer Dome, Petani Tembakau Tak Lagi Takut Hujan
- H. Iing Bongkar Masalah Proyek Majalengka: Belum PHO Sudah Rusak
- Kepala Desa Akhsan Disorot, Tiga Ekskavator Gali Tanah Cibogo
- Proyek Revit SDN Nanggewer Rp 572 Juta Disorot, P2SP Tak Terlihat di Lokasi
- Kabid PUTR Majalengka Tegas : K3 Proyek Jembatan Harus Konsisten
Kepala DKP3 Kabupaten Majalengka, H. Gatot Sulaeman, AP., M.Si., didampingi Kepala Bidang Hortikultura dan Perkebunan Rahmat Subagja, S.Sos., turun langsung memastikan fasilitas tersebut berfungsi sebelum nantinya diserahterimakan dan dimanfaatkan kelompok tani.
Solar Dryer Dome tersebut bersumber dari Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) Tahun Anggaran 2026. Kehadirannya menjadi bagian dari strategi Pemkab Majalengka untuk memperkuat sektor tembakau, khususnya pada tahap pascapanen.
Gatot menegaskan, teknologi itu bukan sekadar bangunan pengering, tetapi dirancang untuk membuat proses pengeringan lebih efisien dan terkontrol.
"Solar Dryer Dome bukan sekadar rumah pengering biasa. Teknologi ini menggunakan tenaga surya sebagai sumber energi utama, sehingga tidak hanya hemat biaya, tetapi juga ramah lingkungan," ungkap Gatot.
Yang membuat fasilitas tersebut berbeda adalah sistem otomatisasi yang mampu mengontrol suhu dan kelembaban selama proses pengeringan.
"Solar Dryer ini dilengkapi dengan sistem kontrol kelembaban dan suhu otomatis. Dengan demikian, petani tidak perlu lagi bergantung pada cuaca atau melakukan pemeriksaan manual secara terus-menerus," jelasnya.
Menurut Gatot, running test menjadi tahapan penting untuk memastikan seluruh perangkat dapat bekerja secara optimal sebelum fasilitas digunakan secara penuh oleh petani.
"Kami pastikan seluruh kelengkapan alat ini berfungsi optimal sebelum diserahterimakan. Harapannya, teknologi ini benar-benar memberikan manfaat bagi petani, terutama dalam meningkatkan kualitas hasil dan efisiensi penanganan pascapanen,"katanya.
Bagi petani, persoalan cuaca bukan perkara kecil. Pengeringan daun tembakau membutuhkan kondisi yang tepat agar hasil rajangan tetap memiliki mutu yang baik.
Petani Kelompok Tani Mekar Abadi, Asep, menyambut positif kehadiran fasilitas tersebut. Ia berharap teknologi baru itu mampu mengurangi risiko ketika cuaca berubah dan proses pengeringan terganggu.
"Selama ini pengeringan sangat bergantung pada matahari. Kalau cuaca mendung atau hujan, prosesnya bisa terganggu dan kami harus lebih sering melakukan pengecekan," ujar Asep.
Dengan sistem pengeringan yang lebih terkontrol, petani berharap kualitas daun tembakau dapat meningkat dan berdampak terhadap nilai jual.
"Kami tentu sangat terbantu. Apalagi sistemnya sudah otomatis, ada pengaturan suhu dan kelembaban. Mudah-mudahan hasil tembakau kami semakin bagus dan nilai jualnya juga meningkat," katanya.
Data DKP3 menunjukkan Kecamatan Bantarujeg menjadi salah satu wilayah dengan hamparan tembakau cukup luas. Luas lahan tembakau di Bantarujeg mencapai sekitar 582,43 hektare, disusul Lemahsugih 511 hektare, Kertajati 63 hektare, Malausma 8 hektare, dan Panyingkiran 6 hektare.
Dari wilayah tersebut, produksi tembakau disebut mencapai 1.022,49 ton rajangan kering.
Kepala Bidang Hortikultura dan Perkebunan DKP3 Majalengka, Rahmat Subagja, mengatakan keberadaan Solar Dryer Dome diharapkan tidak berhenti sebagai fasilitas bantuan semata, tetapi benar-benar dimanfaatkan untuk meningkatkan efisiensi dan nilai tambah hasil pertanian.
"Melalui pemanfaatan teknologi tersebut, Pemkab Majalengka berharap produktivitas dan kualitas komoditas tembakau dapat terus meningkat. Selain itu, keberadaan Solar Dryer Dome diharapkan menjadi bagian dari upaya memperkuat sektor pertanian berbasis teknologi serta meningkatkan nilai tambah hasil produksi petani, serta mengefisiensi biaya produksi," ujar Rahmat.
Fasilitas tersebut memiliki dua keunggulan utama. Pertama, memanfaatkan energi surya sehingga lebih ramah lingkungan dan dapat mengurangi ketergantungan terhadap sumber energi konvensional. Kedua, sistem otomatisasi suhu dan kelembaban membuat proses pengeringan lebih terukur.
Bagi Majalengka, langkah ini menjadi sinyal bahwa modernisasi pertanian tidak hanya berbicara soal produksi di lahan, tetapi juga bagaimana hasil panen ditangani setelah keluar dari lahan.
Solar Dryer Dome di Bantarujeg kini diuji untuk membuktikan apakah teknologi tersebut mampu menjawab tantangan nyata petani. Jika pemanfaatannya berjalan optimal, fasilitas ini berpotensi menjadi salah satu instrumen untuk mendorong tembakau Majalengka semakin berkualitas, efisien, dan memiliki daya saing.
Di tengah ketidakpastian cuaca, petani kini memiliki harapan baru: proses pengeringan tembakau tidak lagi sepenuhnya bergantung pada matahari.
Majalengka Langkung Sae, petani maju, pertanian semakin berdaya saing. ** (Agit)















