- Pabrik Uang Palsu Grade A Digerebek di Tangsel, Nilainya Capai Rp36 Miliar
- Menkop Dorong Transformasi Komunitas Ekraf Malang Jadi Koperasi
- Bank Jakarta dan ITB Perkuat Kolaborasi Pendidikan, Riset, dan Pengembangan Talenta
- Momen Istimewa Hari Juang Polri 2026, Para Mantan Kapolri dan Wakapolri Berkumpul di Mabes Polri
- Jalan Sangego Selatan Kota Tangerang Diperbaiki, Pemkot Mulai Terapkan Contraflow
- Menteri UMKM Ajak Mahasiswa Berwirausaha dan Ciptakan Lapangan Kerja
- Ciputra Life Bukukan Laba Rp99,3 Miliar, Premi Semester I 2026 Tumbuh 53 Persen
- Silaturahmi ke PDM Depok, Kapolres Christian Rony Putra Ajak Muhammadiyah Perkuat Kamtibmas
- Bursa Wirausaha Unggulan Hadir di Sumut, Kementerian UMKM Buka Akses Pasar dan Pembiayaan
- Dari Jakarta ke Flores, Kemenhub Salurkan Bantuan Korban Gempa Lewat Laut dan Udara
Anggota DPR RI Arzeti Bilbina Dukung Susu Ikan Sebagai Alternatif Susu Sapi dalam Program Makan Bergizi Gratis

Keterangan Gambar : Anggota Komisi IX DPR RI, Arzeti Bilbina
MEGAPOLITANPOS.COM, Jakarta- Anggota Komisi IX DPR RI, Arzeti Bilbina, menyatakan dukungannya terhadap wacana penggunaan "susu ikan" sebagai pengganti susu sapi dalam Program Makan Bergizi Gratis yang diusulkan oleh Presiden terpilih Pilpres 2024, Prabowo Subianto.
Arzeti menyebutkan bahwa gagasan ini sangat positif dan dapat memberikan manfaat besar bagi peningkatan gizi masyarakat.
“Kami menyambut positif usulan tersebut, sangat baik,” ujar Arzeti saat menanggapi berita tentang rencana menu minuman "susu ikan" sebagai bagian dari program tersebut, sebagaimana dikutip dari keterangan tertulis pada Rabu, 11 September 2024.
Baca Lainnya :
- M.Rifa\'i : Musancab Targetkan 14 Kursi Parlemen Pemilu 2029 PKB Kabupaten Blitar Kembali Berjaya
- Mohammad Zainul Ichwan Resmi Pimpin DPC PKB Kota Blitar
- M Rifa\'i Nahkodai Ketua DPC Kabupaten Blitar Periode 2026 - 2031
- M. Rifa\'i: Idhul Kurban Landasi Semangat Kebersamaan dalam Kebhinekaan
- Menkop Siapkan Kopdes Merah Putih Jadi Garda Terdepan Kedaulatan Pangan
Namun, Arzeti menekankan bahwa penamaan "susu ikan" perlu diperbaiki. Ia berpendapat istilah yang lebih tepat adalah "minuman bergizi tinggi dari ikan", karena menurut para ahli gizi, penggunaan istilah "susu" sebaiknya dibatasi pada produk yang berasal dari kelenjar puting.
“Lebih tepat apabila dinamakan minuman bergizi tinggi dari ikan,” jelasnya. Ia juga menambahkan, “Ahli gizi kurang menyetujui istilah 'susu ikan' karena susu itu berasal dari puting, sementara ikan tidak memilikinya. Jadi, sebaiknya digunakan istilah yang lebih sesuai.” imbuhnya.
Terlepas dari masalah penamaan, Arzeti sangat mendukung penggunaan ikan sebagai sumber gizi dalam program tersebut. Ia menekankan bahwa ikan kaya akan omega-3, yang penting untuk perkembangan kecerdasan anak-anak.
“Kandungan dari ikan, seperti omega-3, sangat mendukung pembentukan generasi emas di masa depan. Ikan juga merupakan sumber protein berkualitas, vitamin, dan mineral yang mendukung kesehatan otak, kulit, serta meningkatkan sistem imun,” ujar Arzeti.
Ia juga menyoroti keunggulan ikan dibandingkan dengan sumber hewani lainnya, terutama dalam hal kandungan lemak baik dan omega-3 yang bermanfaat bagi pertumbuhan dan perkembangan otak.
Namun, Arzeti mengingatkan bahwa produsen minuman berbasis ikan saat ini masih terbatas, sehingga perlu dipertimbangkan ketersediaan produk sebelum dimasukkan secara rutin ke dalam program.
“Produk ini belum banyak dikenal dan dikonsumsi masyarakat. Perlu dipastikan ketersediaannya agar konsisten di dalam menu,” katanya.
Ia juga memperingatkan bahwa, seperti halnya susu sapi, "susu ikan" bisa menimbulkan alergi pada beberapa individu, serta faktor penerimaan rasa dan aroma yang mungkin tidak disukai oleh semua orang.(Reporter: Achmad Sholeh Alek).



.jpg)
.jpg)












