- Anggota Damkar Positif Narkoba, Dinas Terkait Tes Urine Massal Untuk Pegawai
- DPRD Dukung Langkah Penguatan Penanganan Karhutla dan BBM di Barito Utara
- Wakil Ketua DPRD Barito Utara Hadiri Upacara HUT ke-81 Kemerdekaan RI
- DPRD Barito Utara Hadiri Seluruh Rangkaian HUT ke-81 Kemerdekaan RI
- Pimpin Rapat Karhutla dan BBM, Bupati Tekankan Bangun Koordinasi dan Kumonikasi Yang Cepat
- Diduga Lalai Mematikan Kompor LPG Warung Pujasera Istana Gebang Nyaris Ludes Terbakar
- Warung Tiwul hingga Sate Taichan Ludes, UMKM Rasakan Manfaat Kumpul Bersama Rakyat
- Kumpul Bersama Rakyat, Menteri UMKM Ajak Perkuat Solidaritas dan Satukan Semangat Kemerdekaan
- Ketua DPRD : Kehormatan Besar, Membaca Teks Proklamasi HUT RI ke 81
- KTH Blitar Marah Kerahkan Massa Gruduk Perhutani Tuntut Penyelesaian Masalah 90 Hari
Prabowo Dan Politik Kebohongan.
Ahmad Panusunan Nasution, Presidium Perhimpunan Aktivis 98.

Keterangan Gambar : Ahmad Panusunan Nasution, Presidium Perhimpunan Aktivis 98.
Gaya politik Prabowo dalam kancah perpolitikan pada sebuah kontestasi, sepertinya mengadopsi *efek ilusi kebenaran* yang diterapkan oleh ahli & menteri propaganda Nazi, Joseph Goebbels yang mempopulerkan frasa "Argentum ad Nausem" atau lebih dikenal teknik "Big Lie" (Kebohongan besar).
Prinsip dari tekniknya itu adalah, menyebarluaskan pernyataan dan berita bohong melalui media massa sebanyak mungkin dan sesering mungkin hingga kemudian kebohongan tersebut dianggap sebagai suatu kebenaran.
Kita masih ingat ketika Prabowo mengusung Anies Rasyid Baswedan dalam pertarungan politik di gelanggang pilgub DKI Jakarta kemarin melawan Ahok, dimana Ahok harus terjerat hukum & akhirnya dibui karena dentuman frasa "penista agama" yang bertubi-tubi, sehingga dari dentuman itu menimbulkan demo berjilid-jilid sehingga Ahok akhirnya terpaksa merasakan efek ilusi kebenaran itu yaitu, penjara.
Baca Lainnya :
- Gerindra Majalengka Gaspol Kaderisasi, 100 Calon Kader Dilepas
- Aspirasi Warga Tak Lagi Mandek, DPRD Majalengka Kebut Proyek Miliaran
- Aspirasi Warga Terealisasi 2026, Jembatan Cijurey Siliwangi Dibangun Rp 19 Miliar
- Jadi Pembicara di Akademi Politik UMJ, Wamen ATR/Waka BPN: Pertanahan Berperan Strategis dalam Mendukung Asta Cita Presiden
- PPP Majalengka Resmi Kantongi SK DPP, Fajar Shidik Pimpin hingga 2031
Efek ilusi kebenaran yang diterapkan Joseph Goebbels adalah sebuah keyakinan politik, dimana Joseph Goebbels sendiri meyakini bahwa "Tidak ada gunanya berusaha meyakinkan para intelektual. Karena para intelektual tidak akan pernah yakin dan hanya akan menyerah pada (kekuasaan) yang lebih kuat".
Dan Joseph Goebbels beranggapan, "Argumen harus kasar, jelas dan memaksa. Menarik emosi dan naluri. Bukan kecerdasan“.
"Kebohongan akan berjalan dengan baik jika yang menyampaikan penuh percaya diri" jelasnya.
Dan sepertinya gaya politik dengan menggunakan efek ilusi kebenaran digunakan kembali oleh Prabowo dengan timnya di kontestasi pilpres 2024 ini. Ketika para buzzer-buzzer yang dikerahkan oleh tim kemenangannya untuk melakukan pembusukan-pembusukan citra seorang Anies Rasyid Baswedan yang merupakan kompetitor nya dalam pertarungan politik menuju peraihan kursi kekuasaan RI-1.
Narasi-narasi pembohongan yang disebarkan luaskan di media-media sosial dengan melabelkan Anies Rasyid Baswedan sebagai "tukang ngibul", kemudian menjadi senjata ampuh membangun perspektif masyarakat yang minim informasi & literasi tentang sepak terjang Anies Rasyid Baswedan kala menjadi Gubernur DKI Jakarta kemarin.
Rentetan penghargaan dari luar & dalam negeri yang diterima Anies Rasyid Baswedan selama menjabat sebagai gubernur DKI Jakarta, seakan-akan tidak berarti dengan narasi-narasi pembohongan yang masif & terstruktur di sosial media.
Pola-pola kotor ini (fitnah) yang dapat menjadi karakter & identitas politik bangsa ketika terus dipakai demi sebuah ambisi kekuasaan. Dan seharusnya sudah menjadi tanggungjawab kita bersama untuk melawan politik-politik kotor samacam itu.
Negeri ini bukan bancakan kaum-kaum pemodal yang berkedudukan kekuasaan.
Negeri ini punya rakyat Indonesia sendiri.
Sudah saatnya rakyat bangkit mengutarakan, "kami butuh perubahan, bukan kebohongan".

















