- DPR Dorong Percepatan Teknologi Pengolahan Sampah Usai Tragedi Bantargebang
- Bicarakan Digitalisasi Layanan Pertanahan di Universitas Udayana, Wamen Ossy: Bukan Sekadar Ganti Dokumen Kertas ke Digital
- Kementerian ATR/BPN Tegaskan Tidak Ada Program Pemutihan Sertipikat Tanah
- Pemerintah Umumkan Kebijakan WFA, Menteri Nusron Pastikan Kantah Tetap Buka Layani Masyarakat
- Jelang Operasi Ketupat Semeru 2026, Kapolres Blitar Kota Cek Kesiapan Kendaraan Dinas
- Panic Buying BBM Jadi Alarm Nasional, Ateng Sutisna Soroti Lemahnya Logistik Energi
- Hujan di Jatiwangi dan Harapan Baru UMKM
- Menteri Ara Lepas 14 Truk Genteng UMKM dari Majalengka
- Harga Daging Rp140 Ribu/Kg, Mendag Pastikan Pasokan Sembako Aman Jelang Lebaran
- Satgas BPKAD Akan Sidak Lahan Fasos Fasum RW 09 Kel.Kutabumi Yang Diduga Dikomersilkan
DPR Dorong Percepatan Teknologi Pengolahan Sampah Usai Tragedi Bantargebang

Keterangan Gambar : Anggota Komisi XII DPR RI dari Fraksi PKS, Ateng Sutisna, menyoroti tragedi longsor gunungan sampah di TPST Bantargebang.
MEGAPOLITANPOS.COM BEKASI - Tragedi longsor gunungan sampah di TPST Bantargebang, Kota Bekasi, Jawa Barat, kembali mengguncang publik. Tumpukan sampah raksasa yang selama ini menjadi penopang sistem pengelolaan sampah ibu kota berubah menjadi bencana, menelan empat korban jiwa.
Peristiwa memilukan ini mendapat sorotan dari anggota Komisi XII DPR RI dari Fraksi PKS, Ateng Sutisna. Dalam keterangan di akun Instagram resminya yang dikutip pada Kamis (12/03/2026), Ateng menyebut tragedi tersebut sebagai alarm keras bagi krisis pengelolaan sampah di Indonesia.
"Tragedi yang merenggut nyawa rakyat kecil ini adalah alarm paling keras bahwa tata kelola persampahan kita sedang berada di ambang krisis serius," ujar Ateng.
Baca Lainnya :
- DPR Dorong Percepatan Teknologi Pengolahan Sampah Usai Tragedi Bantargebang
- Panic Buying BBM Jadi Alarm Nasional, Ateng Sutisna Soroti Lemahnya Logistik Energi
- Hujan di Jatiwangi dan Harapan Baru UMKM
- Menteri Ara Lepas 14 Truk Genteng UMKM dari Majalengka
- Bazar Peduli Ramadhan di Majalengka Diserbu Warga, Sembako hingga Pakaian Murah Laris Manis
Ia menilai penumpukan sampah dalam jumlah masif di tempat pembuangan akhir tanpa rekayasa teknik yang memadai telah menciptakan ancaman besar bagi keselamatan masyarakat.
"Penumpukan sampah masif di TPA tanpa rekayasa teknik yang memadai menciptakan bom waktu ekologis yang sewaktu-waktu bisa memakan korban," katanya.
Menurut Ateng, tragedi di Bantargebang bukan sekadar kecelakaan biasa, tetapi cerminan kegagalan sistem pengelolaan sampah yang masih bergantung pada metode open dumping atau pembuangan terbuka.
"Kita masih bergantung pada metode primitif open dumping. Pilihan ini akhirnya menuntut bayaran mahal: nyawa manusia," ujarnya.
Ia menegaskan bahwa tragedi ini harus menjadi titik balik bagi pemerintah pusat maupun daerah untuk melakukan reformasi besar dalam tata kelola persampahan nasional. Tanpa perubahan nyata, ia khawatir kejadian serupa akan kembali terulang di berbagai daerah.
Ateng pun mendorong percepatan pembangunan fasilitas pengelolaan sampah modern seperti Intermediate Treatment Facility (ITF), Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa), serta Refuse Derived Fuel (RDF). Selain itu, teknologi landfill mining dinilai perlu segera dikembangkan untuk mengurangi gunungan sampah yang sudah ada.
"Pengelolaan sampah harus berubah. Pembangunan fasilitas modern seperti ITF, PLTSa, dan RDF serta pemanfaatan teknologi landfill mining harus dipercepat," katanya.
Menurut Ateng, tragedi Bantargebang seharusnya menjadi peringatan keras bahwa masalah sampah bukan lagi sekadar isu lingkungan, melainkan persoalan keselamatan manusia yang tidak bisa lagi ditunda penyelesaiannya. ** (Agit)
















