- Hearing DPRD Barito Utara Hasilkan Dua Kesimpulan Penting, Percepatan Raperda P4GN dan Dukungan Anggaran
- Naruk Saritani Sepakat, Hasil Hearing P4GN Jadi Langkah Bersama Perangi Narkoba
- Dukung Relawan Antinarkoba, Taufik Minta Kesbangpol Rinci Kebutuhan Anggaran
- Wamendesa Dorong Produk Unggulan Desa Tembus Pasar Internasional.
- Sachrudin-Baznas, Perkuat Peran Masjid Melalui TBMM.
- Kementerian UMKM Salurkan Bantuan Alat Produksi untuk Pulihkan Usaha Pascabencana di Aceh
- Ekspor Makanan RI Tembus US$4,49 Miliar, 500 Merek dari 13 Negara Ramaikan SIAL 2026
- Bupati Hasbi Sambut Menhan Sjafrie di Lebak, Yonif TP 840 Diminta Dukung Pembangunan Daerah.
- Hadapi Cuaca Ekstrem, Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi 2026 polres Blitar Apel Siaga Bencana.
- 30 Tahun ke Depan, Sachrudin Siapkan Arah Pengelolaan Lingkungan Berkelanjutan.
DPR Dorong Percepatan Teknologi Pengolahan Sampah Usai Tragedi Bantargebang

Keterangan Gambar : Anggota Komisi XII DPR RI dari Fraksi PKS, Ateng Sutisna, menyoroti tragedi longsor gunungan sampah di TPST Bantargebang.
MEGAPOLITANPOS.COM BEKASI - Tragedi longsor gunungan sampah di TPST Bantargebang, Kota Bekasi, Jawa Barat, kembali mengguncang publik. Tumpukan sampah raksasa yang selama ini menjadi penopang sistem pengelolaan sampah ibu kota berubah menjadi bencana, menelan empat korban jiwa.
Peristiwa memilukan ini mendapat sorotan dari anggota Komisi XII DPR RI dari Fraksi PKS, Ateng Sutisna. Dalam keterangan di akun Instagram resminya yang dikutip pada Kamis (12/03/2026), Ateng menyebut tragedi tersebut sebagai alarm keras bagi krisis pengelolaan sampah di Indonesia.
"Tragedi yang merenggut nyawa rakyat kecil ini adalah alarm paling keras bahwa tata kelola persampahan kita sedang berada di ambang krisis serius," ujar Ateng.
Baca Lainnya :
- Nurhadi Anggota DPR RI : Perlancar Layanyan Kesehatan Serahkan Mobil Ambulan Untuk Pemdes Bacem.
- Pasien Puskesmas Bantarujeg Viral, Bupati Majalengka Evaluasi Total
- Kapolres Majalengka Bongkar Dua Kasus Pengeroyokan, Ini Kronologinya
- Hasil Pilkades Kebonjati Dipertanyakan, Warga Soroti Sistem QR Code
- Sejarah Baru Pramuka Majalengka, 545 Anggota Resmi Jadi Pramuka Garuda
Ia menilai penumpukan sampah dalam jumlah masif di tempat pembuangan akhir tanpa rekayasa teknik yang memadai telah menciptakan ancaman besar bagi keselamatan masyarakat.
"Penumpukan sampah masif di TPA tanpa rekayasa teknik yang memadai menciptakan bom waktu ekologis yang sewaktu-waktu bisa memakan korban," katanya.
Menurut Ateng, tragedi di Bantargebang bukan sekadar kecelakaan biasa, tetapi cerminan kegagalan sistem pengelolaan sampah yang masih bergantung pada metode open dumping atau pembuangan terbuka.
"Kita masih bergantung pada metode primitif open dumping. Pilihan ini akhirnya menuntut bayaran mahal: nyawa manusia," ujarnya.
Ia menegaskan bahwa tragedi ini harus menjadi titik balik bagi pemerintah pusat maupun daerah untuk melakukan reformasi besar dalam tata kelola persampahan nasional. Tanpa perubahan nyata, ia khawatir kejadian serupa akan kembali terulang di berbagai daerah.
Ateng pun mendorong percepatan pembangunan fasilitas pengelolaan sampah modern seperti Intermediate Treatment Facility (ITF), Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa), serta Refuse Derived Fuel (RDF). Selain itu, teknologi landfill mining dinilai perlu segera dikembangkan untuk mengurangi gunungan sampah yang sudah ada.
"Pengelolaan sampah harus berubah. Pembangunan fasilitas modern seperti ITF, PLTSa, dan RDF serta pemanfaatan teknologi landfill mining harus dipercepat," katanya.
Menurut Ateng, tragedi Bantargebang seharusnya menjadi peringatan keras bahwa masalah sampah bukan lagi sekadar isu lingkungan, melainkan persoalan keselamatan manusia yang tidak bisa lagi ditunda penyelesaiannya. ** (Agit)
















