- Tak Pakai Helm hingga Lawan Arus? Kini Langsung Tertangkap ETLE Handheld di Kota Tangerang
- Kejati Banten Diduga Lamban Tangani Lapdu LSM Barata
- Baznas Kabupaten Blitar Hadir Dengan Konsep Nyata Bedah Kesenjangan Sosial dan Ekonomi
- DPRD Kota Tangerang Desak RDF Dibangun di Tiap Kecamatan, Sampah Rawa Kucing Bisa Berkurang Drastis
- Wali Kota Blitar Raih Juara 3 Nasional Berkinerja Tinggi dari Mendagri
- Komite Lintas Agama Gelar Halal Bihalal di Jakarta Barat, Perkuat Toleransi dan Persatuan Bangsa
- Jelang May Day 2026, Bupati Majalengka Kumpulkan Serikat Buruh : Janji Serap Tenaga Kerja hingga Jaga Kondusivitas Investasi
- Kapolres Majalengka Tegaskan Pengamanan Humanis May Day 2026 : Aspirasi Buruh Dijamin, Ketertiban Jadi Prioritas
- Heboh! Warga Temukan Mayat Mengambang di Sungai, Polisi Pastikan Bukan Pembunuhan
- Menteri UMKM Lantik Sekretaris Kementerian dan Deputi Kewirausahaan
DPR Dorong Percepatan Teknologi Pengolahan Sampah Usai Tragedi Bantargebang

Keterangan Gambar : Anggota Komisi XII DPR RI dari Fraksi PKS, Ateng Sutisna, menyoroti tragedi longsor gunungan sampah di TPST Bantargebang.
MEGAPOLITANPOS.COM BEKASI - Tragedi longsor gunungan sampah di TPST Bantargebang, Kota Bekasi, Jawa Barat, kembali mengguncang publik. Tumpukan sampah raksasa yang selama ini menjadi penopang sistem pengelolaan sampah ibu kota berubah menjadi bencana, menelan empat korban jiwa.
Peristiwa memilukan ini mendapat sorotan dari anggota Komisi XII DPR RI dari Fraksi PKS, Ateng Sutisna. Dalam keterangan di akun Instagram resminya yang dikutip pada Kamis (12/03/2026), Ateng menyebut tragedi tersebut sebagai alarm keras bagi krisis pengelolaan sampah di Indonesia.
"Tragedi yang merenggut nyawa rakyat kecil ini adalah alarm paling keras bahwa tata kelola persampahan kita sedang berada di ambang krisis serius," ujar Ateng.
Baca Lainnya :
- Jelang May Day 2026, Bupati Majalengka Kumpulkan Serikat Buruh : Janji Serap Tenaga Kerja hingga Jaga Kondusivitas Investasi
- Kapolres Majalengka Tegaskan Pengamanan Humanis May Day 2026 : Aspirasi Buruh Dijamin, Ketertiban Jadi Prioritas
- Heboh! Warga Temukan Mayat Mengambang di Sungai, Polisi Pastikan Bukan Pembunuhan
- YPPM Tegas Buka Suara Soal Polemik UNMA : Tolak Intimidasi, Tegakkan Legalitas Kampus
- Pamit ke ATM, Motor Dibawa Kabur! Aksi Licik Curanmor PCX di Majalengka Berakhir Diborgol Polisi
Ia menilai penumpukan sampah dalam jumlah masif di tempat pembuangan akhir tanpa rekayasa teknik yang memadai telah menciptakan ancaman besar bagi keselamatan masyarakat.
"Penumpukan sampah masif di TPA tanpa rekayasa teknik yang memadai menciptakan bom waktu ekologis yang sewaktu-waktu bisa memakan korban," katanya.
Menurut Ateng, tragedi di Bantargebang bukan sekadar kecelakaan biasa, tetapi cerminan kegagalan sistem pengelolaan sampah yang masih bergantung pada metode open dumping atau pembuangan terbuka.
"Kita masih bergantung pada metode primitif open dumping. Pilihan ini akhirnya menuntut bayaran mahal: nyawa manusia," ujarnya.
Ia menegaskan bahwa tragedi ini harus menjadi titik balik bagi pemerintah pusat maupun daerah untuk melakukan reformasi besar dalam tata kelola persampahan nasional. Tanpa perubahan nyata, ia khawatir kejadian serupa akan kembali terulang di berbagai daerah.
Ateng pun mendorong percepatan pembangunan fasilitas pengelolaan sampah modern seperti Intermediate Treatment Facility (ITF), Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa), serta Refuse Derived Fuel (RDF). Selain itu, teknologi landfill mining dinilai perlu segera dikembangkan untuk mengurangi gunungan sampah yang sudah ada.
"Pengelolaan sampah harus berubah. Pembangunan fasilitas modern seperti ITF, PLTSa, dan RDF serta pemanfaatan teknologi landfill mining harus dipercepat," katanya.
Menurut Ateng, tragedi Bantargebang seharusnya menjadi peringatan keras bahwa masalah sampah bukan lagi sekadar isu lingkungan, melainkan persoalan keselamatan manusia yang tidak bisa lagi ditunda penyelesaiannya. ** (Agit)

















