- Kumpulkan Seluruh Pejabat Administrator Pusat dan Daerah, Sekjen ATR/BPN: Pelayanan Harus Tetap Optimal.
- Wujud Nyata Koramil, Ciptakan Situasi Wilayah Aman dan Kondusif
- Maryono Apresiasi Kontribusi Ormas dalam Menjaga Trantibum.
- 20 Siswa Keracunan MBG SPPG Cik Ditiro Telan Korban Diduga Dari Makanan Rolade Telur.
- Kemenkop Fokus Perkuat KDKMP dan Tata Kelola Koperasi Nasional
- Temuan Botol Miras dan Dugaan Pungli di Kalijodo, Pramono: Sudah Saya Minta Dibersihkan
- Bupati Minta Kepala Perangkat Daerah Kawal Pelaksanaan APBD Perubahan 2026 Secara Bertanggung Jawab
- Paripurna APBD Perubahan 2026, Pemkab Barito Utara Tekankan Anggaran Berorientasi Kepentingan Masyarakat
- Nurhadi DPR RI: Keracunan Masal Puluhan Siswa di Blitar BGN, Dinas Kesehatan Investigasi Mendalam .
- Maryono: Jangan Ragu, Asalkan Benar dan Sesuai Aturan!
Menyikapi Tawuran di Basura, PKS: Sulitnya Mencari Lapangan Pekerjaan

MEGAPOLITANPOS.COM, Jakarta - PKS menyoroti kembali pecahnya tawuran di Basura,( Jl.Basuki Rahmat) Jakarta Timur. PKS menilai tawuran tak bisa ditangani jika latar belakangnya tak dibereskan.
"Apabila kita melihat fenomena sosial di masyarakat yang negatif, sudah seharusnya aparat melihat latar belakang kejadian itu, bukan sekadar mencari solusi. Kalau solusi, bikin MoU, bikin kesepakatan damai, itu nggak ada berperan apa-apa kalau sumber atau latar belakangnya tak dibereskan," kata Anggota DPRD DKI Jakarta dari F-PKS, Abdul Aziz kepada wartawan, Sabtu (29/6/2024).
Baca Lainnya :
- Ketua Bidang Perempuan PKS Dorong Kampus Bahas Isu Homoseksualitas Secara Objektif dan Menyeluruh
- Makna Kartini Masa Kini, DPR Soroti Pendidikan Perempuan dan Ketahanan Keluarga
- H. Iing Misbahuddin Sebut Halal Bihalal PKS Wadah Satukan Visi Bangun Majalengka
- Halal Bihalal PKS Majalengka Dihadiri Bupati dan DPR RI, Seruan Langkung Sae Menguat
- Anis Byarwati: Reformasi Pajak Harus Perluas Basis, Bukan Sekadar Digitalisasi

Aziz berpandangan latar belakang warga melakukan tawuran karena motif ekonomi, yakni tak memiliki pekerjaan. Menurutnya, masyarakat yang terhimpit masalah ekonomi bisa saja menyalurkan rasa frustasinya ke aksi tawuran.
Orang-orang cenderung tawuran karena mereka nggak punya kegiatan, mereka nggak bisa kerja, mereka frustasi dengan keadaan itu, tak bisa mencari uang, kehidupan pas-pasan, akhirnya mereka stress. Ketemu teman-teman yang punya hal sama akhirnya disalurkan dalam bentuk miras, sehingga kehilangan pola pikir dan akhirnya terjadinya tawuran," jelasnya.
Oleh karena itu, Aziz menekankan bahwa yang diperlukan saat ini ialah menciptakan lapangan kerja sebanyak-banyaknya. Sekretaris DPW PKS Jakarta itu meyakini, apabila warga diberikan lapangan kerja maka tawuran pun bisa berkurang.
"Jadi yang perlu dipikirkan sekarang adalah menciptakan lapangan kerja sebanyak banyaknya, sehingga anak muda kita punya kegiatan untuk punya uang, mereka nggak stress sehingga mereka memikirkan masa depan," terangnya.
"Kalau sudah diberikan lapangan kerja tapi mereka masih tawuran, itu tindakan kriminal murni, bukan lagi gejala sosial. Tapi kalau sekarang kita lakukan dengan tindakan hukum pun, pada akhirnya mereka jadi korban pemerintah yang tak ciptakan lapangan kerja," sambungnya.
Sebelumnya diberitakan, Tawuran antarwarga kembali terjadi di Jalan Basuki Rahmat (Bassura) Kelurahan Cipinang Besar Utara, Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur (Jaktim). Lagi-lagi, tawuran dipicu warga saling ejek.
Tawuran tersebut melibatkan warga RW 01 dan RW 02 pada Kamis (27/6), sekitar pukul 05.30 WIB. Para pelaku tawuran itu menggunakan berbagai benda, seperti batu, petasan, dan senjata tajam.
Tawuran kali ini terjadi dipicu warga saling ejek. Pada awal tahun lalu, telah dibuat deklarasi damai buntut terjadinya tawuran serupa.
Deklarasi damai diteken perwakilan warga RW 01 dan RW 02 di Taman Bassura pada Minggu (28/1). kata Kapolres Metro Jaktim Kombes Nicolas Ary Lilipaly mengatakan ada sejumlah faktor yang menyebabkan tawuran kembali terjadi.
Kapolres Nicolas merinci seperti faktor ekonomi, pendidikan, kehidupan sosial, dan budaya. Selain itu, pengawasan orang tua yang kurang.
"Ada rasa dendam dan kepuasan diri sendiri dan lainnya," kata Nicolas, Jumat (28/6/2024).
Polres Jakarta Timur sudah melakukan berbagai upaya, baik preventif dan represif. Upaya tersebut dilakukan agar tawuran tak terulang kembali.
"Tawuran ini terjadi diawali dari adanya aksi saling ejek dari masing-masing kelompok. Kemudian, adanya aksi balas dendam dengan aksi sebelumnya,"tutup Nicolas.(Reporter: Achmad Sholeh Alek).


.jpg)
.jpg)












