- Progres Pekerjaan Jembatan Garuda Kodim 0510/Trs Terus Dikebut
- Gerak Cepat Kodim Tangerang, Jembatan Garuda Dikebut Demi Kelancaran 500 KK
- Kakanwil Kamenag Provinsi Banten Resmikan MTsN 8 Tangerang
- DLH Majalengka Benahi TPS Kubang, Siapkan Penertiban
- Lebaran Ketupat 2026 : Seruan Keras Maman Imanulhaq Soal BBM dan Haji
- H Ateng Sutisna : WFH Bukan Solusi Instan, Distribusi LPG Harus Dibenahi
- Rp 2,64 Miliar PKH Digelontorkan di Majalengka, 3.701 KPM Terima Bantuan
- Silaturahmi Idul Fitri, Kakanwil Kemenag Prov Banten dan Kajati Bangun Sinergi
- Surani : Truck Banpres Semangat dan Harapan Baru KDMP Desa Tambarekjo Berjaya
- Dibalik Kemewahan dan Utang, Film Aku Harus Mati, Ungkap Sisi Gelap Ambisi
H Ateng Sutisna : WFH Bukan Solusi Instan, Distribusi LPG Harus Dibenahi

Keterangan Gambar : Anggota Komisi XII DPR RI, H Ateng Sutisna. (dok. instagram)
MEGAPOLITANPOS.COM JAKARTA - Anggota DPR RI dari Fraksi PKS, Ateng Sutisna, melontarkan dua sorotan tajam terkait persoalan energi nasional. Wacana penerapan work from home (WFH) untuk menekan konsumsi BBM, serta berulangnya kelangkaan LPG 3 kilogram saat momentum Lebaran.
Pernyataan tersebut disampaikan melalui akun pribadi media sosialnya, dikutip pada Sabtu, (28/03/2025).
Dalam unggahannya, Ateng menilai wacana WFH satu hari dalam sepekan sebagai langkah yang perlu dikaji secara mendalam, bukan sekadar solusi instan. Ia menekankan bahwa kebijakan tersebut harus berbasis perhitungan matang agar benar-benar berdampak signifikan terhadap penurunan konsumsi bahan bakar minyak.
Baca Lainnya :
- DLH Majalengka Benahi TPS Kubang, Siapkan Penertiban
- H Ateng Sutisna : WFH Bukan Solusi Instan, Distribusi LPG Harus Dibenahi
- Rp 2,64 Miliar PKH Digelontorkan di Majalengka, 3.701 KPM Terima Bantuan
- Gejolak Global Guncang BBM Nasional, Majalengka Respon Cepat dengan WFH
- Libur Usai, Sidak Dimulai! Bupati Majalengka Tegas : ASN Harus Langsung Gaspol
"WFH bisa menjadi opsi, tapi harus dievaluasi secara komprehensif. Jangan sampai hanya jadi kebijakan simbolik tanpa dampak nyata terhadap penghematan energi," tegasnya.
Selain itu, Ateng juga menyoroti persoalan klasik yang kembali terulang setiap tahun, yakni kelangkaan LPG 3 kg terutama saat periode Lebaran. Ia menilai distribusi yang belum optimal menjadi akar persoalan yang harus segera dibenahi oleh pemerintah.
"Kelangkaan LPG 3 kg saat Lebaran ini bukan hal baru. Artinya ada yang tidak beres dalam sistem distribusi. Ini harus jadi perhatian serius," ujarnya.
Menurutnya, pemerintah perlu melakukan evaluasi menyeluruh terhadap rantai pasok energi bersubsidi, mulai dari distribusi hingga pengawasan di lapangan. Ia juga mendorong adanya transparansi dan akurasi data penerima subsidi agar penyaluran lebih tepat sasaran.
Sorotan ini muncul di tengah meningkatnya konsumsi energi nasional pasca-mudik Lebaran, di mana mobilitas masyarakat melonjak signifikan dan berdampak langsung pada kebutuhan BBM serta LPG.
Pengamat menilai, kombinasi antara kebijakan efisiensi seperti WFH dan pembenahan distribusi energi bisa menjadi kunci untuk meredam tekanan konsumsi nasional. Namun, tanpa eksekusi yang tepat, kedua isu ini berpotensi terus menjadi masalah berulang setiap tahun.
Pemerintah kini didorong untuk tidak hanya merespons secara jangka pendek, tetapi juga menyiapkan strategi jangka panjang guna menjaga stabilitas energi nasional di tengah dinamika global dan lonjakan kebutuhan domestik. ** (Agit)


.jpg)













