- BNI Ingatkan Nasabah Waspadai Modus Penipuan BNIdirect
- Hadir di Pernikahan Bupati Sampaikan Doa dan Harapan bagi Kehidupan Rumah Tangga Pengantin
- Bandung Zoo Punya Pengelola Baru, Fauna Land Siap Ubah Wajah Kebun Binatang Legendaris
- Jalur Laut Malaysia-Indonesia Digagalkan, TNI AL Selamatkan 12 Ribu Generasi Muda dari Narkoba
- Regenerasi Bulu Tangkis Indonesia Berbuah Manis, Dua Tunggal Putra Muda Melaju ke Semifinal Australian Open
- DPRD Harapkan Pelibatan Warga dan Penegakan RT-RW dalam Penataan Permukiman
- Kejelasan Aturan dalam Raperda Perumahan dan Permukiman Kumuh Jadi Sorotan DPRD
- DPRD Dorong Raperda Wujudkan Kawasan Permukiman Berkelanjutan
- Ribuan Relawan Penggiat MBG Blitar Raya Akan Melakukan Aksi Damai
- Dari Kebun hingga Cangkir Dunia, PTPN I Perkuat Rantai Pasok Kopi Premium Indonesia
H Ateng Sutisna : WFH Bukan Solusi Instan, Distribusi LPG Harus Dibenahi

Keterangan Gambar : Anggota Komisi XII DPR RI, H Ateng Sutisna. (dok. instagram)
MEGAPOLITANPOS.COM JAKARTA - Anggota DPR RI dari Fraksi PKS, Ateng Sutisna, melontarkan dua sorotan tajam terkait persoalan energi nasional. Wacana penerapan work from home (WFH) untuk menekan konsumsi BBM, serta berulangnya kelangkaan LPG 3 kilogram saat momentum Lebaran.
Pernyataan tersebut disampaikan melalui akun pribadi media sosialnya, dikutip pada Sabtu, (28/03/2025).
Dalam unggahannya, Ateng menilai wacana WFH satu hari dalam sepekan sebagai langkah yang perlu dikaji secara mendalam, bukan sekadar solusi instan. Ia menekankan bahwa kebijakan tersebut harus berbasis perhitungan matang agar benar-benar berdampak signifikan terhadap penurunan konsumsi bahan bakar minyak.
Baca Lainnya :
- Bupati Eman Puji Reksa Siaga TNI AU, Warga Majalengka Takjub
- Gerak Serentak PKK Majalengka Guncang Desa :26 Kecamatan Disisir, Bantuan Digelontorkan
- Pengedar Tramadol Digerebek di Majalengka, 101 Butir Disita Polisi
- Kapolres Rita Suwadi Ungkap Begal Jalanan, Residivis Kembali Beraksi
- Majalengka Raih Penghargaan Nasional Berkat Sukses Kendalikan Inflasi
"WFH bisa menjadi opsi, tapi harus dievaluasi secara komprehensif. Jangan sampai hanya jadi kebijakan simbolik tanpa dampak nyata terhadap penghematan energi," tegasnya.
Selain itu, Ateng juga menyoroti persoalan klasik yang kembali terulang setiap tahun, yakni kelangkaan LPG 3 kg terutama saat periode Lebaran. Ia menilai distribusi yang belum optimal menjadi akar persoalan yang harus segera dibenahi oleh pemerintah.
"Kelangkaan LPG 3 kg saat Lebaran ini bukan hal baru. Artinya ada yang tidak beres dalam sistem distribusi. Ini harus jadi perhatian serius," ujarnya.
Menurutnya, pemerintah perlu melakukan evaluasi menyeluruh terhadap rantai pasok energi bersubsidi, mulai dari distribusi hingga pengawasan di lapangan. Ia juga mendorong adanya transparansi dan akurasi data penerima subsidi agar penyaluran lebih tepat sasaran.
Sorotan ini muncul di tengah meningkatnya konsumsi energi nasional pasca-mudik Lebaran, di mana mobilitas masyarakat melonjak signifikan dan berdampak langsung pada kebutuhan BBM serta LPG.
Pengamat menilai, kombinasi antara kebijakan efisiensi seperti WFH dan pembenahan distribusi energi bisa menjadi kunci untuk meredam tekanan konsumsi nasional. Namun, tanpa eksekusi yang tepat, kedua isu ini berpotensi terus menjadi masalah berulang setiap tahun.
Pemerintah kini didorong untuk tidak hanya merespons secara jangka pendek, tetapi juga menyiapkan strategi jangka panjang guna menjaga stabilitas energi nasional di tengah dinamika global dan lonjakan kebutuhan domestik. ** (Agit)

.jpg)









.jpg)





