- Dewan Hasrat Minta Program Antinarkoba Berbasis Pemetaan, Anggaran Harus Terukur hingga Hasilnya
- Hasrat PAN Usulkan Lomba Cerita Pendek Bahaya Narkoba, Edukasi Generasi Muda Lewat Media Sosial
- Hasrat Minta SOP Perlindungan Relawan Antinarkoba, Masyarakat Pelapor Jangan Dibiarkan Takut
- Hasrat PAN Dukung Perda P4GN dan Anggaran Antinarkoba, Selamatkan Generasi Muda Barito Utara
- Peredaran Narkoba Jadi Keprihatinan, Ardianto Soroti Dugaan Jaringan Narkoba hingga Wilayah Desa
- Ardianto Minta Bupati Perkuat Peran Kades dalam Pencegahan Narkoba
- Perkuat Sinergi Pertahanan Serumpun, Pangkogabwilhan II Sambut Kunjungan PP Tentara Malaysia di Mako Kogabwilhan II
- Perkokoh Soliditas TNI, Pangkogabwilhan II Sambut Kunjungan Kerja Danrem 091/ASN.
- Pangkogabwilhan II Terima Kunjungan Kootban Wilayah VII, Perkuat Sinergitas dan Koordinasi Pertahanan.
- Dukung Ketahanan Pangan, Babinsa Koramil 0808/15 Gandusari Dampingi Petani Panen Cabai Di Desa Semen.
WFH Dipertanyakan, DPR Angkat Suara : Hemat BBM atau Sekadar Ilusi Kebijakan

Keterangan Gambar : Anggota DPR RI, Ir. H Ateng Sutisna, M.BA
MEGAPOLITANPOS.COM JAKARTA - Kebijakan Work From Home (WFH) satu hari dalam sepekan yang digadang-gadang sebagai solusi penghematan energi kini menghadapi ujian serius. Di tengah tekanan global terhadap sektor energi, suara kritis datang dari parlemen.
Anggota DPR RI dari Fraksi PKS, Ir. H. Ateng Sutisna, M.BA melontarkan peringatan keras. Ia menilai kebijakan tersebut belum tentu efektif dalam menekan konsumsi bahan bakar minyak (BBM), bahkan berpotensi melenceng dari tujuan awal.
Dalam pernyataan yang diunggah pada Minggu (29/03/2026), H. Ateng menegaskan bahwa tanpa perhitungan yang matang, WFH justru bisa memicu pergeseran pola mobilitas. Aktivitas kerja yang berkurang bukan berarti konsumsi energi ikut turun sebaliknya, masyarakat bisa beralih ke aktivitas non esensial yang tetap menyedot BBM.
Baca Lainnya :
- Nurhadi Anggota DPR RI : Perlancar Layanyan Kesehatan Serahkan Mobil Ambulan Untuk Pemdes Bacem.
- Pasien Puskesmas Bantarujeg Viral, Bupati Majalengka Evaluasi Total
- Kapolres Majalengka Bongkar Dua Kasus Pengeroyokan, Ini Kronologinya
- Hasil Pilkades Kebonjati Dipertanyakan, Warga Soroti Sistem QR Code
- Sejarah Baru Pramuka Majalengka, 545 Anggota Resmi Jadi Pramuka Garuda
"Jika tidak dihitung dengan cermat, kebijakan ini hanya memindahkan pola konsumsi, bukan menguranginya," tegasnya.
Lebih dari sekadar angka konsumsi, ia menyoroti akar persoalan yang dinilai selama ini luput dari perhatian distribusi subsidi energi.
Menurutnya, fokus kebijakan seharusnya tidak berhenti pada pembatasan aktivitas, tetapi menyasar siapa yang benar-benar berhak menikmati subsidi tersebut.
"Masalah utamanya bukan sekadar berapa yang dikonsumsi, tetapi siapa yang menikmati subsidi itu," ujarnya tajam.
Tak hanya soal energi, dampak lanjutan dari kebijakan ini juga dinilai mengancam denyut ekonomi rakyat kecil.
Berkurangnya aktivitas perkantoran berpotensi memukul pelaku usaha di sekitar kawasan kerja dari pedagang kaki lima hingga warung makan yang selama ini bergantung pada mobilitas pekerja.
Desakan agar kebijakan ini dikaji ulang pun menguat. H. Ateng mengingatkan, kebijakan publik yang tidak berpijak pada realitas lapangan berisiko menjadi sekadar simbol, tanpa dampak nyata.
Di tengah situasi global yang belum stabil, peringatan ini menjadi sinyal bahwa langkah penghematan energi tidak bisa dilakukan setengah hati. Tanpa evaluasi menyeluruh, kebijakan seperti WFH justru bisa menjadi bumerang mengaburkan target, sekaligus meninggalkan persoalan baru di sektor ekonomi dan distribusi energi nasional. ** (Agit)




.jpg)





.jpg)





