- DPRD Sambut Positif Langkah Pemkot Tangerang Akhiri Kerja Sama PSEL Dengan PT Oligo
- Darurat Sampah Nasional : DPRD Minta Pemkot Kota Tangerang Mentransformasi Tata Kelola Sampah
- DPRD Apresiasi Respons Cepat Pemkot Tangerang Tangani Banjir
- Ketua DPRD Terima Tokoh Agama dan Masyarakat, Tabayun Soal Isu Revisi Perda 7 & 8
- AC Manual vs AC Digital di Mobil Modern: Prinsip Sama, Cara Rawatnya Tak Boleh Salah
- Raymond Indra dan Joaquin Ukir Runner-up di Istora, Disebut Penerus Kevin/Marcus
- Anggota DPRD Barito Utara Nilai ORARI Tetap Strategis di Tengah Perkembangan Teknologi
- Alwi Farhan Juara Tunggal Putra Indonesia Masters 2026, BNI: Bukti Pembinaan PBSI Efektif
- Sosok Politisi Ini Tegaskan Kawal Program MBG, Jika Tidak Bisa Jadi Ancaman Anggaran Negara
- Jebol Sungai Cimanuk di Majalengka, Area Pertanian dan Rumah Warga Terendam Banjir
Mengapa Harus #AdiliJokowi?
.jpg)
Keterangan Gambar : Deodatus Sunda Se, Ketua GMNI Jaksel
Analisis Dampak Kebijakan dan Pengelolaan Anggaran yang Menyebabkan Kesengsaraan Rakyat
Deodatus Sunda Se, Ketua GMNI Jaksel.
Jakarta. Megapolitanpos.com. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas oleh pemerintahan Prabowo Subianto membutuhkan anggaran sebesar 71-100 triliun per tahun. Namun, realitas anggaran yang ada justru menunjukkan ketimpangan dan ketidakefisienan dalam pengelolaan dana publik. Luhut Binsar Pandjaitan, salah satu tokoh penting dalam pemerintahan sebelumnya, mengungkapkan bahwa dari total anggaran bantuan sosial (bansos) sebesar Rp 500 triliun, hanya separuh yang benar-benar diterima dan tepat sasaran. Anggaran tersebut digunakan pada masa pemerintahan Joko Widodo (Jokowi), namun penggunaannya dilakukan tanpa sepengetahuan Kementerian Sosial (Kemensos).
Baca Lainnya :
- Mengapa Harus #AdiliJokowi?
- GMNI Desak KPK Panggil Bobby dan Kahiyang Ayu Klarifikasi Blok Medan
- Satpol PP Kota Tangerang Diduga Mandul, Tidak Berani Tertibkan Gambar Calon Walikota dan Gubernur
- Ratusan Massa GMNI Blitar Desak DPR Agar RUU Perampasan Aset Segera di Sahkan
Artinya, Rp 500 triliun yang dikatakan
Luhut sebagai anggaran yang salah sasaran seharusnya bisa dialokasikan untuk
program MBG di masa pemerintahan Prabowo Subianto selama lima tahun tanpa perlu
melakukan realokasi, efisiensi, pemotongan anggaran. Namun, karena
ketidakefisienan tersebut, pemerintah terpaksa melakukan pemotongan anggaran
yang berujung pada banyaknya pemutusan hubungan kerja (PHK) dan dampak negatif
lainnya.
Hubungan antara program MBG dan
realokasi anggaran ini tidak bisa dipisahkan dari kebijakan rezim sebelumnya,
yaitu pemerintahan Jokowi, yang dianggap menggunakan anggaran untuk kepentingan
keluarga dan kroninya. Akibatnya, pemerintah Indonesia saat ini mengalami
kekurangan anggaran, dan rakyatlah yang harus menanggung beban tersebut. Contoh
nyata adalah pemangkasan anggaran pendidikan, yang membuat anak-anak dari
keluarga miskin, terutama kaum tani kelas buruh dan rakyat miskin perkotaan,
kesulitan mengakses pendidikan. Ditambah lagi, dampak efisiensi ini memicu
kenaikan Uang Kuliah Tunggal (UKT) di tengah situasi krisis ekonomi.
Pemerintah saat ini menghadapi beban
berat akibat warisan utang dari era Jokowi yang mencapai Rp 8.500 triliun.
Utang ini memaksa pemerintah melakukan realokasi anggaran untuk memenuhi
kewajiban pembayaran utang, sehingga anggaran untuk program-program sosial,
pendidikan, dan kesehatan terpaksa dipangkas. Akibatnya, rakyat kecil yang
seharusnya menjadi prioritas justru menanggung beban terberat. Pemotongan
anggaran pendidikan, misalnya, membuat anak-anak dari keluarga miskin, terutama
kaum buruh dan rakyat miskin perkotaan, kesulitan mengakses pendidikan.
Ditambah lagi, dampak efisiensi ini memicu kenaikan Uang Kuliah Tunggal (UKT)
di tengah situasi krisis ekonomi.
Sementara itu, praktik pejabat dalam
kehidupan sehari-hari justru mempertontonkan kemewahan, sementara rakyat
mengalami kelaparan, PHK, dan putus sekolah. Lebih lanjut, pemerintah Prabowo
dalam 100 hari kerjanya dinilai tidak memperhatikan nasib dan kesengsaraan
rakyatnya.
Gerakan #AdiliJokowi: Simbol
Perlawanan terhadap Ketidakadilan
Gerakan "ADILIJOKOWI" muncul
sebagai respons atas kesengsaraan dan ketidakadilan yang dipraktikkan oleh
Jokowi dan kroninya, yang dianggap hanya mengabdi pada kepentingan oligarki.
Gerakan ini menjadi simbol perlawanan terhadap ketimpangan dan ketidakadilan
yang terjadi selama ini. Dengan demikian, tulisan ini menggambarkan betapa pentingnya pengelolaan anggaran yang transparan dan tepat sasaran untuk
mencegah ketimpangan sosial dan ekonomi yang semakin parah. Warisan utang
Jokowi yang mencapai Rp 8.500 triliun menjadi beban berat bagi pemerintah saat
ini dan rakyat, sehingga tuntutan untuk #AdiliJokowi semakin menguat sebagai
upaya memperjuangkan keadilan bagi rakyat









.jpg)






