- Bupati Eman Hadir, Makom Albab Majalengka Siap Tancap Gas 2026-2031
- Anggaran Kementerian dan Lembaga Dipotong 30 Persen per 8 Oktober, Begini Instruksi Menkeu!
- Koramil 09/Mauk Gelar Patroli Malam, Antisipasi Daerah Rawan Begal.
- Wujud Sinergi TNI dan Komduk, Dibangun Dengan Jaga Keamanan .
- Transformasi Bank DKI Jadi Bank Jakarta, Pemprov DKI Dorong Ekspansi Bisnis
- Kisah Inspiratif Dwi Suswanti Raih Gelar Doktor, Meski Sang Ibu Tak Lulus SD
- 174 Pelajar Ikuti Persami KKRI 2026 di Menarhanud 10/ABC.
- Rampas Mobil Taksi Online, Pelaku Berhasil Dibekuk Jatanras PMJ di Rangkasbitung
- Disambut Pangkogabwilhan II Marsdya TNI Muzafar, Komisi I DPR RI Tegaskan Komitmen Dukung Alutsista dan Kesejahteraan Prajurit.
- Kantah Kabupaten Tangerang Serahkan 8 Sertipikat Aset BMN untuk Dukung Pembangunan Jalan Tol Tangerang–Merak.
Kepala BK Perdag Sebut Tantangan Perdagangan Pangan Global Semakin Kompleks

Keterangan Gambar : Kepala BK Perdag Kasan
MEGAPOLITANPOS.COM, Bogor- Kepala BK Perdag Kasan menyebutkan, tantangan perdagangan pangan global saat ini semakin kompleks dan multidimensi sehingga perlu adanya gagasan-gagasan baru, khususnya dari para ekonom muda untuk membantu menyelesaikan persoalan tersebut.
“Tantangan perdagangan pangan global sangat kompleks, mulai dari perubahan iklim, perkembangan teknologi, proteksionisme, hingga yang terbaru isu friend-shoring. Perdagangan tidak lagi mengarah pada diversifikasi pasar, namun menyempit pada hubungan bilateral. Kami berharap gagasan dari para ekonom muda yang hadir dapat memberikan solusi menghadapi tantangan tersebut,” ungkap Kasan dalam seminar nasional BK Perdag) bekerja sama dengan Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) bertema “Tantangan Perdagangan Pangan Global” di IPB International Convention Center, Bogor, Jawa Barat, kemarin, Rabu, (25/10).
Kasan menjelaskan beberapa tantangan perdagangan pangan global yang perlu menjadi perhatian yang serius, yaitu pertama, perubahan iklim. World Metrological Organization (WMO) dan the US Climate Prediction Center ENSO menyatakan bahwa Kawasan di Asia Pasifik akan mengalami El Nino pada 2023.
Baca Lainnya :
- Kementerian UMKM Fasilitasi 1.000 Pengusaha Mikro di Sumatera Barat
- Kementerian UMKM Optimalkan Klinik UMKM Bangkit Percepat Pemulihan Pascabencana di Tapanuli Tengah
- Kementerian UMKM Gandeng Bank Sumut Salurkan Banpres bagi UMKM Terdampak Bencana
- Perpres Ojol Baru Atur Kemitraan, Tarif hingga Perlindungan Sosial Pengemudi
- Kementerian UMKM Ajak ASN Gemar Belanja Produk Lokal, 11 Jenama Eksportir Ikut Bazar
Sementara, El Nino di Indonesia diprediksi berlanjut pada semester II 2023 dengan kategori lemah–moderat dan Indian Ocean Dipole (IOD) diprediksi berada pada kategori positif–netral hingga Januari 2024.
Kedua, disrupsi rantai pasok yang sudah menurun, namun belum pulih secara optimal. Tekanan terhadap rantai pasok global akibat Covid-19 menyebabkan kemacetan di masing-masing mata rantai pasokan, seperti kontainer, pengiriman, pelabuhan, truk, kereta api, angkutan udara, hingga gudang.
Ketiga, perkembangan teknologi yang membuat diversifikasi produk semakin gencar dilakukan dengan berbagai penelitian. Salah satunya di bidang pangan, seperti produk pangan hasil rekayasa genetik.
Semakin beredarnya produk di pasaran yang menggunakan Genetic Modified Organism (GMO) dapat berdampak pada keamanan pangan bagi masyarakat sehingga dibutuhkan jaminan keamanan pangan.
Keempat, munculnya proteksionisme ekspor dan impor pangan oleh sejumlah negara.
Kelima, meningkatnya isu friend-shoring termasuk dalam perdagangan pangan global. Keenam, isu-isu lainnya seperti ketersediaan tenaga kerja sektor pertanian, perdebatan atas prioritas pangan, pakan, dan energy (feed-fuel-food debate), serta pengendalian gas rumah kaca.
“Friend-shoring meningkat sejak akhir tahun 2022 yang ditandai dengan reorientasi arus perdagangan bilateral untuk memprioritaskan negara-negara yang memiliki nilai politik serupa. Perang Ukraina, terputusnya saling ketergantungan perdagangan Amerika Serikat (AS)-Tiongkok, dan konsekuensi Brexit telah memainkan peran penting dalam membentuk tren utama perdagangan bilateral,” ungkap Kasan.
Lebih lanjut Kasan juga menjelaskan, perdagangan membawa kesejahteraan sebab berkontribusi terhadap ketahanan pangan, termasuk kemiskinan. Dengan demikian, diperlukan kebijakan dan strategi perdagangan pangan Indonesia yang tepat agar bisa berdampak signifikan pada peningkatan indeks ketahanan pangan Indonesia di masa mendatang.
“Gagasan para ekonom muda yang hari ini hadir diharapkan dapat melahirkan pemikiran dan perspektif baru yang diperlukan untuk penyusunan kebijakan dan strategi perdagangan pangan Indonesia di masa mendatang,” imbuh Kasan.(Reporter: Achmad Sholeh)





.jpg)



.jpg)
.jpg)





