- Operasi Keselamatan Lodaya 2026 Digelar, Ratusan Personel Amankan Majalengka
- DPR Dorong Percepatan Teknologi Pengolahan Sampah Usai Tragedi Bantargebang
- Bicarakan Digitalisasi Layanan Pertanahan di Universitas Udayana, Wamen Ossy: Bukan Sekadar Ganti Dokumen Kertas ke Digital
- Kementerian ATR/BPN Tegaskan Tidak Ada Program Pemutihan Sertipikat Tanah
- Pemerintah Umumkan Kebijakan WFA, Menteri Nusron Pastikan Kantah Tetap Buka Layani Masyarakat
- Jelang Operasi Ketupat Semeru 2026, Kapolres Blitar Kota Cek Kesiapan Kendaraan Dinas
- Panic Buying BBM Jadi Alarm Nasional, Ateng Sutisna Soroti Lemahnya Logistik Energi
- Hujan di Jatiwangi dan Harapan Baru UMKM
- Menteri Ara Lepas 14 Truk Genteng UMKM dari Majalengka
- Harga Daging Rp140 Ribu/Kg, Mendag Pastikan Pasokan Sembako Aman Jelang Lebaran
Tak Ada yang Capai 50 Persen, Pilkada Jakarta Kemungkinan Dua Putaran

Keterangan Gambar : (Dari kiri) pasangan calon Gubernur-Wakil Gubernur DKI Jakarta Ridwan Kamil dan Suswono, Dharma Pongrekun dan Kun Wardana, dan Pramono Anung-Rano Karno menunjukkan nomor urutnya saat rapat pleno pengundian dan penetapan nomor urut Calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta di KPU DKI Jakarta, Jakarta. Senin, (23/9/2024). (dok.net)
MEGAPOLITANPOS.COM Jakarta - Pilkada Jakarta diikuti oleh 3 pasangan calon (paslon) baik diusungan gabungan partai politik maupun jalur independen. Dilansir dari hasil survei Litbang Kompas Pilgub DKI Jakarta potensi dua putaran.
Hasil survei Litbang Kompas yang diselenggarakan pada 20-25 Oktober 2024 lalu, menunjukan elektabilitas untuk ketiga pasangan calon Gubernur/Wakil Gubernur Jakarta dengan hasil, nomor urut 1 Ridwan-Suswono 34,6%, nomor urut 2 Dharma-Kun 3,3%, Pramono-Rano 38,3%, untuk pemilih yang menjawab ‘tidak tahu’ sebanyak 23,8% dan belum menjawab atau menjawab rahasia sebesar 3,2% (total 27%).
Lalu sebagai dasar hukum, Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2004 tentang Provinsi Daerah Khusus Jakarta (mencabut Undang-Undang sebelumnya Nomor 29 Tahun 2007) pasal 10 ayat 2 dan 3 menyatakan paslon Gubernur dan Wakil Gubernur akan ditetapkan jika memperoleh suara lebih dari 50%, dan jika tidak tercapai perolehan suara tersebut akan diadakan pemilihan putaran kedua.
Baca Lainnya :
- Operasi Keselamatan Lodaya 2026 Digelar, Ratusan Personel Amankan Majalengka
- DPR Dorong Percepatan Teknologi Pengolahan Sampah Usai Tragedi Bantargebang
- Bicarakan Digitalisasi Layanan Pertanahan di Universitas Udayana, Wamen Ossy: Bukan Sekadar Ganti Dokumen Kertas ke Digital
- Kementerian ATR/BPN Tegaskan Tidak Ada Program Pemutihan Sertipikat Tanah
- Pemerintah Umumkan Kebijakan WFA, Menteri Nusron Pastikan Kantah Tetap Buka Layani Masyarakat
Secara praktis tentu sekmen masyarakat yang masih belum menentukan pilihannya mesti jadi target para paslon. Faktor ketidakpastian ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari kurang percaya atas janji politik, hingga minim informasi tentang visi dan misi calon apa sesuai dengan persoal Jakarta.
Analisa Situasi Pilkada DKI Jakarta oleh Pengamat
Senada menurut pengamat politik dari Universitas Al Azhar Jakarta, Ujang Komarudin bahwa pemilih Jakarta cendrung rasional dan sikapnya bisa berubah-ubah mengikuti dinamika. Pemilih Jakarta cenderung mempertimbangkan solusi yang ditawarkan para kandidat.
Sementara analisa berbeda dari pengamat politik dari Universitas Pelita Harapan (UPH), Emrus Sihombing. Dia menilai Pilkada Jakarta diprediksi satu putaran.
“Saya melihat itu satu putaran karena calon lainnya elektabilitasnya tidak begitu meningkat, di sekitar-sekitar di situ stagnan, bahkan bisa menurun,” ungkap Emrus Kamis kemarin (7/11).
Kedua pengamat menyampaikan analisa berdasarkan rasional pemilih di Jakarta, yang peka terhadap isu, juga punya solisi paling masuk akal terhadap persoalan. Diluar itu semua mereka tetap mematok terhadap kesosokan para paslon Gubernur/Wakil Gubernur ini.
Ditengah-tengah Trubus Rahadiansyah, pengemat kebijakan publik dari Universitas Trisakti menilai, meski menggagas Jakarta sebagai kota global oleh Ridwan Kamil dan Pramono Anung. Ketiga paslon tidak menguasai masalah Jakarta sepernuhnya.
Trubus juga menyampaikan sektor riset dan inovasi masih lemah yang menjadi syarat kota globar, “Yang lemah itu di sektor inovasi dan riset. Kan, salah satu syarakat untuk kota globar indikatornya mengenai inovasi dan riset. Ini nggak ada agar anggaran diperuntukan bagi para peneliti untuk riset pengembangan Jakarta misalnya,” jelasnya.
Kampanye tinggal puluhan hari lagi hingga 23 November, yang jadi harapan tidak sampai pada menang kandidat yang dipilih, tetapi dijalankan visi-misi dengan penuh pengawasan juga ketegasan dari pemimpin demi menghindari korupsi dan tepat penyusunan serta pelaksanaan regulasinya. ** (DVS)



.jpg)













