- Bupati Majalengka Beberkan Hasil Paripurna APBD 2026, Dana Tetap Aman
- APBD Majalengka 2026 Naik Jadi Rp 3,14 Triliun, Ini Rincian Anggarannya
- Persib Gagal Juara, Ateng Sutisna Ajak Bobotoh Tetap Solid dan Bermartabat
- Bupati Majalengka Ajak Ribuan Bobotoh Doakan Persib Juara Piala Presiden 2026
- Ateng Sutisna Satukan Ribuan Bobotoh, Nobar Final Persib di Majalengka Meriah
- SIAL Food & Drinks Indonesia 2026 Perkuat Posisi Indonesia sebagai Hub Pangan dan Perdagangan Global
- Kapolres Majalengka Ajak Bobotoh Junjung Sportivitas Saat Nobar Persib vs Persebaya
- Munjirin Panen Padi Ciherang di Cakung, Urban Farming Bali Lestari Hasilkan 10 Ton Gabah
- PTPN I Ubah Aset Jadi Mesin Pertumbuhan, Cafe dan Gerai Produk Hilir Segera Hadir
- PWHI Kota Tangerang Minta Dugaan Intimidasi terhadap Jurnalis Diproses Sesuai Hukum
Hujan di Jatiwangi dan Harapan Baru UMKM

Keterangan Gambar : ilustrasi
MEGAPOLITANPOS.COM OPINI - Malam itu hujan turun deras di Jatiwangi, Majalengka. Di tengah guyuran hujan, Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Maruarar Sirait tetap berdiri melepas truk genteng produksi UMKM bersama Bupati Majalengka Eman Suherman. Rabu, (11/03/2026)
Bagi sebagian orang, peristiwa itu mungkin hanya seremoni pelepasan 14 truk genteng. Tetapi bagi para pengrajin di Jatiwangi, momen itu terasa jauh lebih besar dari sekadar acara pemerintah.
Genteng yang dimuat ke truk-truk itu bukan hanya material bangunan. Ia adalah simbol kerja keras para pengrajin yang selama puluhan tahun menghidupi keluarganya dari tanah liat yang dibakar menjadi atap rumah.
Baca Lainnya :
- Bupati Majalengka Beberkan Hasil Paripurna APBD 2026, Dana Tetap Aman
- APBD Majalengka 2026 Naik Jadi Rp 3,14 Triliun, Ini Rincian Anggarannya
- Persib Gagal Juara, Ateng Sutisna Ajak Bobotoh Tetap Solid dan Bermartabat
- Bupati Majalengka Ajak Ribuan Bobotoh Doakan Persib Juara Piala Presiden 2026
- Ateng Sutisna Satukan Ribuan Bobotoh, Nobar Final Persib di Majalengka Meriah
Industri genteng Jatiwangi pernah berjaya, tetapi beberapa tahun terakhir menghadapi tekanan besar: permintaan menurun, persaingan produk pabrikan meningkat, dan pasar semakin tidak menentu.
Di tengah kondisi itu, program gentengisasi yang didorong pemerintah atas arahan Presiden Prabowo Subianto menghadirkan harapan baru. Gagasan dasarnya sederhana namun penting : pembangunan rumah rakyat tidak hanya membangun bangunan, tetapi juga menggerakkan ekonomi masyarakat di sekitarnya.
Jika setiap program perumahan menyerap produk UMKM lokal genteng, bata, kayu, hingga bahan bangunan lainnya maka pembangunan tidak hanya menghasilkan rumah, tetapi juga membuka lapangan kerja dan memperkuat ekonomi daerah.
Komitmen pembelian genteng hingga sekitar Rp 3 miliar memang bukan angka besar dalam skala proyek nasional. Namun bagi pengrajin Jatiwangi, angka itu berarti pesanan nyata, aktivitas produksi kembali berjalan, dan harapan bahwa industri tradisional mereka masih memiliki tempat di masa depan.
Tentu saja, tantangan tetap ada. UMKM juga harus mampu menjaga kualitas produk, meningkatkan standar produksi, dan menyesuaikan diri dengan kebutuhan pasar yang semakin kompetitif. Tanpa itu, peluang yang datang bisa saja tidak bertahan lama.
Namun malam hujan di Jatiwangi memberi pesan yang kuat: ketika pembangunan nasional memberi ruang bagi produk lokal, maka UMKM tidak lagi hanya menjadi penonton, tetapi ikut menjadi bagian dari roda pembangunan.
Dan mungkin dari genteng-genteng sederhana itulah, harapan ekonomi rakyat kembali disusun satu demi satu, seperti atap yang melindungi rumah-rumah di seluruh negeri. ** (Agit)











1.jpg)





