- Kakek Mujiran Resmi Bebas, PTPN I Tegaskan Komitmen BUMN Humanis
- Keluhan Pasien Meningkat, DPRD dan Pemkab Barito Utara Evaluasi Layanan RSUD dan BPJS
- Polemik Jabatan Ketua KONI Kota Blitar, Ini Kata Hendi Priono
- Pemerintah Siapkan 34 Aglomerasi Waste to Electricity, Depok dan Bogor Jadi Prioritas Pengolahan Sampah Modern
- Loyalitas Nasabah Diganjar Hadiah Mewah, BNI Kembali Hadirkan Rejeki wondr 2026
- Kementan Pastikan Pupuk Subsidi Tepat Sasaran Melalui Digitalisasi Data Petani
- Ketua Dewan Pembina PP MES Ma,ruf Amin Lantik Pengurus Masyarakat Ekonomi Syariah Periode 2026-2031
- Blok Masela Dikebut, Ateng Sutisna Ingatkan Ancaman Sosial
- Menkop Ajak Lulusan Universitas Trilogi Agar Jadi Motor Penggerak KDKMP
- BRI Life Gelar Pelepasan Tukik, Dukung Konservasi Penyu di Pantai Kuta Bali
Serapan Lokal Didorong, Program MBG Dinilai DPRD Bisa Dongkrak Kesejahteraan Petani Barito Utara

MEGAPOLITANPOS.COM - Muara Teweh – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Barito Utara dinilai memiliki potensi besar dalam meningkatkan kesejahteraan petani dan pelaku usaha lokal, jika bahan baku yang digunakan diprioritaskan dari daerah sendiri.
Hal tersebut disampaikan Anggota DPRD Barito Utara, Hasrat, dalam rapat dengar pendapat bersama pemerintah daerah dan pihak terkait, Rabu (08/04/2026).
Ia menekankan agar Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) tidak lagi bergantung pada pasokan dari luar daerah.
“Selama ini kita melihat bahan seperti sayur, ayam, ikan hingga telur masih banyak didatangkan dari luar. Padahal Muara Teweh memiliki potensi petani dan peternak lokal yang cukup besar,” ujar Hasrat.
Menurutnya, jika kebutuhan program MBG disuplai dari petani lokal, maka manfaat program tidak hanya dirasakan oleh peserta didik, tetapi juga berdampak luas terhadap perekonomian masyarakat.
“Kalau bahan diambil dari lokal, perputaran uang terjadi di daerah sendiri. Ini bisa menghidupkan UMKM, meningkatkan pendapatan petani, dan membuka peluang kerja baru,” tambahnya.
Hasrat juga menilai langkah tersebut akan memperkuat ketahanan pangan daerah. Dengan melibatkan petani lokal, distribusi bahan pangan menjadi lebih cepat, segar, dan efisien.
“Selain lebih segar, biaya distribusi juga bisa ditekan. Ini tentu berdampak pada efisiensi anggaran sekaligus kualitas makanan yang diterima anak-anak,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa program MBG seharusnya menjadi momentum untuk membangun kemandirian ekonomi daerah, bukan justru memperbesar ketergantungan pada pasokan luar.
“Manfaat MBG harus menyeluruh. Tidak hanya soal gizi anak, tapi juga kesejahteraan petani dan peternak kita. Ini peluang besar yang jangan sampai terlewat,” tegasnya.
Hasrat optimis dengan dukungan kebijakan Pemerintah Daerah, potensi pertanian dan peternakan di Muara Teweh mampu memenuhi kebutuhan program MBG secara berkelanjutan.
“Petani kita banyak, tinggal bagaimana Pemerintah hadir memastikan mereka terlibat dalam rantai pasok ini,” pungkasnya.
(A)















