- PRSI Ucapkan Selamat Nyepi, Perkuat Komitmen Program Robotika untuk Negeri
- Pastikan Kesiapan Lebaran, Bupati Barito Utara Cek Tiga Pos Strategis
- Politisi Nasdem, Hj Nety Herawati Ingatkan Pemudik Utamakan Keselamatan
- Hilal Tak Terlihat, Pemerintah Tetapkan Lebaran 2026 pada 21 Maret
- Pemerintah Tetapkan Idul Fitri 1447 Hijriah pada Sabtu 21 Maret
- Kemenhub Berangkatkan 303 Peserta Mudik Gratis Lebaran 2026 Ramah Anak dan Disabilitas Moda Kereta Api
- Legislator DPR RI Ateng Sutisna Hadirkan Posko Mudik Gratis di Pantura Subang - Pamanukan
- Ateng Sutisna Soroti Target Nol Open Dumping 2026, Dorong Reformasi Total dan Solusi RDF Berbasis Desa
- DI Pasar, Babinsa Cek Stabilitas Harga Sembako Jelang Lebaran
- Sambut Tahun Baru Saka 1948, Umat Hindu Tempek Kelapadua Depok Gelar Persembahyangan
Pusat PVTPP Dorong Varietas Hoya Yogyakarta Menuju Pentas Dunia

Keterangan Gambar : Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian (Pusat PVTPP) Kementerian Pertanian (Kementan) terus mendorong pengembangan dan pelestarian Hoya Yogyakarta
MEGAPOLITANPOS.COM, Jakarta- Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian (Pusat PVTPP) Kementerian Pertanian (Kementan) terus mendorong pengembangan dan pelestarian Hoya Yogyakarta, tanaman asli Indonesia yang tidak hanya memiliki nilai budaya lokal tetapi juga potensi besar dalam menggerakkan ekonomi, baik di tingkat nasional maupun global.
Kepala Pusat PVTPP Kementan, Leli Nuryati, menjelaskan bahwa Hoya berpotensi besar memiliki nilai ekonomi tinggi, terutama melalui pengembangan varietasnya untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik dan ekspor. “Potensi Hoya sangat besar dalam menggerakkan perekonomian. Saat ini kami menunggu pendaftaran 40 varietas Hoya lainnya oleh perkumpulan pelestari Hoya yang berbasis di Yogyakarta,” ujarnya pada Jumat, 10 Januari 2025.
Hoya Yogyakarta telah menjadi salah satu tanaman yang digemari di berbagai belahan dunia. Proses pendaftaran varietas tanaman ini memerlukan penelitian panjang, seperti yang diungkapkan oleh Hervia, seorang pelestari Hoya sekaligus pemrakarsa pendaftaran varietasnya. “konservasi tanaman Hoya sudah berlangsung selama puluhan tahun. Tangkai bunga baru bermunculan setelah 5–10 tahun pemeliharaan, dan saat itu tanaman dapat dideskripsi serta diberi nama,” jelas Hervia.
Baca Lainnya :
- Kementan Umumkan Harga Daging Sapi Disepakati Rp 55 Ribu per Kg, Berlaku hingga Lebaran 2026
- Kementerian Pertanian Pastikan Bantuan untuk Korban Banjir Bandang di Sumatera Barat Segera Tersalurkan
- Pemerintah Salurkan Bantuan Pangan untuk Korban Banjir dan Tanah Longsor di Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh
- Sabang Kondusif Pasca Penyegelan 250 Ton Beras Ilegal, Warga Justru Beri Dukungan ke Aparat
- Instruksi Tegas Mentan: Semua Bantuan Pertanian Harus untuk Petani Gurem dan Berpendapatan Rendah
Sebagai bentuk dukungan nyata terhadap pelestarian Hoya, Pusat PVTPP bersama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan (DP3) Kabupaten Sleman telah berhasil mendaftarkan sepuluh varietas Hoya secara nasional. Kesepuluh varietas tersebut adalah Pubi sembada, Asteria Maron Sembada, Cinta Sembada, Jawa Sembada, Sembada Rejo, Eksabinangun, Jenar Kuthuk, Planthaven, Padasan, Suweng Jambon.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala DP3 Sleman, Suparmono, menyampaikan apresiasi atas proses cepat pendaftaran varietas yang hanya memakan waktu tiga hari setelah dokumen lengkap dan benar. “Upaya ini membuktikan komitmen kita dalam menyelamatkan kekayaan hayati, mencegah pencurian kekayaan alam, dan memperkuat pencatatan serta dokumen varietas. Kami berharap Hoya dapat menjadi ikon ekowisata yang mendorong ekonomi lokal Sleman,” ungkapnya.
Dalam momentum ini, juga diluncurkan buku berjudul Ketika Hoya Berbunga, sebuah karya yang mendokumentasikan perjalanan panjang penelitian, pelestarian, dan pendaftaran varietas Hoya di Indonesia. Buku ini diharapkan menjadi referensi penting bagi pelaku industri hortikultura, akademisi, hingga masyarakat umum yang ingin memahami lebih dalam tentang potensi dan keunikan Hoya.
“Buku ini tidak hanya menceritakan proses teknis dan ilmiah, tetapi juga menggambarkan upaya bersama untuk menjadikan Hoya sebagai simbol pelestarian kekayaan hayati dan kebanggaan Indonesia,” ujar Leli Nuryati.
Dengan berbagai upaya tersebut, Hoya Yogyakarta diharapkan mampu menjadi komoditas unggulan yang semakin mendunia, sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pusat biodiversitas dunia.(Reporter: Achmad Sholeh Alek).

















