- Hendik Budi Yuantoro Penerima Mandat PAW DPP PDI Perjuangan
- Prabowo: Obat Generik Murah dan Modernisasi Rumah Sakit Jadi Prioritas Pemerintah
- LSM GANNAS Geruduk Dewan Atas Rencana Pembangunan Farm Greenfields 3 di Doko
- Pertamina: Harga BBM Pertamax 92 Naik Menjadi Rp 16.250/liter, Pertalite dan Solar Subsidi Tetap
- Kepala BGN Nanik Deyang Siapkan Reformasi Program MBG, Fokus Efisiensi Anggaran dan Kualitas Gizi
- Said Iqbal Masuk Istana, Siapkan Rekomendasi Kebijakan untuk Buruh dan Pekerja Migran
- Kapolres Rita Suwadi Ungkap Begal Jalanan, Residivis Kembali Beraksi
- Pemkab Bogor Bersiap Lebarkan Jalan Puncak, Bangunan di Bahu Jalan dan Saluran Air Terancam Ditertibkan
- Jakarta Fair 2026 Siap Dongkrak Ekonomi, Pemprov DKI Dukung Penuh Menuju Kota Global
- Patih Herman Dorong Sinkronisasi Aturan Tanah Adat dalam Raperda
Habib Idrus: 9,17% Pengguna Internet Anak, tapi 39,7% Sekolah Masih Tanpa Akses Internet Layak
Habib Idrus: 9,17% Pengguna Internet Anak, tapi 39,7% Sekolah Masih Tanpa Akses Internet Layak

Keterangan Gambar : Habib Idrus: 9,17% Pengguna Internet Anak, tapi 39,7% Sekolah Masih Tanpa Akses Internet Layak
Megapolitan pos.com, Jakarta, 20 Agustus 2025 – Kesenjangan digital yang dialami anak-anak Indonesia mendapat sorotan tajam dalam Forum Diskusi Publik bertema “Ruang Digital Anak Aman dan Sehat (PP TUNAS)”. Acara yang berlangsung secara daring via Zoom Meeting dari pukul 09.00–12.00 WIB ini menghadirkan lebih dari 250 peserta dari berbagai daerah.
Dalam keynote speech-nya, Habib Idrus Salim Aljufri, Lc., M.B.A., mengungkap fakta paradoks: meskipun 9,17% pengguna internet Indonesia adalah anak usia di bawah 12 tahun, ternyata masih ada 39,7% sekolah di Indonesia yang tidak memiliki akses internet memadai.
“Kita bicara tentang ruang digital yang aman, tetapi akses internet di sekolah saja belum merata. Literasi digital tidak mungkin terbangun tanpa infrastruktur yang layak. Di sinilah DPR akan memperkuat fungsi pengawasan, anggaran, dan diplomasi global agar anak-anak Indonesia mendapat hak yang sama,” ujar Habib Idrus.
Baca Lainnya :
- Hendik Budi Yuantoro Penerima Mandat PAW DPP PDI Perjuangan
- Prabowo: Obat Generik Murah dan Modernisasi Rumah Sakit Jadi Prioritas Pemerintah
- LSM GANNAS Geruduk Dewan Atas Rencana Pembangunan Farm Greenfields 3 di Doko
- Pertamina: Harga BBM Pertamax 92 Naik Menjadi Rp 16.250/liter, Pertalite dan Solar Subsidi Tetap
- Kepala BGN Nanik Deyang Siapkan Reformasi Program MBG, Fokus Efisiensi Anggaran dan Kualitas Gizi
Diskusi dilanjutkan oleh Dr. Rulli Nasrullah, M.Si., yang menekankan bahaya FoMO dan kecanduan gawai.
Sementara itu, Sukmadiarti Perangin-angin, M.Psi., menjelaskan pentingnya pendekatan psikologis yang persuasif. “Prinsip jalin koneksi sebelum koreksi adalah kunci. Orang tua harus mendengar dulu sebelum menegur, agar anak merasa didampingi, bukan diawasi,” jelasnya.
Peserta juga menyoroti berbagai isu nyata. Ali Gibran Ahmad, misalnya, mengeluhkan kasus anak kecanduan gadget hingga menimbulkan gangguan fisik. Sukmadiarti menjawab, “Kasus seperti itu harus segera ditangani medis dan psikologis. Gadget addiction bisa menjadi gangguan klinis yang butuh intervensi profesional.”
Forum ini menegaskan bahwa membangun ruang digital anak yang aman bukan hanya soal regulasi, tetapi juga pemerataan akses, pendampingan psikologis, dan partisipasi masyarakat luas.

















