- Babinsa bersama Komduk gelar Patroli Siskamling Jelang Idul Fitri
- Dipenghujung Ramadhan 1447 H, Pemkab Barut Pererat Silaturahmi Bersama Masyarakat, Dalam Nuansa Ramah Tamah Dan Buka Puasa Bersama
- Ribuan Warga Terima Bantuan, Pemkab Barito Utara Salurkan Kartu Huma Betang
- Musrenbang RKPD 2027 di Palangka Raya, Shalahuddin Gaspol Perjuangkan Program Prioritas Barito Utara
- Dewan Adat BAMUS Betawi Gaungkan Persatuan Bangsa Lewat Santunan Anak Yatim di Bulan Ramadhan
- Wujud Solidaritas, Ratusan Paket Lebaran Dibagikan untuk Wartawan dan Masyarakat Prasejahtera
- KNPI Majalengka Konsolidasi Besar, Pemuda Didorong Jadi Motor Pembangunan Daerah
- Wakil Ketua DPC Gerindra: Peran Media Diakui Jembatan Komunikasi Kemasyarakatan Handal.
- Kapolda Metro Cek Pos Pengamanan Cikunir dan Pastikan Arus Mudik Lebaran 2026 Aman, Lancar
- IR H Ateng Sutisna Tegaskan Peran Strategis Jurnalis, Jadi Penyambung Lidah Rakyat
Habib Idrus: 9,17% Pengguna Internet Anak, tapi 39,7% Sekolah Masih Tanpa Akses Internet Layak
Habib Idrus: 9,17% Pengguna Internet Anak, tapi 39,7% Sekolah Masih Tanpa Akses Internet Layak

Keterangan Gambar : Habib Idrus: 9,17% Pengguna Internet Anak, tapi 39,7% Sekolah Masih Tanpa Akses Internet Layak
Megapolitan pos.com, Jakarta, 20 Agustus 2025 – Kesenjangan digital yang dialami anak-anak Indonesia mendapat sorotan tajam dalam Forum Diskusi Publik bertema “Ruang Digital Anak Aman dan Sehat (PP TUNAS)”. Acara yang berlangsung secara daring via Zoom Meeting dari pukul 09.00–12.00 WIB ini menghadirkan lebih dari 250 peserta dari berbagai daerah.
Dalam keynote speech-nya, Habib Idrus Salim Aljufri, Lc., M.B.A., mengungkap fakta paradoks: meskipun 9,17% pengguna internet Indonesia adalah anak usia di bawah 12 tahun, ternyata masih ada 39,7% sekolah di Indonesia yang tidak memiliki akses internet memadai.
“Kita bicara tentang ruang digital yang aman, tetapi akses internet di sekolah saja belum merata. Literasi digital tidak mungkin terbangun tanpa infrastruktur yang layak. Di sinilah DPR akan memperkuat fungsi pengawasan, anggaran, dan diplomasi global agar anak-anak Indonesia mendapat hak yang sama,” ujar Habib Idrus.
Baca Lainnya :
- Babinsa bersama Komduk gelar Patroli Siskamling Jelang Idul Fitri
- Dipenghujung Ramadhan 1447 H, Pemkab Barut Pererat Silaturahmi Bersama Masyarakat, Dalam Nuansa Ramah Tamah Dan Buka Puasa Bersama
- Ribuan Warga Terima Bantuan, Pemkab Barito Utara Salurkan Kartu Huma Betang
- Musrenbang RKPD 2027 di Palangka Raya, Shalahuddin Gaspol Perjuangkan Program Prioritas Barito Utara
- Dewan Adat BAMUS Betawi Gaungkan Persatuan Bangsa Lewat Santunan Anak Yatim di Bulan Ramadhan
Diskusi dilanjutkan oleh Dr. Rulli Nasrullah, M.Si., yang menekankan bahaya FoMO dan kecanduan gawai.
Sementara itu, Sukmadiarti Perangin-angin, M.Psi., menjelaskan pentingnya pendekatan psikologis yang persuasif. “Prinsip jalin koneksi sebelum koreksi adalah kunci. Orang tua harus mendengar dulu sebelum menegur, agar anak merasa didampingi, bukan diawasi,” jelasnya.
Peserta juga menyoroti berbagai isu nyata. Ali Gibran Ahmad, misalnya, mengeluhkan kasus anak kecanduan gadget hingga menimbulkan gangguan fisik. Sukmadiarti menjawab, “Kasus seperti itu harus segera ditangani medis dan psikologis. Gadget addiction bisa menjadi gangguan klinis yang butuh intervensi profesional.”
Forum ini menegaskan bahwa membangun ruang digital anak yang aman bukan hanya soal regulasi, tetapi juga pemerataan akses, pendampingan psikologis, dan partisipasi masyarakat luas.

















