Breaking News
- Pari Purna DPRD Kota Blitar Pilih Sabotase Absen, Ini Alasannya
- Bupati Eman Ajak KAHMI Bersatu, Kolaborasi Jadi Kunci Majalengka SAE
- Agung Nugroho, Direktur Jakarta Institute: Kemerdekaan Pers Indonesia Bukan Lagi Sensor Negara, Tapi Tekanan Ekonomi
- Sinergi Fiskal Moneter: Arah Baru Industri Jasa Keuangan
- Bupati Majalengka Ultimatum KONI Majalengka: Saatnya Bangkit Raih Prestasi
- Kapolda Metro dan Pangdam Jaya Sambangi Mako Korps Marinir
- Munjirin Minta FKDM Jakarta Timur Perkuat Deteksi Dini demi Menjaga Kondusivitas Wilayah
- Kementerian UMKM Sambut PEWIRA Perkuat Ekosistem Kewirausahaan Nasional
- Kementerian UMKM dan BPOM Luncurkan SAPA SEMESTA, Percepat Izin Edar Produk Pangan Olahan UMK
- Kadis DKP3 Majalengka Ungkap Strategi Selamatkan Ribuan Hektare Sawah
Giring Lebih Mirip Orator Unras Ketimbang Ketum Parpol

MEGAPOLITANPOS.COM: Sambutan ketua umum Partai Solidaritas Indonesia, Giring Ganesha pada membuka acara puncak hari ulang tahun (HUT) ke-7 partainya. Banyak menuai kecaman karena dianggap tidak etis dan suibyektif dengan melakukan serangan kepada personal. "Kemajuan akan terancam jika kelak yang menggantikan Pak Jokowi adalah sosok yang punya rekam jejak menggunakan isu SARA dan menghalalkan segala cara untuk menang dalam pilkada," kata Giring, dalam sambutannya yang digelar secara virtual, Rabu (22/12/2021). Giring menyebut Indonesia akan menjadi suram jika dipimpin oleh seorang pembohong. Dia memberikan kode orang yang dimaksud itu, yakni seseorang yang digantikan dalam kabinet Jokowi. "Indonesia akan suram jika yang terpilih kelak adalah seorang pembohong dan juga pernah dipecat oleh Pak Jokowi karena tidak becus bekerja," ujar Giring. Sambutan Giring tersebut oleh ketua nasional Rekan Indonesia, Agung Nugroho dianggap lebih mirip orator unjuk rasa (unras) ketimbang sambutan ketua umum partai politik. Menurut Agung, sambutan ketum PSI tersebut tidak memiliki isi dan wawasan. “mirip orator di unjuk rasa, yang cuma teriak-teriak menghujat, tanpa memiliki isi dan wawasan yang dapat direnungkan dan dipahami oleh anak muda” ujar Agung. Menurut Agung, seharus seoarang ketum parpol itu dalam sambutannya berisi tentang sitausi politik nasional saat ini, apa yang harus dilakukan untuk menyikapi situasi politik nasional saat ini dan memberikan solusi darimana bangsa ini memulai untuk menyikapi situasi politik nasiona tersebut. “Jauh dari ilmiah sambutan Giring, mungkin karena baru belajar berpolitik dan memimpin partai jadi masih belum bisa membedakan mana orasi dan mana sambutan” jelas Agung. Agung menambahkan, sebagai seorang ketum parpol seharusnya Giring juga menguasi data sehingga dalam sambutannya meski melakukan kritik tapi kritik yang ilmiah dengan adanya paparan data. “Ini kan jadi seperti sekedar cari sensasi dengan melontarkan statemen opini dan melempar persepsi.” Kata Agung.


.jpg)














