- Menkop Ferry Juliantono: Saatnya Anak Muda Jadikan Koperasi sebagai Jalan Sukses Bisnis
- Waspada Penipuan! LPDB Koperasi Pastikan Tak Ada Biaya Pengajuan Pembiayaan
- Direktur Utama Bank Jakarta: Keamanan Siber Kunci Masa Depan Perbankan Digital
- KUA Sukahaji Rp 1,22 Miliar Dipersoalkan, Pelaksana Angkat Bicara
- Merasa Dirugikan Ratusan Juta Rupiah, Pemilik Percetakan Laporkan Tiga Mantan Karyawan
- Hadapi Ketidakpastian Global, Bank Jakarta Percepat Transformasi Digital dan Penguatan Risiko
- Jawaban Bupati Majalengka Soal APBD 2025 : PAD, Pajak, hingga Infrastruktur
- Iing Misbahuddin Soroti 87 Tambang Ilegal, Pajak Majalengka Bocor
- Harganas 2026 Meledak! Bupati Majalengka Guncang Isu Ayah Absen
- Momentum 8 Dekade BNI, Transformasi Perkuat Kinerja dan Daya Saing
Direktur Utama Bank Jakarta: Keamanan Siber Kunci Masa Depan Perbankan Digital

Keterangan Gambar : Poto istimewa
MEGAPOLITANPOS.COM, Jakarta– Bank Jakarta menempatkan penguatan keamanan siber (cyber security) sebagai salah satu prioritas utama dalam strategi transformasi digital perusahaan. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan sistem operasional, infrastruktur digital, serta perlindungan data nasabah tetap mampu menghadapi meningkatnya ancaman serangan siber di industri perbankan.
Direktur Utama Bank Jakarta, Agus Haryoto Widodo, mengatakan transformasi yang dijalankan perseroan tidak hanya bertujuan memperluas layanan dan meningkatkan pertumbuhan bisnis, tetapi juga memperkuat fondasi keamanan digital sebagai bagian dari tata kelola perusahaan.
"Ke depan, penguatan terhadap keamanan siber dan berbagai aspek keamanan digital akan menjadi bagian dari langkah yang akan kami jalankan berikutnya," ujar Agus usai bincang-bincang bertajuk Shaping the Next Era of Indonesia's Capital Market dalam Investor Day 2026 di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (30/6/2026).
Baca Lainnya :
- Direktur Utama Bank Jakarta: Keamanan Siber Kunci Masa Depan Perbankan Digital
- Mudik Lebih Nyaman, Bank Jakarta Siapkan Posko Istirahat hingga Program Mudik Gratis
- Transaksi Makin Praktis, Bank Jakarta Dorong Digitalisasi di Bazar Ramadan Pasar Jaya
- Bank Jakarta Gandeng Jakmania Wujudkan Inklusi Keuangan
- Bank Jakarta Raih Golden Champion di Infobank SLE 2026, Unggul di Kepuasan dan Loyalitas Nasabah
Menurut Agus, Bank Jakarta tengah membangun fungsi dan bidang baru yang secara khusus menangani keamanan digital. Kehadiran unit tersebut diharapkan mampu meningkatkan mitigasi risiko sekaligus memperkuat perlindungan terhadap sistem teknologi informasi perusahaan.
Ia menegaskan, transformasi yang dilakukan tidak hanya berorientasi pada pengembangan bisnis, tetapi juga memastikan seluruh sistem pendukung, mulai dari transportasi data, identifikasi digital, hingga infrastruktur teknologi, memiliki tingkat keamanan yang semakin baik.
"Jadi tidak sekadar pengembangan bisnis, tetapi juga memastikan kami memiliki bidang yang mampu mengantisipasi berbagai persoalan, terutama yang berkaitan dengan keamanan siber," kata Agus.
Penguatan keamanan siber dinilai menjadi kebutuhan mendesak seiring semakin masifnya digitalisasi layanan keuangan. Selain menjaga kelancaran operasional perusahaan, investasi pada sistem keamanan juga menjadi faktor penting dalam melindungi data nasabah serta menjaga kepercayaan masyarakat terhadap layanan perbankan digital.
Di sisi lain, Agus menilai fundamental industri perbankan nasional hingga saat ini masih berada dalam kondisi yang kuat. Pertumbuhan kredit tetap positif, permodalan dan likuiditas terjaga, sementara rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) masih berada pada level yang relatif rendah.
Namun demikian, ia menilai tantangan industri saat ini bukan lagi terletak pada fundamental bisnis, melainkan perubahan lanskap industri yang berlangsung sangat cepat.
"Persoalannya sebenarnya bukan di fundamentalnya, tetapi medan permainannya berubah," ujarnya.
Menurut Agus, beberapa tahun terakhir sektor perbankan dihadapkan pada berbagai dinamika global, mulai dari pandemi Covid-19, konflik geopolitik, hingga perubahan kebijakan perdagangan internasional yang memengaruhi kondisi ekonomi dan perilaku pasar.
Selain itu, industri juga menghadapi tekanan meningkatnya biaya dana (cost of fund). Agus mengungkapkan bunga deposito dalam lelang dana antarbank bahkan sempat mencapai 11,5 persen, yang menjadi indikator meningkatnya biaya penghimpunan dana bagi industri perbankan.
Menghadapi berbagai tantangan tersebut, Bank Jakarta terus menjalankan transformasi secara menyeluruh melalui penguatan model bisnis, percepatan digitalisasi layanan, peningkatan manajemen risiko, pengembangan budaya kerja, hingga optimalisasi sistem keamanan siber sebagai fondasi utama pertumbuhan berkelanjutan di era perbankan digital.(AS/MP).

.jpg)
.jpg)

.jpg)











