- PWI Majalengka Rayakan HPN 2026, Pers Didorong Terus Jadi Garda Terdepan Demokrasi
- Musrenbang Teweh Baru, DPRD Siap Kawal Prioritas Pembangunan 2027
- Ketua DPRD Barito Utara Tekankan Sinkronisasi Program dalam Musrenbang Gunung Timang
- Ramadhan 1447 H, Zakat Fitrah Majalengka Rp. 40 Ribu
- H Tajeri Soroti Maraknya Narkoba di Kalteng, Ajak Semua Elemen Bergerak Bersama
- Penyalahgunaan Narkoba di Kalteng Meningkat, DPRD Barut Soroti Sulitnya Tangkap Bandar
- Bahas Implementasi Perpres 4/2026 tentang Pengendalian Alih Fungsi Lahan Sawah, Menteri Nusron Paparkan _Roadmap_ Penetapan LSD di 2026
- Dari Kampus ke Desa, 304 Taruna/i STPN Ambil Peran Menguatkan Data Tanah Masyarakat di Jawa Tengah
- Perkuat Sinergi Pemberantasan Narkoba, Pemkab Barut Dan BNNP Kalteng Gelar Audensi
- Pembangunan Flyover Sudirman dan Batuceper Solusi Mengatasi Kemacetan
Berhutang Tak Diketahui Suami, Wanita Muda di Cisoka Bersiap Jadi Janda

Keterangan Gambar : Ilutrasi raut kesedihan Melati (bukan nama sebenarnya) tak lagi bisa disembunyikan manakala suaminya menggugat cerai dirinya di Pengadilan Agama (PA) Tigaraksa. Senin, (30/01/2023).
MEGAPOLITANPOS.COM Kota Tangerang,- Raut kesedihan Melati (bukan nama sebenarnya) tak lagi bisa disembunyikan manakala suaminya menggugat cerai dirinya di Pengadilan Agama (PA) Tigaraksa. Senin, (30/01/2023).
Melati yang saat itu menggendong putrinya yang baru berusia dua tahun tersebut, terus merengek agar gugatan cerai atas dirinya dibatalkan.
"Maafin eneng khilaf, neng ngga lagi - lagi," rengek eneng sambil sesekali mengusap air matanya.," menunjukan rasa penyesalannya.
Baca Lainnya :
- PWI Majalengka Rayakan HPN 2026, Pers Didorong Terus Jadi Garda Terdepan Demokrasi
- Pembangunan Flyover Sudirman dan Batuceper Solusi Mengatasi Kemacetan
- DPRD Kota Tangerang Dukung Program Isbat Nikah Pemkot untuk Perkuat Perlindungan Keluarga
- HUT Majalengka ke-186, Ketua Komisi III DPRD: Sejarah Pijakan, Inovasi Jalan Menuju Langkung SAE
- TMMD ke-127 Resmi Dimulai di Majalengka, Sinergi TNI dan Pemda Bangun Infrastruktur Desa
Namun begitu, tekad suaminya yang terlihat sudah bulat untuk menceraikan perempuan berparas manis berusia 23 tahun tersebut tidak lagi mengindahkan rengekan istrinya tersebut.
"Saya sudah ngga sanggup lagi, saya sudah bulat untuk menceraikan istri saya," kata suami Melati dengan lantang.
Menurut dia, selama 2 (dua) tahun belakangan dirinya sudah tidak lagi tahan lagi dengan kelakuan istrinya yang kerap berhutang kepada bank keliling.
"Saya kerja cuma buat bayar bank keliling, dua tahun saya tutupin utang istri saya tapi sekarang pas tau dia punya utang sampe puluhan juta saya udah ngga sanggup lagi," jelas, suami Melati.
Dari keterangan Suami Melati, awalnya istrinya hanya meminjam sebesar Rp. 500 ribu dengan cicilan sebesar Rp. 25 ribu disetiap harinya.
"Yang pertama saya tau, tapi saya udah maafkan, sekarang gini pinjem Rp. 500 ribu, terima cuma Rp. 400 rb, cicilan 25 ribu setiap hari, atuh gila aja yang mau bayar bunga segede gitu mah," ungkap suami Melati.
Ia berpendapat, hutang istrinya saat yang mencapai puluhan juta tidak lagi dapat ditutupi olehnya, terlebih penghasilannya sebagai buruh harian lepas sedang tidak menentu.
"Atuh yang bener aja, Rp. 500 ribu masih saya maafkan, ini sampe 10 juta pinjemnya buat apaan dia pinjem duit ke bank keliling sampe segitu gede," ujarnya.
Ia merinci dengan hutang 10 juta dirinya harus mencicil disetiap harinya sebesar Rp. 450 ribu, sehingga tak lagi mungkin dirinya sanggup membayar hutang istrinya.
"Idih itu kalau nagih kerumah, bikin malu saya dan orangtua, sekarang gini saya kerja sehari cuma Rp. 75 ribu, dituntut bayar Rp. 450 ribu atuh gila inimah," jelas dia.
Menanggapi hal tersebut, Sadang salah seorang tokoh pemuda Cisoka membenarkan keberadaan bank keliling yang sudah meresahkan.
"Ditambah dijaman sekarang ini, dari dampak Covid ini banyak usaha atau karyawan yang terpukul kena PHK dan sebagainya," ungkap Sadang.
Sadang menambahkan, belum lagi disaat ini dengan kondisi perekonomian yang terbilang sulit, sang suamipun turut menyetujui istrinya meminjam uang kepada bank harian atau bank keliling.
"Sampai akhirnya meresahkan, banyak rumah tangga yang hancur karena merasa terbebani dengan Bank keliling ini," jelasnya.
Ia menilai, masyarakat saat ini dihadapkan dengan pilihan yang sulit antara kebutuhan ekonomi ditengah kenaikan harga pangan.
"Ya ujung - ujungnya bank keliling solusinya dan pada akhirnya terjebak dan tak mampu membayar sehingga rumah tangga yang dikorbankan," ungkap dia.
Sadang berharap ada solusi dari Pemerintah Kecamatan Cisoka, dalam hal ini di wilayah setempat untuk menyingkapi persoalan itu di masyarakat.
"Solusinya seperti apa terkait persoalan yang saat ini sedang terjadi," pungkasnya.** (Jhn)












.jpg)




