Breaking News
- Pabrik Uang Palsu Grade A Digerebek di Tangsel, Nilainya Capai Rp36 Miliar
- Menkop Dorong Transformasi Komunitas Ekraf Malang Jadi Koperasi
- Bank Jakarta dan ITB Perkuat Kolaborasi Pendidikan, Riset, dan Pengembangan Talenta
- Momen Istimewa Hari Juang Polri 2026, Para Mantan Kapolri dan Wakapolri Berkumpul di Mabes Polri
- Jalan Sangego Selatan Kota Tangerang Diperbaiki, Pemkot Mulai Terapkan Contraflow
- Menteri UMKM Ajak Mahasiswa Berwirausaha dan Ciptakan Lapangan Kerja
- Ciputra Life Bukukan Laba Rp99,3 Miliar, Premi Semester I 2026 Tumbuh 53 Persen
- Silaturahmi ke PDM Depok, Kapolres Christian Rony Putra Ajak Muhammadiyah Perkuat Kamtibmas
- Bursa Wirausaha Unggulan Hadir di Sumut, Kementerian UMKM Buka Akses Pasar dan Pembiayaan
- Dari Jakarta ke Flores, Kemenhub Salurkan Bantuan Korban Gempa Lewat Laut dan Udara
Atasi Masalah Sampah di TPA ' Salah Urus', DLH Libatkan 13 Pemilah jadi TKS

PAGAR ALAM - Sebanyak 13 orang pemilah sampah mandiri di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Simpang Padang Karet Kelurahan Ulu Rurah Kecamatan Pagar Alam Selatan, Kota Pagar Alam, Sumatera Selatan dijadikan Tenaga Kerja Sukarela (TKS) oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Pagar Alam Sumatera Selatan. Guna membantu menangi lautan sampah di TPA yang notabene berkonsep awal 'Sanitary Landfille' tersebut. Ke 13 TKS tersebut awalnya merupakan pemilah sampah mandiri dengan penghasilan rata-rata 400 ribu rupiah perminggu. "Awalnya mereka adalah pemilah sampah mandiri, namun beberapa bulan terakhir ini kami rekrut juga sebagai TKS untuk dijadikan sebagai tenaga kebersihan dilokasi TPA ini, sangat efektif," jelas Edsrahadi selaku kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) TPA Padang Karet. Masih menurut Edsrahadi, volume sampah domestik yang datang ke TPA nya perhari kurang lebih 45 ton, sementara alat berat (Exavator) hanya satu. Selain berukuran mini juga sering mengalami kerusakkan. Namun cukup terbantu dengan adanya TKS yang sekaligus pemilah sampah yang rata-rata bisa mengurangi volume sampah di TPA dengan luas keseluran mencapai sepuluh hektar lebih. "Setiap hari sampah domestik yang datang ke TPA ini lebih kurang 45 ton, untuk meratakannya dibantu dengan satu alat berat. Untuk itu kami sangat terbantu dengan 13 orang TKS yang sekaligus sebagai pemilah sampah. Dalam satu minggu setiap orang mereka bisa memilah sekitar 300 kilogram sampah untuk dibawa dan dijual ke pengepul," tambahnya. Memang sangat disayangkan, TPA Padang Karet sejatinya adalah Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) dengan sistem Ramah Lingkungan (Sanitary Landfill) yang sudah dilengkapi dengan Kolam penampungan sampah disertai instalasi penghasil gas amonia (sisa sampah) yang disaring dengan membran viber dibagian bawahnya dimana sisa cairan buangan akan dialirkan kekolam Lindi yang terdapat dibagian lebih rendah dari kolam penampungan, jikapun harus membakar itu dengan menggunakan incenerator, namun entah dengan alasan apa meskipun sudah dirancang dengan sistem ramah lingkungan tersebut, pada prakteknya sehari hari tetap menggunakan sistem 'Open Dumping'. Dimana sampah sampah dibuang, ditumpuk begitu saja tanpa ada perlakuan khusus, sama seperti TPA sebelumnya, yang tentunya akan sangat berdampak pada gangguan lingkungan. Selain itu juga, kerap kali terjadi kebakaran TPA Padang Karet, disengaja atau tidak sengaja sangat berdampak buruk bagi lingkungan, karena sampah sampah yang terbakar apalagi dalam waktu yang lama akan menghasilkan partikel partikel berbahaya seperti Karbon Monoksida, Volatile Organic Compounds (VOC), Polycyclic Aromatic Hydrocarbon (PAH) dan Dioksin yang kesemuanya apabila terpapar dan terkontaminasi atau terhirup manusia dapat menjadi penyebab gangguan pertumbuhan, gangguan fungsi reproduksi dan gangguan sistem kekebalan tubuh serta pemicu kangker. (JF)

.jpg)















