- Destinasi Komersial pertama, Asthara Skyfront City Luncurkan The Floritz Gallery
- Aktivis di Blitar Penuhi Panggilan Polisi Usai Orasi Antikorupsi
- Politisi PDI-P Taupik Nugraha Minta Pemkab Edukasi Masyarakat Soal Status dan Kewenangan Jalan
- Dewan Taupik Apresiasi Kanal Pengaduan Masyarakat, Minta Dukungan Anggaran Maksimal
- Taupik Nugraha Pertanyakan Target Pengentasan Kawasan Kumuh di Barito Utara
- Pemkab Tegaskan Pemda Tak Bisa Perbaiki Fasilitas Perumahan Sebelum PSU Diserahkan
- Pemkab Barito Utara Jelaskan Pentingnya Penyerahan PSU Perumahan kepada Pemda
- DPRD dan Pemkab Barito Utara Sepakati Dua Raperda Strategis, Siap Difasilitasi ke Gubernur Kalteng
- Di Hadapan HIPMI, Prabowo Tegaskan Komitmen Swasembada Pangan dan Energi
- Gerak Serentak PKK Majalengka Guncang Desa :26 Kecamatan Disisir, Bantuan Digelontorkan
Wartawan Rebahan, Antara Kopi, Kuota, dan Copy-Paste

MEGAPOLITANPOS.COM - Di era serba cepat ini, profesi wartawan seharusnya semakin dituntut untuk gesit, cerdas, dan berani turun ke lapangan.
Namun sayangnya, muncul fenomena baru yang bisa dibilang cukup “menggelitik”, wartawan rebahan.
Ya, benar. Mereka mengaku jurnalis, tetapi medan tempurnya bukan jalanan berdebu, ruang rapat panas, atau lokasi kejadian.
Melainkan kasur empuk, ditemani secangkir kopi dan sinyal WiFi yang kadang lebih setia daripada narasumber.
Alih-alih berburu fakta, mereka berburu tombol copy dan paste.
Padahal, dalam dunia jurnalistik, menulis berita bukan sekadar merangkai kata. Ada proses panjang yang seharusnya dilalui, verifikasi, konfirmasi, hingga observasi langsung.
Tapi bagi wartawan jenis ini, tampaknya cukup satu prinsip kalau sudah ada di internet, kenapa harus capek-capek turun ke lapangan.
Lucunya lagi, berita yang diambil sering kali bukan sekadar inspirasi, tapi “diadopsi” secara utuh.
Judul diganti sedikit, isi tetap sama. Ibarat masak mie instan, hanya bungkusnya saja yang beda, rasanya tetap itu-itu juga.
Fenomena ini tentu bukan sekadar bahan candaan. Di balik kelucuannya, ada persoalan serius, runtuhnya integritas.
Sebab, wartawan sejati tidak hanya dituntut pandai menulis, tetapi juga memiliki tanggung jawab moral terhadap kebenaran.
Masyarakat berhak mendapatkan informasi yang akurat, bukan hasil salinan yang bahkan belum tentu diverifikasi.
Jika dibiarkan, bukan tidak mungkin kepercayaan publik terhadap media akan ikut “rebahan” turun dan sulit bangkit kembali.
Jadi, mungkin sudah saatnya kita membedakan mana wartawan yang benar-benar bekerja, dan mana yang sekadar login sebagai wartawan.
Karena pada akhirnya, menjadi jurnalis bukan soal seberapa cepat mengetik, tapi seberapa berani melangkah keluar rumah untuk mencari kebenaran.
(*)
















