- Kepala Desa Sumberjo Ajarkan Generasi Muda Produktif Kreatif Apa Kiatnya
- PSHT Cabang Kota Blitar Pusat Madiun Boyong 19 Medali di Kejurnas SH Terate UIN Satu Cup IV
- Mulai 31 Agustus, Pemkot Jaktim Larang PKL Berjualan di Trotoar Jalan Raya Bogor Kramat Jati
- Semarak HUT RI Ke-81, PAUD Melati 08 Kalibata Gelar Aneka Lomba
- Karang Taruna RW 09 Kalibata Gelar Pesta Kemerdekaan Meriah pada 29 Agustus 2026
- Bupati Shalahuddin Tinjau Rumah Lanting di Sungai Barito yang Terdampak Surut
- Sebanyak 329 Rumah Tidak Layak Huni di Tangsel Tuntas Dibedah, Pondok Aren Terbanyak
- Kemenhub: Transportasi di Kalimantan Tetap Beroperasi di Tengah Karhutla.
- Polres Majalengka Kedepankan Langkah Preventif Tekan Knalpot Brong
- Gulkarmat Jakut Gencarkan Edukasi Cegah Kebakaran di Tengah Perayaan HUT ke-81 RI
Wartawan Rebahan, Antara Kopi, Kuota, dan Copy-Paste

MEGAPOLITANPOS.COM - Di era serba cepat ini, profesi wartawan seharusnya semakin dituntut untuk gesit, cerdas, dan berani turun ke lapangan.
Namun sayangnya, muncul fenomena baru yang bisa dibilang cukup “menggelitik”, wartawan rebahan.
Ya, benar. Mereka mengaku jurnalis, tetapi medan tempurnya bukan jalanan berdebu, ruang rapat panas, atau lokasi kejadian.
Melainkan kasur empuk, ditemani secangkir kopi dan sinyal WiFi yang kadang lebih setia daripada narasumber.
Alih-alih berburu fakta, mereka berburu tombol copy dan paste.
Padahal, dalam dunia jurnalistik, menulis berita bukan sekadar merangkai kata. Ada proses panjang yang seharusnya dilalui, verifikasi, konfirmasi, hingga observasi langsung.
Tapi bagi wartawan jenis ini, tampaknya cukup satu prinsip kalau sudah ada di internet, kenapa harus capek-capek turun ke lapangan.
Lucunya lagi, berita yang diambil sering kali bukan sekadar inspirasi, tapi “diadopsi” secara utuh.
Judul diganti sedikit, isi tetap sama. Ibarat masak mie instan, hanya bungkusnya saja yang beda, rasanya tetap itu-itu juga.
Fenomena ini tentu bukan sekadar bahan candaan. Di balik kelucuannya, ada persoalan serius, runtuhnya integritas.
Sebab, wartawan sejati tidak hanya dituntut pandai menulis, tetapi juga memiliki tanggung jawab moral terhadap kebenaran.
Masyarakat berhak mendapatkan informasi yang akurat, bukan hasil salinan yang bahkan belum tentu diverifikasi.
Jika dibiarkan, bukan tidak mungkin kepercayaan publik terhadap media akan ikut “rebahan” turun dan sulit bangkit kembali.
Jadi, mungkin sudah saatnya kita membedakan mana wartawan yang benar-benar bekerja, dan mana yang sekadar login sebagai wartawan.
Karena pada akhirnya, menjadi jurnalis bukan soal seberapa cepat mengetik, tapi seberapa berani melangkah keluar rumah untuk mencari kebenaran.
(*)
















