- Realisasi Pengadaan Majalengka Baru 25 Persen, Ribuan Paket Belum Terealisasi
- Harga Pupuk Subsidi Turun 20 Persen, Pemerintah Perkuat Ketahanan Pangan Nasional
- Kementerian UMKM Perkuat Pemulihan UMKM Aceh melalui Akses Pasar Digital dan Dukungan Pengembangan Usaha
- PERINTIS 10 Hari Mulai Diterapkan, Kantah Kabupaten Tangerang Hadirkan Layanan Peralihan Hak yang Lebih Cepat dan Mudah.
- 14 Samsat Polda Metro Kunjungi Taman Kanak-kanak, Hadirkan Sosok Polisi yang Bersahabat
- Mulyani Dukung Deteksi Dini Kanker Serviks, Apresiasi Gerakan Perempuan Sadar Sehat di Pasir Kuda
- DPMPTSP Barito Utara Paparkan Lima Manfaat Perizinan bagi Pelaku Usaha Mikro
- Buka Bimtek Perizinan Usaha Berbasis Risiko dan LKPM, Wabup Tekankan Pemahaman Pelaku Usaha Terhadap OSS-RBA
- Dua Pria Pelaku Pembunuhan Berencana di Pinang Ranti Jaktim Berhasil Ditangkap
- Manfaatkan PTSL untuk Urus Sertipikat, Masyarakat: Proses Dipermudah.
Walikota Surabaya Peduli Rutilahu Bagi Wong Cilik

Keterangan Gambar : Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi
Megapolitanpos.com, Jakarta- Sebagai kota besar nomer dua di Indonesia, kesenjangan antara si kaya dan si miskin sangat terasa. Dalam hal tempat tinggal, di balik barisan gedung-gedung pencakar langit, dan rumah-rumah mewah, masih banyak rutilahu (rumah tidak layak huni). Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi, sejak menjadi orang nomer satu di Kota Pahlawan, "gas pol" menjalankan program bedah rumah bertajuk "Dandan Omah Dadi Apik, Rek".
Program inilah yang diikutsertakan dalam Anugerah Kebudayaan PWI Pusat 2023, yang mengusung tema "Inovasi pangan, sandang dan papan, berbasis informasi dan kebudayaan." Setelah mengikuti proses penjurian administratif hingga presentasi di depan tim juri, akhirnya ia terpilih sebagai salah satu dari 10 bupati/wali kota penerima Anugerah Kebudayaan PWI Pusat 2023. Menurut rencana ke-10 kepala daerah tersebut, bakal menerima Trofi Abyakta (maju, berkembang) pada puncak peringatan Hari Pers Nasional, bersama Presiden RI Joko Widodo, di Medan, Sumatera Utara, 9 Februari 2023.
Tim juri yang diketuai Yusuf Susilo Hartono (wartawan senior kebudayaan dan penggagas AK-PWI Pusat), dengan anggota Dr. Ninok Leksono (wartawan senior/Rektor Universitas Multimedia Nusantara), Agus Dermawan T (pengamat dan penulis kebudayaan dan seni), Atal S.Depari (wartawan senior/Ketua Umum PWI Pusat) dan Dr.Nungki Kusumastuti (Dosen Institut Kesenian Jakarta/penari senior dan aktris film dan sinetron).
Baca Lainnya :
- Wali Kota Jakpus Buka UKW Angkatan ke-66 PWI Jaya, Tekankan Pentingnya Akurasi dan Kompetensi Wartawan
- Dorong Wartawan Berkualitas, PWI Jaya Gelar UKW Angkatan ke-66, di Kantor Wali Kota Jakarta Pusat
- PT Kedap Sayaaq Persoalkan Proses Kepailitan, Kuasa Hukum Soroti Penjualan Aset
- Kementerian UMKM Perkuat Inkubator untuk Cetak Wirausaha Berkualitas
- PWI Banten Doakan Keselamatan Lima Jurnalis yang Dilaporkan Hilang saat Liputan GAK
Saat presentasi di kantor PWI Pusat, Wali Kota yang gemar main ludruk dan menari Remo, mengenakan ikat kepala gaya arek Suroboyo, dengan busana dengan warna dasar abu, bersandal kulit. Selalu tersenyum, dengan lesung pipit menghias pipinya. Pengganti Tri Rismaharini itu, sangat menguasai persoalan perumahan khususnya rutilahu dengan program Dandan Omah Apik Rek.
Selain memiliki kepedulian pada wong cilik, khususnya yang tinggal dalam rumah yang tidak layak huni, memang latar pendidikan dan pengalaman kerjanya berkaitan dengan perumahan. Arek Surabaya, kelahiran 27 Mei 1977, S1-nya dua : Teknik Sipil dan Sipil Konstruksi ITS Surabaya, S 2 -nya juga dua : Manajeman Proyek ITS Surabaya dan Magister Teknik Sipil Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya. Dalam kariernya di pemerintahan, ebelum menjabat Wali Kota Surabaya, 24 Februari 2021 sampai sekarang, pernah menjadi Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman, Cipta Karya dan Tata Ruang, 2018, dan lain-lain
Sebagai ibu kota Provinsi Jawa Timur, saat ini Surabaya jumlah penduduknya 2.972.801 jiwa, dengan luas daratan 334,52 km2. Di kota itu tinggal beragam suku (Jawa, Madura, Tionghoa, dll), dengan memeluk agama beragam juga : Islam (mayoritas), Kristen/Katholik, Hindu, Buddha, dll.
Bagi masyarakat yang ingin rumahnya didandani (diperbaiki), menurut Cak Eri, dapat mengajukan permintaan lewat aplikasi Sayang Warga, e-Hausing atau e-Rutilahu. Seiring dengan perkembangan zaman, dalam membangun Surabaya secara umum, termasuk di dalamnya dandan omah mengandalkan teknologi informasi berbasis kearifan lokal. Lalu bagaimana dengan warga yang nir-teknologi? Disitulah kearifan lokal saling tolong-menolong hadir. Baik pertolongan sesama keluarga, warga, hingga pejabat pemerintah.
Lebih jauh ia memaparkan data bahwa pada tahun 2022 ada 1.465 unit rumah yang mendapat program dandan omah. Dana yang dibutuhkan untuk tiap rumah sekitar Rp 30 juta. Dari 1.465 unit rumah yang diperbaiki itu, 950 unit menggunakan APBD Kota Surabaya. Sedangkan yang non-APBD: 380 unit berupa Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS), 98 unit dari Baznas, 30 unit dari CSR, dan 7 unit dari gereja.
“Semuanya kami perbaiki rumah-rumah itu dengan cara gotong royong. Mulai dari pengadaan material, tukang, sampai pengadaan dana,” papar Wali Kota yang meraih sejumlah penghargaan di antaranya Innovative Government Award (IGA) 2021, Kategori Kota Terinovatif dari Kemendagri Republik Indonesia.
Gotong royong, gotong royong, dan gotong royong. Kata ini berkali-kali diucapkannya dengan gaya arek yang tegas, dan blak-blakan, tapi tidak menyakitkan hati. Tidak hanya diucapkan, budaya gotong royong yang merupakan warisan nenek moyang tersebut ia kembangkan sebagai kata kerja dalam berbagai programnya dalam memimpin masyarakat Surabaya yang majemuk. Hal ini "bertentangan" dengan jamak lumrahnya kota besar, yang masyarakatnya cenderung individualistis.
Untuk mengikat nilai-nilai kegotong-royongan itu, dalam berkomunikasi dengan warganya, Cak Eri menggunakan bahasa Indonesia, campur Jawa (kromo dan ngoko) dengan gaya bahasa Suroboyoan. Selain itu juga tidak melupakan nilai-nilai religiusitas. Dalam hal ini, para warga penerima manfaat, diajak berdoa, diantaranya dengan cara slametan atau kenduri bagi warga Jawa muslim. Saat penyerahan kunci, ketika dandan omah telah usai, ia selalu berpesan " Bapak, Ibu, rumah yang sudah didandani ini jangan dijual."
Manfaat program dandan omah yang sudah dimulai Pemkot Surabaya sejak 2015, tidak hanya dirasakan bagi mereka yang rumahnya diperbaiki, tapi juga masyarakat hingga Pemkot Surabaya. “Masyarakat yang menerima program dandan omah mendapat kualitas hunian bagus, kesehatan meningkat, dan taraf ekonomi naik karena rumah itu bisa menjadi tempat layak untuk usaha,” kata Cak Eri.
Masyarakat secara keseluruhan juga mendapatkan manfaat dari program tersebut. Program tersebut melestarikan gotong royong, meningkatkan kesejahteraan ekonomi dan sosial masyarakat serta meningkatkan kesadaran pada kualitas hunian dan lingkungan.
"Pemkot Surabaya ikut mendapatkan manfaatnya pula dari program dandan omah. Program itu mengurangi kawasan kumuh. Pemkot bisa berkolaborasi dengan swasta, adanya penataan kota, dan pada gilirannya peningkatan kesejahteraan warga,” jelas Wali Kota Surabaya.
Seorang juri bertanya di mana tempat arsitektur lokal pada rumah-rumah rutilahu yang sudah menjadi layak huni? Wali Kota itu mengatakan: “Yang utama bagi kami adalah membangun rumah yang kumuh jadi pantas di huni. Sedangkan soal arsitekturnya, itu ada dalam hati,” katanya. (ASl/Red/MP).

.jpg)













