- Warga Modernland Mengeluhkan Jalan Rusak dan PSU Yang Belum Diserah Terima Ke Pemkot Tangerang
- DPMPTSP-KADIN Barito Utara Satukan Langkah Tarik Investasi,Hilirisasi Jadi Prioritas
- Hendi Resmi Dilantik, Sangkanurip Perkuat Mesin Pembangunan Desa
- Usia 19 Tahun, Kecamatan Sindang Tancap Gas Wujudkan Majalengka Sae
- DPRD Dorong Madrasah Jadi Alternatif Pendidikan Berkualitas dalam Program Sekolah Gratis
- Amankan Pengesahan Warga Baru PSHT Sebanyak 480 Personil Disiagakan
- Warisan Leluhur yang Tetap Hidup, Hajat Laut Pangandaran Dorong Pariwisata Daerah
- Disambut Meriah di Istana Merdeka, Presiden Steinmeier Bahas Kerja Sama Strategis dengan Prabowo
- 585 Personel Gabungan Jajaran Polda Metro Disiagakan pada Kunjungan Kenegaraan Presiden Jerman
- Pesan Megawati Kepada Generasi Muda Dalam Bulan Bung Karno
Bertemu Para Guru di Rakernas Pergunu ke-V, Berbincang Tentang Perjuangan Alm. KH. Abdul Chalim Leuwimunding

Keterangan Gambar : Sahabat dari Pimpinan Ponpes Al Mizan Jatiwangi, KH. Maman Imanulhag. Diantaranya, Wamenag RI KH. Zainut Tauhid Sa'adi datang ke Rumah Makan Langensari, Majalengka.
MEGAPOLITANPOS.COM Majalengka - Tiba-tiba datang kabar sahabat dari Pimpinan Ponpes Al Mizan Jatiwangi, KH. Maman Imanulhag. Diantaranya, Wamenag RI KH. Zainut Tauhid Sa'adi datang ke Rumah Makan Langensari, Majalengka. Kebetulan ditempat itu adalah restoran yang dikelola keluarga besar kami, lokasinya berada di kompleks Ponpes Al Mizan Jatiwangi.
Diketahui bahwa, kedatangan Wamenag ke Majalengka ini untuk menghadiri Rakernas Pergunu ke-V. Selain Wamenag tentu banyak pejabat lainnya yang datang ke acara tersebut.
Ia yakinkan, benar saja usai itu, Gubernur Jawa Timur pun turut mampir di Langensari. Sebisanya kami menjamunya. Dan tentu kami menyuguhkan kopi khas MCC, cafe yang dikelola para santri Al Mizan.
Baca Lainnya :
- Usia 19 Tahun, Kecamatan Sindang Tancap Gas Wujudkan Majalengka Sae
- Pertamax Naik, Usaha Rakyat Terpukul! Pedagang dan Ojol di Majalengka Menjerit
- Pengedar Tramadol Digerebek di Majalengka, 101 Butir Disita Polisi
- Kapolres Rita Suwadi Ungkap Begal Jalanan, Residivis Kembali Beraksi
- Komisi III DPRD Bunyikan Alarm! Iing : Gunung Sampah Bisa Jadi Petaka Besar Majalengka
Di Lokasi kegiatan, di Alun-alun Leuwimunding Maalengka saya banyak bertemu para guru, salah satunya yakni Menkopolhukam Prof Mahfud MD.

Setelah Prof Mahfudz memberi pengarahan, saya didaulat memberi Materi di acara yang dihadiri para Guru NU se Indonesia itu.
"Jadi di Komplek Pesantren Amanatul Ummah, Saya banyak berbincang dengan Prof Mahfud dan beberapa tokoh lain. Apalagi jarang rasanya saya berkesempatan untuk bertemu dengan Prof Mahfud yang tentunya begitu sibuk sebagai pejabat tinggi negara," ungkap, KH Maman dalam keterangan persnya. Sabtu, (17/06/2023)
Dikesempatan itu, hadir pula Kiai Asad Said Ali, beliau merupakan Mantan Wakil Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) di era Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Ia juga pernah menjabat sebagai Wakil Ketua Umum PBNU 2010-2015.
Juga nampak sahabat saya di Komisi VIII DPR RI, Yandri Susanto yang juga merupakan Wakil Ketua MPR RI. Saya kerap bertemunya di rapat-rapat komisi baik pembahasan haji, bencana, sosial, atau topik-topik yang berurusan dengan mitra Komisi VIII DPR RI.
Dalam Rakernas itu, tentunya saya bertemu shohibul bait, Ketua Pergunu Prof. KH Asep Saifuddin Chalim, kiai miliarder ini juga seorang guru besar bidang Sosiologi oleh Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya. Beliau merupakan anak bungsu dari KH. Abdul Chalim, juga pendiri sekaligus pengasuh pondok pesantren Amanatul Ummah Surabaya, Majalengka, Mojokerto, dan Banyuwangi.
Kehadiran banyak tokoh tersebut, juga sebagai penghormatan atas perjuangan Alm. KH. Abdul Chalim Leuwimunding. Saya dari awal terus mendukung KH Abdul Chalim ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional. Beliau adalah seorang pejuang pada perintisan kemerdekaan Indonesia. Beliau punya sejarah panjang dalam menentang penjajahan yang dilakukan oleh Belanda.
Sekilas, Ia mengapresiasi sosok tokoh sejarah tersebut, tak hanya tentang usahanya menentang kolonialisme, cerita perjuangan tokoh kelahiran Leuwimunding Majalengka ini pun kentara pada peran-perannya atas terselenggaranya Komite Hijaz pada 31 Januari 1926 yang kemudian melahirkan NU, ormas Islam terbesar di Indonesia.

"Belum lagi soal sepak terjangnya di dunia politik, KH Abdul Chalim Leuwiminding adalah politisi ulung, ia sempat mewakili Partai NU sebagai Anggota DPR tahun 1955. Sepak terjang kehidupannya memberikan inspirasi kepada warga NU agar tak alergi pada politik sehingga segala aspirasi bisa tersalurkan melalui wakilnya di parlemen," ujarnya.
Diakhir, Ia mengucapkan terimakasih serta rasa syukur Alhamdulillah berkah NU. Saya banyak bertemu para para guru. ** (Agit)

















