- Sinergi PTPN I dan TNI Perkuat Ketahanan Pangan Nasional Lewat Hilirisasi Tebu
- FAZ Perluas Jaringan Distribusi Ikan, Teh, Tanaman, dan Pengadaan Barang ke Berbagai Sektor
- Wamen UMKM Tinjau PLUT KUMKM Kulon Progo, Perkuat Pendampingan Wirausaha
- KemenUMKM dan Aprindo Fasilitasi Pembebasan Bea Administrasi UMKM Masuk Ritel Modern
- Jalan Rusak Akibat Aktivitas Tambang, Bupati Barito Utara Beri Ultimatum kepada PT BBN
- Komitmen Dukung Pendidikan Usia Dini, Bupati Barito Utara Serahkan Bantuan SIP PINTAR
- Wabup Felix Hadiri Peringatan Hari Jadi ke-61 Pemkot dan ke-69 Kota Palangka Raya
- Bupati Barito Utara Perkuat Sinergi dengan Kejari untuk Tata Kelola Keuangan Daerah yang Akuntabel
- Alfamart dan Cussons Baby Kembali Berkolaborasi melalui Alfamart Sahabat Posyandu, Sasar 2.800 Ibu dan Anak di Juli
- Fraksi Demokrat Apresiasi Pemkab Barito Utara Pertahankan ke 11 kalinya Opini WTP
Pertamax Naik, Usaha Rakyat Terpukul! Pedagang dan Ojol di Majalengka Menjerit

Keterangan Gambar : Pedagang Pertamax di Pom Mini
MEGAPOLITANPOS.COM MAJALENGKA - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax mulai memunculkan efek berantai yang dirasakan langsung oleh masyarakat kecil. Dari pemilik POM Mini, pedagang keliling, hingga pengemudi ojek online, semuanya mengaku harus menghadapi lonjakan biaya operasional yang semakin menekan penghasilan harian.
Di Kabupaten Majalengka, kondisi tersebut mulai terlihat dari menurunnya daya beli masyarakat dan merosotnya penjualan di sejumlah sektor usaha mikro yang bergantung pada kendaraan bermotor.
Pemilik POM Mini di wilayah Cigasong, Ucup (48), mengaku penjualan Pertamax miliknya turun drastis setelah harga BBM mengalami kenaikan. Jika sebelumnya dua jeriken atau sekitar 67 liter Pertamax dapat terjual dalam sehari, kini jumlah yang sama baru habis dalam waktu dua hari.
Baca Lainnya :
- Pengedar Sabu Dibekuk, Polisi Sita 35 Paket Narkoba di Majalengka
- Diskominfo Majalengka Gerak Cepat, 250 Admin Medsos Dilatih Hadapi Sentimen Negatif
- KUA-PPAS 2027 Resmi Diserahkan, DPRD Majalengka Siapkan Pembahasan APBD Rp 3,2 Triliun
- Peduli Almamater, IKASMANRA Dorong Mushola SMAN 1 Rajagaluh
- Pintu Tak Terkunci, Pencuri Gondol HP di Majalengka Berakhir Dibekuk
"Biasanya satu hari habis dua jeriken, sekarang dua hari baru habis. Pembeli banyak yang mengurangi pembelian," ungkapnya, Minggu (14/6/2026).
Menurut Ucup, banyak pelanggan mulai beralih membeli BBM langsung ke SPBU atau memilih menggunakan Pertalite demi menekan pengeluaran. Selisih harga yang cukup besar membuat masyarakat semakin selektif dalam membeli bahan bakar.
Dampak serupa dirasakan para pengemudi ojek online yang setiap hari mengandalkan kendaraan sebagai sumber penghasilan. Kenaikan harga BBM membuat biaya operasional meningkat, sementara pendapatan tetap berjalan di tempat.
Gelombang kenaikan biaya juga menghantam pelaku usaha makanan keliling. Wirja (50), pedagang baso ikan asal Baribis, mengaku terpaksa menaikkan harga jual karena biaya bahan baku dan transportasi terus merangkak naik.
Sebelumnya harga tepung, aci, hingga daging ayam sudah lebih dulu mengalami kenaikan. Kini, tambahan beban dari sektor transportasi membuat ruang keuntungan semakin menyempit.
"Kalau tidak dinaikkan, keuntungan semakin kecil. Tapi setelah harga naik, pembeli juga berkurang karena banyak yang mengeluh kondisi ekonomi sedang sulit," tuturnya.
Situasi yang sama dialami Asep (45), pedagang sayur keliling yang setiap hari berkeliling menggunakan sepeda motor untuk menjangkau pelanggan di berbagai desa.
"Kalau bensin naik, biaya jalan ikut naik. Tapi harga sayur juga tidak bisa sembarangan dinaikkan karena pembeli pasti keberatan," katanya.
Menurut Asep, keuntungan yang diperoleh kini jauh lebih tipis dibandingkan sebelumnya karena sebagian besar pendapatan terserap untuk biaya operasional.
Kenaikan harga Pertamax kini bukan sekadar persoalan bahan bakar, melainkan telah menjadi tekanan baru bagi pelaku usaha mikro yang menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat. Penjualan menurun, biaya usaha meningkat, sementara daya beli warga melemah.
Di tengah kondisi tersebut, para pelaku usaha berharap adanya stabilitas harga dan kebijakan yang mampu menjaga keberlangsungan usaha kecil agar tidak semakin terhimpit oleh beban biaya yang terus meningkat. ** (Agit)










.jpg)






