- Partai NasDem Terima Aspirasi Gerakan Koperasi, Peran Perkoperasian Diperkuat
- Kapolri Silaturahmi Ramadan 2026 Bareng Buruh KSPSI di Jawa Timur
- Gelombang Pertama Evakuasi WNI dari Iran Tiba di Indonesia, Imigrasi Beri Layanan Prioritas
- Transaksi Makin Praktis, Bank Jakarta Dorong Digitalisasi di Bazar Ramadan Pasar Jaya
- Resmikan Sundra Family Care, Menkop Apresiasi Diversifikasi Bisnis Kopontren Sunan Drajat Jatim
- Pemkab Barito Utara Hadiri Paripurna DPRD Penyampaian Pendapat Akhir Fraksi RPJMD 2025–2029
- Paripurna DPRD Bahas Pendapat Akhir Fraksi terhadap RPJMD Barito Utara
- Fraksi DPRD Sampaikan Pendapat Akhir terhadap Raperda RPJMD Barito Utara 2025–2029
- DPRD Barito Utara Gelar Paripurna Penyampaian Pendapat Akhir Fraksi terhadap RPJMD 2025–2029
- Parmana Setiawan, Safari Ramadhan Bukti Sinergi Eksekutif dan Legislatif di Tengah Masyarakat
Bawaslu Kalteng Di Sidang, Terkait Money Politik Pilkada Barut, DKPP RI Tekankan Profesional, Transparansi Dan Akuntabel

MEGAPOLITANPIS.COM - Palangka Raya – Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) Republik Indonesia menggelar sidang pemeriksaan dugaan pelanggaran Kode Etik Penyelenggara Pemilu (KEPP) untuk dua perkara sekaligus, yakni Perkara Nomor 162-PKE-DKPP/VI/2025 dan Perkara Nomor 183-PKE-DKPP/VIII/2025.
Sidang pemeriksaan ini dipimpin oleh Ratna Dewi Pettalolo selaku Ketua Majelis sekaligus Anggota DKPP RI , didampingi Anyualatha Haridison (TPD Provinsi Kalteng unsur Masyarakat), serta Tity Yukrisna (TPD Provinsi Kalteng unsur KPU) berlangsung di Kantor KPU Provinsi Kalimantan Tengah, Kota Palangka Raya, Kamis (11/09/2025).
Dalam perkara pertama dengan nomor 162-PKE-DKPP/VI/2025, pengadu atas nama H Gogo Purman Jaya dan Drs Hendro Nakalelo melalui kuasa hukumnya , M. Junaedi Lumban Gaol dan kawan-kawan.
Dengan mendalilkan adanya pelanggaran etik yang dilakukan Ketua Bawaslu Kabupaten Barito Utara, Adam Parawansa Syahbubakar, bersama sejumlah komisioner Bawaslu Provinsi Kalimantan Tengah, yakni Satriadi, Benny Setia, Siti Wahidah, Kristaten Jon, dan Nurhalina. Dengan mendengarkan keterangan saksi yaitu H Malik Muliawan dan Mahyudin Abdul Gani.
Baca Lainnya :
- Partai NasDem Terima Aspirasi Gerakan Koperasi, Peran Perkoperasian Diperkuat
- Kapolri Silaturahmi Ramadan 2026 Bareng Buruh KSPSI di Jawa Timur
- Gelombang Pertama Evakuasi WNI dari Iran Tiba di Indonesia, Imigrasi Beri Layanan Prioritas
- Transaksi Makin Praktis, Bank Jakarta Dorong Digitalisasi di Bazar Ramadan Pasar Jaya
- Resmikan Sundra Family Care, Menkop Apresiasi Diversifikasi Bisnis Kopontren Sunan Drajat Jatim
Sementara itu, dalam perkara kedua dengan nomor 183-PKE-DKPP/VIII/2025, tujuh orang pengadu ( Kalangan Mahasiswa) yakni Fikri Haikal, Muhammad Rahman, Mochamad Lukman Hakim, M. Hisyam Nawawi, Taufik Hidayah, Sukma Sri Bayu, dan Khairul Hanafi
Baik dalam perkara pertama maupun kedua, para pengadu menilai para teradu tidak Profesional, tidak Akuntabel, serta tidak Transparan dalam menangani dugaan Praktik Politik Uang yang terjadi di Kabupaten Barito Utara.
Penanganan kasus tersebut dinilai tidak sesuai prosedur sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan, serta dianggap mengabaikan fakta-fakta hukum yang ada.
Pada saat persidangan berlangsung Majelis DKPP RI, Ratna Dewi menegaskan bahwa penyelenggara Pemilu, khususnya Bawaslu di semua tingkatan, memegang peranan vital dalam menjaga keadilan pemilu.
"Oleh karena itu, profesionalisme, integritas, dan independensi wajib dijunjung tinggi dalam setiap penanganan perkara," tegas Ratna.
Selain itu Ratna juga menyampauka setiap dugaan pelanggaran, apalagi yang menyangkut politik uang, harus ditangani dengan penuh kehati-hatian, transparan, serta berdasarkan fakta hukum yang kuat.
"Bawaslu tidak boleh terkesan seolah olah mengabaikan laporan masyarakat, kepercayaan publik terhadap penyelenggara pemilu tidak hanya bergantung pada hasil pemilu, tetapi juga pada proses penegakan hukum yang dilakukan secara jujur dan adil.” ucapnya menekan kan.
Kepada pihak teradu (Bawaslu) dia berpesan agar menjadikan perkara ini sebagai pembelajaran untuk memperbaiki kinerja kelembagaan.
Dia mengingatkan, bahwa Kode Etik adalah Kompas Moral yang wajib dijaga.
Bawaslu harus mampu berdiri sebagai wasit yang Netral, tegas, dan terbuka kepada publik.
Sementara itu, Anggota Majelis Tity Yukrisna menekankan akan pentingnya transparansi, keterbukaan dalam proses penanganan pelanggaran menjadi kunci untuk membangun kepercayaan masyarakat.
"Dengan transparansi, setiap keputusan Bawaslu akan memiliki legitimasi kuat," ucap Tity
Sidang pemeriksaan ini merupakan bagian dari tahapan pengumpulan keterangan sebelum majelis DKPP mengambil keputusan final. Putusan akan diumumkan setelah majelis menilai seluruh alat bukti dan mendengarkan keterangan dari para pihak terkait.
Dengan berlangsungnya sidang ini, publik diharapkan dapat menyaksikan komitmen bersama untuk menjaga integritas penyelenggara pemilu di Kalimantan Tengah, khususnya dalam memastikan pemilu yang jujur, adil, dan bermartabat.
(A)

















