- Bukti Peran Aktif Babinsa dan Komduk, Patroli Malam Wujudkan Lingkungan Aman.
- Pemkot Tangerang Wisuda 405 Siswa Sekolah Lansia Angkatan Kedua, Dorong Lansia Mandiri dan Berprestasi.
- Shalahuddin Tegaskan Pendataan dan Verifikasi Pelebaran Jalan Dilakukan Secara Cermat
- Pemkab Barito Utara Percepat Pelebaran Ruas Jalan Dalam Kota Muara Teweh
- 77 Ribu Aduan Bansos Menggunung, Dinsos Majalengka Disorot
- Kementerian UMKM Kembangkan Ekosistem Digital bagi UMKM Pascabencana
- Wamen UMKM: Kolaborasi Lintas Sektor Jadi Kunci Cetak Wirausaha Baru
- Jamaah Haji 2027 Dapat Subsidi Rp 3 Juta, Pelunasan Jadi Rp 23,24 Juta
- Hari Pramuka ke-65, Dandim 0506/Tgr Hadiri Upacara Kwarcab Tangsel.
- Jaga Jakarta On The Spot, Babinsa-Bhabinkamtibmas Bagikan Sembako kepada Warga.
Toko Obat di Cisoka Diamuk Massa Lantaran Diduga Jual Obat Terlarang

Keterangan Gambar : Sebuah toko obat di Cisoka diamuk massa diduga menjual obat-obatan terlarang.
MEGAPOLITANPOS.COM, Kabupaten Tangerang – Sebuah toko obat yang disinyalir menjual obat-obatan terlarang di Desa Cempaka, Kecamatan Cisoka, Kabupaten Tangerang menjadi sasaran amuk massa, minggu (18/12/2022).
Kemarahan warga atas keberadaan toko obat yang diduga mengedarkan obat-obatan terlarang jenis Hexymer, Dekstrometorfan, dan Tramadol lantaran toko tersebut sudah sepakat untuk tidak lagi berjualan di Desa Cempaka.
“Kami sebelumnya sudah membuat suatu petisi terhadap keberadaan toko obat itu, waktu itu kami di mediasi oleh pihak desa dan mereka sepakat untuk pindah dari desa kami,” ungkap Otonk Netto salah seorang ketua pemuda Desa Cempaka kepada pewarta.
Baca Lainnya :
- 77 Ribu Aduan Bansos Menggunung, Dinsos Majalengka Disorot
- Jamaah Haji 2027 Dapat Subsidi Rp 3 Juta, Pelunasan Jadi Rp 23,24 Juta
- Kamenag Kab Tangerang Letakkan Batu Pertama Pembangunan Musalla MAN 2.
- Polisi Turun Tangan, Harga Beras di Majalengka Dipantau Ketat
- BAZNAS Majalengka Raih Penghargaan, Gerakan Zakat Makin Berdampak
Ia menuturkan, kemarahan warga yang tidak lagi bisa dibendung lantaran beberapa pemuda di desanya sudah menjadi korban atas peredaran obat-obatan terlarang.
“Itu toko obat sudah lima tahun buka di sini, kami sudah tidak lagi memberikan toleransi lagi karena sudah ada pemuda sini yang meninggal diduga gara-gara eksimer. Ada yang satu lagi terganggu kejiwaannya dan semuanya pemuda desa kami,” ungkap Otonk Netto yang juga aktif sebagai penggiat media sosial.
Ironisnya lagi, Netto menyebut peredaran obat-obatan terlarang jenis Eximer, Dekstrometorfan dan, Tramadol sudah merangsek ke kalangan anak-anak usia sekolah dasar, sehingga tidak lagi ada alasan untuk toko obat yang diduga mengedarkan obat tersebut untuk beroperasi di desanya.
“Kami pernah menanyakan kepada ibu-ibu yang beli obat di sana untuk putranya yang kecanduan. Jadi kalau nggak dikasih (obat) si anak ngamuk-ngamuk, nendangin tv, apa aja dia tendang,” ujar Otonk Netto.
Di sisi lain, keberadaan toko yang diduga mengedarkan obat-obatan terlarang tersebut sudah terang-terangan dalam mengedarkan barang terlarangnya yang memicu kemarahan warga Desa Cempaka.
“Entah ada siapa di belakangnya atau gimana? itu toko sudah meresahkan lah pokoknya,” ungkap Otonk Netto.
Netto menegaskan, untuk menghindari hal-hal anarki yang lebih parah, pekerja toko dan ratusan butir obat terlarang diserahkan ke Kepolisian Sektor (Polsek) Cisoka untuk ditindak lanjuti.
“Wah, kalau nggak diserahkan ke polsek bisa lebih parah. Untungnya sebelum massa aksi menjurus ke anarkis kami serahkan ke polisi,” ujar Otonk Netto.










.jpg)





