- Wajib Coba, Challenge Berhadiah Ipad dan Smartwatch di JFK 2026
- Suasana Keakraban Kependam Jaya Dengan Jurnalis
- BRI Life Dukung UMKM Fun Run 5K 2026, Dorong Gaya Hidup Sehat dan Literasi Keuangan Masyarakat
- Picu Kemacetan, Camat Tambora Tertibkan PKL
- SILAT APIK PTMA ke-5 Resmi Dibuka di Jakarta, Bahas Etika Digital dan Transformasi Sosial di Era AI
- Ketum SMSI Sebut Pelaku Usaha Media Perlu Fokus Pada Pengembangan Usaha
- Kemenkop Fasilitasi MoU Koperasi Gambir & ID FOOD untuk Ekspor ke India-Pakistan
- FPPM dan Konsultan Hukum Desak Negara Harus Segera Hadir Atasi Konflik Pertanahan
- Pelebaran Jalan Yetro Sinseng dan Tumenggung Ditargetkan Selesai Desember 2026
- Usung Semangat Sportivitas, Endriansyah Siap Ramaikan Bursa Calon Ketua Umum The Jakmania
Sejarah Kabupaten Majalengka: Dari Kerajaan Kuno hingga Perubahan Nama dan Hari Jadi Resmi

Keterangan Gambar : Ilustrasi
MEGAPOLITANPOS.COM MAJALENGKA, 2 Februari 2026 – Kabupaten Majalengka, yang dikenal sebagai "Kota Angin" di Provinsi Jawa Barat, memiliki sejarah panjang yang mencakup masa kerajaan Hindu-Buddha, pengaruh Islam, hingga era kolonial Belanda. Wilayah ini kini memasuki babak baru dengan penetapan ulang Hari Jadi secara resmi.
Masa Awal: Kerajaan-Kerajaan Kuno
- Sebelum menjadi kabupaten modern, wilayah Majalengka merupakan bagian dari beberapa kerajaan Hindu-Buddha hingga abad ke-15, termasuk:
Baca Lainnya :
- Bupati Eman Pacu Atlet Majalengka, Target Tembus Juara Porprov 2026
- Wabup Dena Resmikan Al Khalifah, Harapan Baru Pendidikan Majalengka
- Kapolres Majalengka Taklukkan Ciremai, Kibarkan Merah Putih Raksasa
- AWI Soroti Dugaan Intimidasi Wartawan di DPRD Majalengka, Minta Klarifikasi
- BAZNAS Majalengka Salurkan Bantuan untuk 1.672 Warga Sepanjang Mei 2026
- Kerajaan Talaga Manggung (dipimpin Sunan Corenda/Sunan Parung),
- Kerajaan Rajagaluh (Prabu Cakraningrat),
- serta pengaruh dari Kerajaan Sindangkasih dan Talagamanggung.
Daerah ini juga terkait dengan Kerajaan Tarumanegara di masa awal. Legenda lokal seperti kisah Nyi Rambut Kasih (Ratu Sindangkasih) menjadi asal-usul nama "Majalengka", berasal dari kata "maja" (buah maja) dan "langka" (langka/hilang), karena pasukan Cirebon tidak menemukan buah maja setelah hutan pohon maja ditebang.
Pendirian Administratif di Era Kolonial Belanda
Secara administratif, cikal bakal Kabupaten Majalengka dimulai pada masa Hindia Belanda:
5 Januari 1819: Pembentukan Kabupaten Maja (atau Madja) berdasarkan Besluit Komisaris Gubernur Jenderal Hindia Belanda No. 23. Kabupaten ini termasuk dalam Karesidenan Cirebon, dengan ibu kota di wilayah Kecamatan Maja sekarang. Wilayahnya mencakup gabungan distrik Sindangkasih, Talaga, dan Rajagaluh. Bupati pertama adalah RT Dendranegara.
11 Februari 1840: Tonggak penting terjadi melalui Besluit Gubernur Jenderal D.J. de Eerens No. 2 dan Staatsblad No. 7. Ibu kota Kabupaten Maja dipindahkan dari Maja ke wilayah Sindangkasih, yang kemudian dinamai "Majalengka". Nama kabupaten pun berubah menjadi Kabupaten Majalengka (disebut setara makna dengan Majapahit dalam beberapa interpretasi). Bupati pertama setelah perubahan adalah Raden Aria Adipati Kertadiningrat.
Perubahan ini menandai pendirian resmi Kota Majalengka sebagai pusat pemerintahan hingga kini.
Perubahan Hari Jadi dan Usia Saat Ini
Dulu, Hari Jadi Kabupaten Majalengka diperingati setiap 7 Juni 1490 (berdasarkan asumsi spiritual 10 Muharam), sehingga usia mencapai 535 tahun. Namun, penetapan ini dikritik karena kurang bukti historis primer dan tidak terkait langsung dengan peristiwa administratif.
Pada akhir 2025, Pemkab dan DPRD Majalengka menyepakati perubahan melalui Perda baru. Hari Jadi resmi ditetapkan 11 Februari 1840, sesuai dokumen kolonial Belanda. Pada 2026, Kabupaten Majalengka memperingati Hari Jadi ke-186 tahun (dari 1840 hingga 2026).
Perubahan ini bertujuan agar lebih akurat secara historis, berfokus pada bukti administratif daripada legenda. Peringatan Hari Jadi ke-186 tahun 2026 telah dimatangkan Pemkab dengan berbagai kegiatan.
Kabupaten Majalengka kini terus berkembang, dengan warisan budaya kuat seperti kesenian Calung dan Tarling, serta proyek strategis seperti Bandara Kertajati. Sejarahnya mengingatkan pentingnya menjaga identitas di tengah kemajuan modern.
(Dihimpun dari beberapa sumber)

















