- Fuomo Dorong Kreator Indonesia Jadi Pelaku Bisnis, Siapkan Fitur AI Analytics Engine
- DPRD Sambut Positif Langkah Pemkot Tangerang Akhiri Kerja Sama PSEL Dengan PT Oligo
- Darurat Sampah Nasional : DPRD Minta Pemkot Kota Tangerang Mentransformasi Tata Kelola Sampah
- DPRD Apresiasi Respons Cepat Pemkot Tangerang Tangani Banjir
- Ketua DPRD Terima Tokoh Agama dan Masyarakat, Tabayun Soal Isu Revisi Perda 7 & 8
- AC Manual vs AC Digital di Mobil Modern: Prinsip Sama, Cara Rawatnya Tak Boleh Salah
- Raymond Indra dan Joaquin Ukir Runner-up di Istora, Disebut Penerus Kevin/Marcus
- Anggota DPRD Barito Utara Nilai ORARI Tetap Strategis di Tengah Perkembangan Teknologi
- Alwi Farhan Juara Tunggal Putra Indonesia Masters 2026, BNI: Bukti Pembinaan PBSI Efektif
- Sosok Politisi Ini Tegaskan Kawal Program MBG, Jika Tidak Bisa Jadi Ancaman Anggaran Negara
RSUD Mardi Waluyo Menjadi RSUD Plat Merah Terkotor di Blitar Paska Pemecatan Tenaga Kebersihan

Keterangan Gambar : Poto : Istimewa
MEGAPOLITANPOS. COM, Blitar - Kondisi RSUD Mardi Waluyo Kota Blitar pasca pemangkasan massal tenaga kebersihan menuai kecaman luas dari keluarga pasien. Rumah sakit yang seharusnya menjadi tempat pemulihan justru menimbulkan rasa tidak nyaman akibat kebersihan yang tak terawat. Sampah menumpuk di sejumlah titik, dan lingkungan pelayanan tampak jauh dari standar fasilitas kesehatan.
Pantauan di lapangan banyaknya tumpukan sampah di berbagai sudut rumah sakit. Sebagai contoh banyaknya sampah daun kering di area parkir. Situasi ini menimbulkan keresahan di kalangan pasien dan keluarga yang setiap hari harus beraktivitas di lingkungan tersebut.
“Saya kaget, ini rumah sakit tapi sampahnya dibiarkan menumpuk,” keluh Siti (45), salah satu keluarga pasien asal Kecamatan Sananwetan.
Baca Lainnya :
- DPRD Sambut Positif Langkah Pemkot Tangerang Akhiri Kerja Sama PSEL Dengan PT Oligo
- Darurat Sampah Nasional : DPRD Minta Pemkot Kota Tangerang Mentransformasi Tata Kelola Sampah
- DPRD Apresiasi Respons Cepat Pemkot Tangerang Tangani Banjir
- Ketua DPRD Terima Tokoh Agama dan Masyarakat, Tabayun Soal Isu Revisi Perda 7 & 8
- Jebol Sungai Cimanuk di Majalengka, Area Pertanian dan Rumah Warga Terendam Banjir
Kondisi tersebut diduga kuat sebagai dampak langsung dari kebijakan pemangkasan massal tenaga kebersihan yang dilakukan manajemen rumah sakit. Jumlah petugas yang tersisa dinilai tidak sebanding dengan luas area RSUD Mardi Waluyo, sehingga kebersihan tak lagi tertangani secara optimal.
“Kami ini membawa orang sakit, bukan orang sehat. Kalau lingkungannya kotor begini, malah takut nambah penyakit,” tambah Siti.
Ironisnya, kebijakan efisiensi yang digembar-gemborkan justru mengorbankan aspek paling mendasar dalam layanan kesehatan. Kebersihan bukan sekadar estetika, melainkan syarat mutlak keselamatan pasien. Lingkungan rumah sakit yang kotor berpotensi meningkatkan risiko infeksi dan memperburuk kondisi pasien.
Seperti diberitakan sebelumnya, harapan puluhan tenaga kebersihan untuk memulai awal tahun dengan pekerjaan layak justru berubah menjadi kekecewaan mendalam. Mereka yang telah dinyatakan lolos seleksi dan bahkan mulai bekerja di RSUD Mardi Waluyo sejak Kamis (1/1/2026), mendadak menerima kenyataan pahit: status kelulusan mereka dibatalkan sepihak.
Keputusan itu disampaikan oleh PT Sasana Bersaudara Indonesia (SBI) melalui surat pengumuman resmi bernomor 002/PNG/SBI/I/2026, selaku perusahaan penyedia jasa tenaga kebersihan di rumah sakit tersebut.
Ironisnya, alasan pembatalan hanya disebut sebagai “kendala internal perusahaan” tanpa penjelasan rinci, transparan, dan masuk akal. Sebuah alasan yang dinilai tidak manusiawi, mengingat puluhan kepala keluarga telah menggantungkan hidup pada pekerjaan tersebut.
Sementara itu, Plt Direktur RSUD Mardi Waluyo, dr. Bernard Theodore Ratulangi, Sp.PK., menyatakan bahwa rumah sakit telah memberikan teguran kepada pihak perusahaan rekanan tersebut.
“Kami sudah menegur PT-nya. Kok bisa seperti itu. Tapi soal penggantian pekerja, kami tidak tahu. Kalau terkait titipan, saya tidak tahu sama sekali,” tegasnya.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak PT Sasana Bersaudara Indonesia belum memberikan klarifikasi. Upaya konfirmasi melalui pesan singkat dan sambungan telepon belum memperoleh respons.
Kisruh rekrutmen tenaga kebersihan ini kembali memunculkan sorotan terhadap tata kelola manajemen di RSUD Mardi Waluyo. Transparansi, profesionalitas, dan keadilan dalam proses penerimaan tenaga kerja kembali dipertanyakan.(za/mp )











.jpg)





