Breaking News
- Polres Blitar Kota Laksanakan Ramp Check dan Tes Urine Sopir serta Awak Bus di Terminal Patria
- Geger! Kasi Satpol PP Majalengka Ditemukan Tewas Mendadak di Kamar Kos Cigasong
- PRSI Dukung Robotic Competition 2026 di Kupang, Pemkot Beri Dukungan Penuh
- BRI Life Tebar Kebaikan Ramadan Lewat Program Takjil on The Road
- Mudik Lebih Nyaman, Bank Jakarta Siapkan Posko Istirahat hingga Program Mudik Gratis
- Menkop: Kopdes Merah Putih Jadi Ujung Tombak Keadilan Ekonomi dan Solusi Kesejahteraan Desa
- Lantik Pejabat Pengawas dan Fungsional, Wamen Ossy: Ujung Tombak dalam Pelayanan Pertanahan
- Kementerian ATR/BPN Dukung Program Ketahanan Energi Lewat Penyediaan Lahan dan Tata Ruang
- Gelar Rapim, Menteri ATR/Kepala BPN Minta Jajaran Matangkan Penyelarasan Data Jelang Penetapan LSD di 12 Provinsi
- Ramadhan Berbagi, Dr H. Amrullah: Hadirkan Kebahagiaan Lintas Agama
Pendidikan Karakter Pancasila Dapat Melindungi Diri Dari Dampak Negatif Era Globalisasi

Jakarta(MegapolitanPos.com): Sudah lebih dari dua tahun ini, Indonesia dilanda pandemi Covid-19. Sejak itu pula, hampir seluruh aspek kehidupan manusia turut mengalami perubahan yang signifikan. Bukan hanya perekonomian, pandemi juga berdampak pada dunia pendidikan di Tanah Air. Pendidikan yang dahulu dilakukan secara tatap muka di sekolah, saat ini telah bertransformasi. Jumlah siswa dibatasi, protokol kesehatan diterapkan, bahkan kini sistem pembelajaran dilakukan dengan konsep hybrid dengan menggabungkan sistem luar jaringan (luring) atau offline dan sistem dalam jaringan (daring) atau online. Anggota Komisi 1 DPR RI, Kresna Dewanata Phrosakh berpendapat bahwa penggunaan sistem daring dalam dunia pendidikan, dapat menjadi cara bagi para pengguna untuk menerapkan hal positif dalam penggunaan teknologi. "Bukan malah menjadikan kepada hal-hal yang negative seperti menyebar hoks. Dan saat ini kita tahu bahwa Kominfo sedang gencar-gencarnya membuat fasilitas atau jaringan di seluruh pelosok negeri yang harus bisa dirasakan oleh masyarakat. Di sini peran penting kita sebagai anak-anak bangsa untuk bisa menjelaskan kepada masyarakat agar dunia digital bisa digunakan sebaik-baiknya. Agar semua jaringan atau fasilitas yang sudah dibuat Kominfo saat ini bisa bermanfaat bagi kita semua," terang Kresna dalam webinar bertajuk "Ngobrol Bareng Legislator : Pendidikan Karakter Pancasila dalam Pembelajaran Daring" pada Rabu (13/4/2022). Namun kendati demikian, menurut Kresna, penggunaan sistem online harus dibarengi dengan penanaman edukasi yang benar. Salah satu yang penting, adalah pendidikan karakter pancasila. "Di mana para peserta didik harus mengenal apa yang terkandung dalam sila-sila Pancasila. Baik dari pendidikan yang paling pertama sampai ke tingkat perguruan tinggi. Dalam membentuk karakter seorang anak, tentunya peran orang tua dan lingkungan sekitar menjadi perhatian. Karna apa yang kita ajarkan pada anak itu akan melekat sampai besar nanti. Maka dari itu manfaat dari pendidikan karakter ini sangatlah banyak, terkhususnya dalam membentuk pribadi yang baik, yang mempunyai nilai dan moral dari pancasila," jelasnya. Senada dengannya, Aktivis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Siti Nur Heliza memaparkan bahwa pendidikan karakter itu menjadi suatu usaha sadar yang terencana dan terarah melalui lingkungan pembelajaran untuk tumbuh kembang anak. Tujuannya agar anak dapat memiliki watak berkepribadian baik, bermoral-berakhlak, dan berefek positif konstruktif pada alam dan masyarakat. Pendidikan karakter Pancasila, menurutnya berfungsi sebagai perisai untuk melindungi peserta didik dari dampak-dampak negatif era globalisasi. "Jika seorang anak dikondisikan dengan pengajaran, keteladanan, dan pembiasaan sejak kecil dari keluarga, sekolah, dan lingkungan masyarakat mengenai nilai-nilai Pancasila tersebut, maka ia akan tumbuh dan berkembang menjadi remaja yang berkarakter Pancasila dan siap menghadapi berbagai hantaman dari perkembangan zaman," tuturnya. Menurutnya, ada beberapa ciri pelajar memiliki karakter Pancasila. Hal itu terlihat dalam pengamalan sila-sila dalam kehidupannya sehari-hari. "Pertama, rajin beribadah sesuai dengan keyakinan masing-masing dan menjalankan nilai-nilai baik dalam ajaran agamanya dalam kehidupan sehari-hari. Kedua, dapat berteman dengan siapa saja, sehingga anak tersebut tidak memilih-milih teman. Dalam hal ini memilih dalam bentuk rasa tau budaya yang berbeda. Ketiga, memiliki pemikiran yang terbuka dan menghargai perbedaan," paparnya. Selanjutnya yang keempat, yakni dapat menerima dan belajar budaya lain tanpa menghilangkan identitas budayanya sendiri,. "Kelima, membantu temannya yang kesulitan, sehingga jika ada teman yang mengalami kesusahan selagi kita bisa bantu. Lalu keenam, memiliki kreativitas yang tinggi, berpikir kritis dan dapat memecahkan masalah sendiri. Dan terakhir yaitu ketujuh, disiplin masuk kelas dan bertanggung jawab pada tugas," tutup Siti Nur(ASl/Red/MP).

















