- Dua Pria Pelaku Pembunuhan Berencana di Pinang Ranti Jaktim Berhasil Ditangkap
- Manfaatkan PTSL untuk Urus Sertipikat, Masyarakat: Proses Dipermudah.
- Menkop Kukuhkan Prof. Yudi Azis Sebagai Rektor IKOPIN University
- Anggaran BPJS Kesehatan Disorot DPRD Kota Bogor
- Anggaran BPJS Kota Bogor Menjadi Sorotan DPRD Kota Bogor
- Soal Video AI Prof Djokosoetono, Mintarsih: Tiga Pendiri Blue Bird Hilang
- Jangkau Lokasi Sempit, Babinsa Dan Komduk Patroli Malam Gunakan Motor.
- TMMD 130 Jadi Kado Istimewa HUT Kab Tangerang Ke-394.
- Banten Investment Forum 2026 Dorong Investasi Asing dan Domestik, Pacu Ekonomi Daerah.
- BRI Life Perkuat Integrasi Layanan Kesehatan Lewat Kerja Sama KAPJ
Nilai 32,40 dari KLH, Ateng Sutisna: Sumedang Sedang Berdiri di Bibir Krisis Sampah!

Keterangan Gambar : Anggota Komisi XII DPR RI Fraksi PKS Dapil Jabar IX, Ateng Sutisna,.
MEGAPOLITANPOS.COM SUMEDANG - Alarm itu akhirnya berbunyi. Bukan sirene bencana alam, melainkan lembar evaluasi resmi dari Kementerian Lingkungan Hidup yang memberi nilai agregat 32,40 dengan predikat "Dalam Pembinaan" untuk sistem pengelolaan sampah Kabupaten Sumedang.
Bagi Anggota Komisi XII DPR RI Fraksi PKS Dapil Jabar IX, Ateng Sutisna, angka tersebut bukan sekadar statistik administratif melainkan sinyal darurat ekologis yang tak bisa lagi ditunda.
"Ini bukan angka biasa. Ini cermin bahwa kita sedang menumpuk utang ekologis beracun untuk anak-cucu kita. Predikat 'Dalam Pembinaan' harus dibalas dengan aksi percepatan, bukan kepanikan atau saling menyalahkan, "tegas Ateng dengan nada keras. Dikutip dari Website Fraksi.PKS.id. Minggu, (01/03/2026
Baca Lainnya :
- Pengeroyokan Brutal di Majalengka, 4 Orang Diamankan, 3 Diburu
- Harga Cabai Bikin Dapur Tertekan, Bupati Majalengka Ajak Warga Menanam
- Baznas Majalengka Siapkan 10 Masjid Jadi Motor Penggerak Ekonomi Umat
- Yonif TP 338 Majalengka Bergerak, dari Pangan hingga Kesehatan
- Bupati Eman Hadir, Makom Albab Majalengka Siap Tancap Gas 2026-2031
Menurutnya, jika tidak ada reformasi total tata kelola, Sumedang berisiko menghadapi krisis yang lebih dalam: ledakan volume sampah, keterbatasan lahan TPA, pencemaran air tanah, hingga ancaman kesehatan masyarakat.
Ia memang mengapresiasi langkah Pemkab yang mulai mentransisikan TPA Cibeureum dari sistem open dumping menuju controlled landfill. Namun, Ateng mengingatkan bahwa langkah itu baru sebatas "menambal kebocoran", bukan membangun sistem yang kokoh.
"Controlled landfill itu solusi teknis sementara. Kita tidak boleh menipu diri sendiri. Tanpa terobosan berbasis ekonomi sirkular, krisis ini hanya ditunda, bukan diselesaikan," ujarnya.
Lebih jauh, ia menyoroti proyek regional persampahan tingkat provinsi yang belum menunjukkan progres optimal. Kegagalan koordinasi lintas sektor, menurutnya, menjadi pelajaran pahit yang tak boleh terulang.
Karena itu, ia mendorong pembentukan Satker independen untuk proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik atau Bahan Bakar (PSEL).
"Sumedang butuh komando tunggal yang kuat. Satker ini harus punya kewenangan penuh dari pembebasan lahan, kepastian anggaran, negosiasi tarif investor, hingga memastikan dukungan pembiayaan pusat. Tanpa itu, proyek hanya akan jadi wacana," katanya.
Ateng juga mengingatkan bahwa pembangunan fasilitas seperti RDF, TPST, maupun Waste-to-Energy tak boleh mengorbankan lingkungan. Seluruh rencana wajib tunduk pada Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) dan dilengkapi sistem sensor emisi real-time.
"Ekonomi tidak boleh dibangun di atas kerusakan ekologis. Lingkungan bukan korban pembangunan," tegasnya.
Sebagai wakil rakyat di Senayan, Ateng memastikan dirinya akan mengawal alokasi anggaran dan kebijakan infrastruktur hijau bagi Sumedang, Majalengka, dan Subang. Ia menilai bantuan biodigester di kawasan DAS Citarum harus menjadi titik awal revolusi teknologi ekologis yang lebih masif.
Di akhir pernyataannya, ia mengajak masyarakat bergerak dari hulu: pemilahan sampah komunal, Zero Waste School, hingga gerakan kebersihan tematik. Targetnya jelas kedaulatan bebas sampah 100 persen pada akhir RPJMD 2029.
"Ini bukan sekadar proyek kebersihan. Ini perjuangan menyelamatkan peradaban ekologis Sumedang. Kalau bukan sekarang, kapan lagi?" pungkasnya tajam. ** (Agit)







.jpg)



.jpg)




