- Amankan Pengesahan Warga Baru PSHT Sebanyak 480 Personil Disiagakan
- Warisan Leluhur yang Tetap Hidup, Hajat Laut Pangandaran Dorong Pariwisata Daerah
- Disambut Meriah di Istana Merdeka, Presiden Steinmeier Bahas Kerja Sama Strategis dengan Prabowo
- 585 Personel Gabungan Jajaran Polda Metro Disiagakan pada Kunjungan Kenegaraan Presiden Jerman
- Pesan Megawati Kepada Generasi Muda Dalam Bulan Bung Karno
- Jakarta Fair Kemayoran 2026 Semakin Semarak dengan Pertunjukan Barongsai Berkelas Dunia
- BNI Apresiasi Prestasi Alwi Farhan di Australia Open 2026, Pembinaan PBSI Dinilai Berhasil
- Jaga Stabilitas Keamanan Koramil 06/ Cbd dan Koramil 09/Setu Patroli Malam
- Berikan Pengarahan di Kantah Kota Samarinda, Wamen Ossy: ATR/BPN Harus Jadi Solusi Atas Pembangunan di Kalimantan Timur
- Jadi Pembicara di Akademi Politik UMJ, Wamen ATR/Waka BPN: Pertanahan Berperan Strategis dalam Mendukung Asta Cita Presiden
Nilai 32,40 dari KLH, Ateng Sutisna: Sumedang Sedang Berdiri di Bibir Krisis Sampah!

Keterangan Gambar : Anggota Komisi XII DPR RI Fraksi PKS Dapil Jabar IX, Ateng Sutisna,.
MEGAPOLITANPOS.COM SUMEDANG - Alarm itu akhirnya berbunyi. Bukan sirene bencana alam, melainkan lembar evaluasi resmi dari Kementerian Lingkungan Hidup yang memberi nilai agregat 32,40 dengan predikat "Dalam Pembinaan" untuk sistem pengelolaan sampah Kabupaten Sumedang.
Bagi Anggota Komisi XII DPR RI Fraksi PKS Dapil Jabar IX, Ateng Sutisna, angka tersebut bukan sekadar statistik administratif melainkan sinyal darurat ekologis yang tak bisa lagi ditunda.
"Ini bukan angka biasa. Ini cermin bahwa kita sedang menumpuk utang ekologis beracun untuk anak-cucu kita. Predikat 'Dalam Pembinaan' harus dibalas dengan aksi percepatan, bukan kepanikan atau saling menyalahkan, "tegas Ateng dengan nada keras. Dikutip dari Website Fraksi.PKS.id. Minggu, (01/03/2026
Baca Lainnya :
- Pertamax Naik, Usaha Rakyat Terpukul! Pedagang dan Ojol di Majalengka Menjerit
- Bupati Eman Puji Reksa Siaga TNI AU, Warga Majalengka Takjub
- Gerak Serentak PKK Majalengka Guncang Desa :26 Kecamatan Disisir, Bantuan Digelontorkan
- Pengedar Tramadol Digerebek di Majalengka, 101 Butir Disita Polisi
- Kapolres Rita Suwadi Ungkap Begal Jalanan, Residivis Kembali Beraksi
Menurutnya, jika tidak ada reformasi total tata kelola, Sumedang berisiko menghadapi krisis yang lebih dalam: ledakan volume sampah, keterbatasan lahan TPA, pencemaran air tanah, hingga ancaman kesehatan masyarakat.
Ia memang mengapresiasi langkah Pemkab yang mulai mentransisikan TPA Cibeureum dari sistem open dumping menuju controlled landfill. Namun, Ateng mengingatkan bahwa langkah itu baru sebatas "menambal kebocoran", bukan membangun sistem yang kokoh.
"Controlled landfill itu solusi teknis sementara. Kita tidak boleh menipu diri sendiri. Tanpa terobosan berbasis ekonomi sirkular, krisis ini hanya ditunda, bukan diselesaikan," ujarnya.
Lebih jauh, ia menyoroti proyek regional persampahan tingkat provinsi yang belum menunjukkan progres optimal. Kegagalan koordinasi lintas sektor, menurutnya, menjadi pelajaran pahit yang tak boleh terulang.
Karena itu, ia mendorong pembentukan Satker independen untuk proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik atau Bahan Bakar (PSEL).
"Sumedang butuh komando tunggal yang kuat. Satker ini harus punya kewenangan penuh dari pembebasan lahan, kepastian anggaran, negosiasi tarif investor, hingga memastikan dukungan pembiayaan pusat. Tanpa itu, proyek hanya akan jadi wacana," katanya.
Ateng juga mengingatkan bahwa pembangunan fasilitas seperti RDF, TPST, maupun Waste-to-Energy tak boleh mengorbankan lingkungan. Seluruh rencana wajib tunduk pada Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) dan dilengkapi sistem sensor emisi real-time.
"Ekonomi tidak boleh dibangun di atas kerusakan ekologis. Lingkungan bukan korban pembangunan," tegasnya.
Sebagai wakil rakyat di Senayan, Ateng memastikan dirinya akan mengawal alokasi anggaran dan kebijakan infrastruktur hijau bagi Sumedang, Majalengka, dan Subang. Ia menilai bantuan biodigester di kawasan DAS Citarum harus menjadi titik awal revolusi teknologi ekologis yang lebih masif.
Di akhir pernyataannya, ia mengajak masyarakat bergerak dari hulu: pemilahan sampah komunal, Zero Waste School, hingga gerakan kebersihan tematik. Targetnya jelas kedaulatan bebas sampah 100 persen pada akhir RPJMD 2029.
"Ini bukan sekadar proyek kebersihan. Ini perjuangan menyelamatkan peradaban ekologis Sumedang. Kalau bukan sekarang, kapan lagi?" pungkasnya tajam. ** (Agit)

















