- Barito Selatan Beri Akses Sekolah Enuma ke 33 TK dan SD, Perkuat Pembelajaran Digital
- BKPRMI DKI Dorong Sertifikat Juara FASI Bisa untuk Jalur Prestasi
- Tok, DPRD dan Pemkot Bogor Sahkan Dua Perda, Pasar Rakyat dan Adminduk
- Sekelompok Massa Geruduk HW Ambyar Senopati dan Bentangkan Spanduk Hormati Hari Santri
- Dua Tahun Kabinet Merah Putih Kementerian UMKM Perluas Akses Usaha dan Pembiayaan
- BRI Life Luncurkan Asuransi COZY, Premi Mulai Rp1.000 per Hari
- Pastikan Pengelolaan Dana Akuntabel, LPDB Koperasi Perkuat sistem Keuangan
- Lima Poin Penting Bupati Dalam Rakor Camat dan Kepala Puskesmas se Barito Utara
- Demi Menjaga Keamanan, Babinsa Dan Komduk Patroli Malam.
- Kejar Target 11 Program Unggulan dan 12 Prioritas, Bupati Minta Jajaran Bergerak Cepat
Meutya Hafid: Penggunaan AI Saja Tak Otomatis Jadi Kapasitas Nasional

Keterangan Gambar : Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid dalam World Encounter Summit 2026
MEGAPOLITANPOS.COM, Bali – Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang semakin pesat memunculkan pertanyaan besar tentang masa depan manusia. Apakah teknologi akan membuat kehidupan menjadi lebih baik atau justru menghilangkan sisi mendasar dari kemanusiaan?
Pertanyaan tersebut menjadi salah satu pembahasan utama dalam World Encounter Summit 2026 yang mempertemukan pemimpin pemerintahan, pemuda, akademisi, tokoh agama, perusahaan teknologi, hingga masyarakat sipil dari berbagai negara di Bali.
Rangkaian forum diawali melalui Bali Harmony Dialogue pada Kamis (3/9/2026) di United In Diversity (UID) Bali Campus, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura Kura Bali.
Baca Lainnya :
- Barito Selatan Beri Akses Sekolah Enuma ke 33 TK dan SD, Perkuat Pembelajaran Digital
- BKPRMI DKI Dorong Sertifikat Juara FASI Bisa untuk Jalur Prestasi
- Tok, DPRD dan Pemkot Bogor Sahkan Dua Perda, Pasar Rakyat dan Adminduk
- Sekelompok Massa Geruduk HW Ambyar Senopati dan Bentangkan Spanduk Hormati Hari Santri
- Dua Tahun Kabinet Merah Putih Kementerian UMKM Perluas Akses Usaha dan Pembiayaan
Forum kemudian dilanjutkan dengan XI International Scholas Chairs Congress 2026 yang berlangsung pada 4-6 September 2026.
Peserta dari lima benua membahas berbagai dampak perkembangan AI terhadap kehidupan manusia, mulai dari pendidikan, dunia kerja, kesehatan mental generasi muda, demokrasi, hingga hubungan sosial.
Kesenjangan AI Jadi Perhatian
Salah satu persoalan yang menjadi perhatian dalam forum tersebut adalah kesenjangan dalam perkembangan dan pemanfaatan AI.
Tidak semua negara memiliki akses yang sama terhadap data, daya komputasi, infrastruktur digital, sumber daya manusia bertalenta, maupun kemampuan untuk mengatur perkembangan teknologi.
Karena itu, pemerataan manfaat AI dinilai tidak hanya menjadi persoalan teknologi. Isu tersebut juga berkaitan erat dengan keadilan sosial, ekonomi, moral, hingga lingkungan.
Ketua Dewan Ekonomi Nasional RI Luhut B. Pandjaitan menegaskan Indonesia harus membangun kapasitas teknologi sendiri agar tidak hanya menjadi pengguna AI.
"Salah satunya melalui pengembangan AI yang ditopang energi bersih serta pendidikan STEM," tandas Luhut.
Menurutnya, penguatan kapasitas nasional menjadi penting agar Indonesia mampu memanfaatkan perkembangan AI secara berkelanjutan sekaligus meningkatkan daya saing bangsa.
Meutya: Penggunaan AI Tak Otomatis Jadi Kapasitas Nasional
Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid juga menyoroti tingginya penggunaan AI di kalangan generasi muda Indonesia.
Menurutnya, tingginya adopsi AI harus diiringi dengan penguatan riset, talenta digital, infrastruktur, serta kebijakan yang mendukung pengembangan teknologi di dalam negeri.
"Penggunaan saja tidak otomatis menjadi kapasitas nasional," ujar Meutya.
Ia menilai Indonesia memiliki peluang besar untuk naik kelas menjadi pencipta teknologi, bukan hanya menjadi pasar bagi produk-produk AI yang dikembangkan negara lain.
Karena itu, penguatan ekosistem AI nasional dinilai menjadi salah satu kunci agar manfaat perkembangan teknologi dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.
AI Harus Tetap Berpihak pada Manusia
Sementara itu, Direktur Eksekutif Scholas Occurrentes, Maria Paz Jurado, mengingatkan bahwa pertanyaan terbesar di era AI tidak hanya berkaitan dengan kemampuan mesin.
Menurutnya, dunia juga perlu menentukan manusia seperti apa yang ingin dibangun bersama perkembangan teknologi tersebut.
Pandangan itu menegaskan bahwa kemajuan AI perlu diimbangi dengan nilai-nilai kemanusiaan. Teknologi tidak cukup hanya dinilai dari seberapa canggih kemampuannya, tetapi juga dari dampaknya terhadap kehidupan manusia dan masyarakat.
World Encounter Summit 2026 di Bali pun menjadi ruang dialog global untuk mencari titik temu antara kemajuan teknologi dan kebutuhan menjaga nilai kemanusiaan.(AS/MP).




.jpg)



.jpg)






