- Bukti Peran Aktif Babinsa dan Komduk, Patroli Malam Wujudkan Lingkungan Aman.
- Pemkot Tangerang Wisuda 405 Siswa Sekolah Lansia Angkatan Kedua, Dorong Lansia Mandiri dan Berprestasi.
- Shalahuddin Tegaskan Pendataan dan Verifikasi Pelebaran Jalan Dilakukan Secara Cermat
- Pemkab Barito Utara Percepat Pelebaran Ruas Jalan Dalam Kota Muara Teweh
- 77 Ribu Aduan Bansos Menggunung, Dinsos Majalengka Disorot
- Kementerian UMKM Kembangkan Ekosistem Digital bagi UMKM Pascabencana
- Wamen UMKM: Kolaborasi Lintas Sektor Jadi Kunci Cetak Wirausaha Baru
- Jamaah Haji 2027 Dapat Subsidi Rp 3 Juta, Pelunasan Jadi Rp 23,24 Juta
- Hari Pramuka ke-65, Dandim 0506/Tgr Hadiri Upacara Kwarcab Tangsel.
- Jaga Jakarta On The Spot, Babinsa-Bhabinkamtibmas Bagikan Sembako kepada Warga.
Ingin Tembus Pasar Jepang, Ini TipsYang Perlu Diketahui Bagi Pelaku UMKM

Megapolitanpos.com, Jakarta- General Manager BNI Tokyo Yudhi Zufrial membagikan tiga hal penting yang perlu diketahui pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) agar bisa menembus pasar Jepang.
Yudhi menyampaikan, tiga pilar bisnis di Jepang itu yakni kualitas, layanan, dan kepercayaan. Dengan mengusung tiga pilar itu, daya saing produk UMKM asal Indonesia bisa menjadi lebih kuat dan disukai oleh konsumen Jepang.
"Kualitas itu nomor satu mulai dari bahan baku, proses produksi, dan hasil akhir," kata Yudhi.
Baca Lainnya :
- Kementerian UMKM Kembangkan Ekosistem Digital bagi UMKM Pascabencana
- Kementerian UMKM Buka Akses Startup Indonesia ke Investasi Global
- Menkop: Percepatan Operasional KDKMP Di Toba Prioritaskan Ekonomi Lokal
- Menkop Dorong UNITA Jadi Pusat Pengembangan SDM dan Ekonomi Berbasis Koperasi
- BNI Tawarkan SBR015 lewat wondr, Imbal Hasil hingga 6,85% dan Cashback hingga Rp15 Juta
Yudhi mengatakan, seluruh produk yang dihasilkan UMKM harus konsisten. Selain itu, kualitas produknya juga harus terstandardisasi.
"Tidak bisa hari ini bagus tapi besok jelek. Itu akan mengecewakan konsumen," ungkapnya.
Poin penting kedua adalah layanan. UMKM perlu mampu memenuhi standar layanan yang diharapkan oleh konsumen atau mitra pengusaha di Jepang. Hal itu seperti tenggat waktu pengiriman barang yang harus dipenuhi sesuai perjanjian.
Kemudian, mitra pengusaha maupun konsumen di Jepang juga memperhatikan layanan purnajual. Menurut Yudhi, Jepang memiliki budaya layanan purnajual yang kuat sehingga dapat memuaskan pelanggan ketika ada komplain.
"Kalau pernah mendengar ada istilah kaizen, itu adalah perbaikan secara terus dan berkesinambungan. Itu berlaku di sini. Itu juga bagi pelaku usaha kita yang ingin masuk Jepang perlu menjadi perhatian," ujar Yudhi.
Kemudian, faktor lain yang sangat menentukan adalah terkait kepercayaan atau trust. Yudhi mengatakan, produsen yang mampu mendapatkan kepercayaan dari masyarakat Jepang dipercaya dapat lebih mudah menembus pasar negara lain.
"Ada anekdot di sini, kalau sudah bisa masuk ke pasar Jepang maka menembus negara lain itu sangat mudah. Itu karena di sini sangat detail dan teknis sekali," ujarnya.
BNI Tokyo memiliki komitmen untuk membantu UMKM yang berorientasi ekspor. Salah satunya, kepada nasabah BNI di Indonesia terdapat program BNI Xpora.
BNI Tokyo secara rutin memfasilitasi UMKM untuk bisa mengikuti pameran di Jepang. Salah satunya, untuk UMKM dari sektor makanan dan minuman, yakni mengikuti pameran Food Expo. Tak hanya itu, BNI Tokyo juga memfasilitasi UMKM terlibat dalam pameran dagang lainnya dengan menggandeng Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Tokyo.
Setelah mengikuti pameran, BNI Tokyo juga memberikan pendampingan dan business matching. Hal itu menjadi tindak lanjut BNI Tokyo agar pembinaan terhadap UMKM bisa diberikan secara komprehensif.
"Saya juga minta pengusaha untuk responsif. Jangan setelah ikut pameran, justru didiamkan karena nanti calon mitra dari Jepangnya justru kecewa," ungkap Yudhi. (Reporter Achmad Sholeh.sumiukm2@gmail.com)










.jpg)





