- BEN Carnival 5 Kota Blitar Potret Kebhinekaan Adat Budaya 37 Provinsi Tampil Memukau
- Kualitas Udara Memburuk, Ketua Komisi I DPRD Barito Utara Imbau Warga Waspadai Dampak Karhutla
- Pabrik Uang Palsu Grade A Digerebek di Tangsel, Nilainya Capai Rp36 Miliar
- Menkop Dorong Transformasi Komunitas Ekraf Malang Jadi Koperasi
- Bank Jakarta dan ITB Perkuat Kolaborasi Pendidikan, Riset, dan Pengembangan Talenta
- Momen Istimewa Hari Juang Polri 2026, Para Mantan Kapolri dan Wakapolri Berkumpul di Mabes Polri
- Jalan Sangego Selatan Kota Tangerang Diperbaiki, Pemkot Mulai Terapkan Contraflow
- Menteri UMKM Ajak Mahasiswa Berwirausaha dan Ciptakan Lapangan Kerja
- Ciputra Life Bukukan Laba Rp99,3 Miliar, Premi Semester I 2026 Tumbuh 53 Persen
- Silaturahmi ke PDM Depok, Kapolres Christian Rony Putra Ajak Muhammadiyah Perkuat Kamtibmas
Ingin Tembus Pasar Jepang, Ini TipsYang Perlu Diketahui Bagi Pelaku UMKM

Megapolitanpos.com, Jakarta- General Manager BNI Tokyo Yudhi Zufrial membagikan tiga hal penting yang perlu diketahui pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) agar bisa menembus pasar Jepang.
Yudhi menyampaikan, tiga pilar bisnis di Jepang itu yakni kualitas, layanan, dan kepercayaan. Dengan mengusung tiga pilar itu, daya saing produk UMKM asal Indonesia bisa menjadi lebih kuat dan disukai oleh konsumen Jepang.
"Kualitas itu nomor satu mulai dari bahan baku, proses produksi, dan hasil akhir," kata Yudhi.
Baca Lainnya :
- Bursa Wirausaha Unggulan Hadir di Sumut, Kementerian UMKM Buka Akses Pasar dan Pembiayaan
- Warung Tiwul hingga Sate Taichan Ludes, UMKM Rasakan Manfaat Kumpul Bersama Rakyat
- Kumpul Bersama Rakyat, Menteri UMKM Ajak Perkuat Solidaritas dan Satukan Semangat Kemerdekaan
- KTH Blitar Marah Kerahkan Massa Gruduk Perhutani Tuntut Penyelesaian Masalah 90 Hari
- Bukan Sekadar Seremoni, PTPN I Hadirkan Dampak Ekonomi bagi Ratusan UMKM
Yudhi mengatakan, seluruh produk yang dihasilkan UMKM harus konsisten. Selain itu, kualitas produknya juga harus terstandardisasi.
"Tidak bisa hari ini bagus tapi besok jelek. Itu akan mengecewakan konsumen," ungkapnya.
Poin penting kedua adalah layanan. UMKM perlu mampu memenuhi standar layanan yang diharapkan oleh konsumen atau mitra pengusaha di Jepang. Hal itu seperti tenggat waktu pengiriman barang yang harus dipenuhi sesuai perjanjian.
Kemudian, mitra pengusaha maupun konsumen di Jepang juga memperhatikan layanan purnajual. Menurut Yudhi, Jepang memiliki budaya layanan purnajual yang kuat sehingga dapat memuaskan pelanggan ketika ada komplain.
"Kalau pernah mendengar ada istilah kaizen, itu adalah perbaikan secara terus dan berkesinambungan. Itu berlaku di sini. Itu juga bagi pelaku usaha kita yang ingin masuk Jepang perlu menjadi perhatian," ujar Yudhi.
Kemudian, faktor lain yang sangat menentukan adalah terkait kepercayaan atau trust. Yudhi mengatakan, produsen yang mampu mendapatkan kepercayaan dari masyarakat Jepang dipercaya dapat lebih mudah menembus pasar negara lain.
"Ada anekdot di sini, kalau sudah bisa masuk ke pasar Jepang maka menembus negara lain itu sangat mudah. Itu karena di sini sangat detail dan teknis sekali," ujarnya.
BNI Tokyo memiliki komitmen untuk membantu UMKM yang berorientasi ekspor. Salah satunya, kepada nasabah BNI di Indonesia terdapat program BNI Xpora.
BNI Tokyo secara rutin memfasilitasi UMKM untuk bisa mengikuti pameran di Jepang. Salah satunya, untuk UMKM dari sektor makanan dan minuman, yakni mengikuti pameran Food Expo. Tak hanya itu, BNI Tokyo juga memfasilitasi UMKM terlibat dalam pameran dagang lainnya dengan menggandeng Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Tokyo.
Setelah mengikuti pameran, BNI Tokyo juga memberikan pendampingan dan business matching. Hal itu menjadi tindak lanjut BNI Tokyo agar pembinaan terhadap UMKM bisa diberikan secara komprehensif.
"Saya juga minta pengusaha untuk responsif. Jangan setelah ikut pameran, justru didiamkan karena nanti calon mitra dari Jepangnya justru kecewa," ungkap Yudhi. (Reporter Achmad Sholeh.sumiukm2@gmail.com)




.jpg)
.jpg)











