- Jaga Stabilitas Keamanan Koramil 06/ Cbd dan Koramil 09/Setu Patroli Malam
- Berikan Pengarahan di Kantah Kota Samarinda, Wamen Ossy: ATR/BPN Harus Jadi Solusi Atas Pembangunan di Kalimantan Timur
- Jadi Pembicara di Akademi Politik UMJ, Wamen ATR/Waka BPN: Pertanahan Berperan Strategis dalam Mendukung Asta Cita Presiden
- Sambut Kedatangan Megawati di Bulan Bung Karno Sebagai Loyalitas Kader Partai
- Ormas Laskar Blitar Serukan Rakyat Tetap Mendukung Program MBG dan KDMP
- DPRD Barito Utara Dorong Peningkatan Fasilitas dan Pelayanan Jamaah Haji
- Pemkab Barito Utara Sambut Kepulangan Jamaah Haji, Harapkan Menjadi Teladan di Masyarakat
- Pertamax Naik, Usaha Rakyat Terpukul! Pedagang dan Ojol di Majalengka Menjerit
- Ketua Umum PRSI Bahas Program Workshop Robotika Bersama Anjungan Kalimantan Selatan TMII
- RISNU Masjid Nurul Hidayah Kembali Gelar Gempita Muharram 1448 H, Hadirkan Festival Islami dan Kegiatan Sosial
Pertamax Naik, Usaha Rakyat Terpukul! Pedagang dan Ojol di Majalengka Menjerit

Keterangan Gambar : Pedagang Pertamax di Pom Mini
MEGAPOLITANPOS.COM MAJALENGKA - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax mulai memunculkan efek berantai yang dirasakan langsung oleh masyarakat kecil. Dari pemilik POM Mini, pedagang keliling, hingga pengemudi ojek online, semuanya mengaku harus menghadapi lonjakan biaya operasional yang semakin menekan penghasilan harian.
Di Kabupaten Majalengka, kondisi tersebut mulai terlihat dari menurunnya daya beli masyarakat dan merosotnya penjualan di sejumlah sektor usaha mikro yang bergantung pada kendaraan bermotor.
Pemilik POM Mini di wilayah Cigasong, Ucup (48), mengaku penjualan Pertamax miliknya turun drastis setelah harga BBM mengalami kenaikan. Jika sebelumnya dua jeriken atau sekitar 67 liter Pertamax dapat terjual dalam sehari, kini jumlah yang sama baru habis dalam waktu dua hari.
Baca Lainnya :
- Pertamax Naik, Usaha Rakyat Terpukul! Pedagang dan Ojol di Majalengka Menjerit
- Bupati Eman Puji Reksa Siaga TNI AU, Warga Majalengka Takjub
- Gerak Serentak PKK Majalengka Guncang Desa :26 Kecamatan Disisir, Bantuan Digelontorkan
- Pengedar Tramadol Digerebek di Majalengka, 101 Butir Disita Polisi
- Kapolres Rita Suwadi Ungkap Begal Jalanan, Residivis Kembali Beraksi
"Biasanya satu hari habis dua jeriken, sekarang dua hari baru habis. Pembeli banyak yang mengurangi pembelian," ungkapnya, Minggu (14/6/2026).
Menurut Ucup, banyak pelanggan mulai beralih membeli BBM langsung ke SPBU atau memilih menggunakan Pertalite demi menekan pengeluaran. Selisih harga yang cukup besar membuat masyarakat semakin selektif dalam membeli bahan bakar.
Dampak serupa dirasakan para pengemudi ojek online yang setiap hari mengandalkan kendaraan sebagai sumber penghasilan. Kenaikan harga BBM membuat biaya operasional meningkat, sementara pendapatan tetap berjalan di tempat.
Gelombang kenaikan biaya juga menghantam pelaku usaha makanan keliling. Wirja (50), pedagang baso ikan asal Baribis, mengaku terpaksa menaikkan harga jual karena biaya bahan baku dan transportasi terus merangkak naik.
Sebelumnya harga tepung, aci, hingga daging ayam sudah lebih dulu mengalami kenaikan. Kini, tambahan beban dari sektor transportasi membuat ruang keuntungan semakin menyempit.
"Kalau tidak dinaikkan, keuntungan semakin kecil. Tapi setelah harga naik, pembeli juga berkurang karena banyak yang mengeluh kondisi ekonomi sedang sulit," tuturnya.
Situasi yang sama dialami Asep (45), pedagang sayur keliling yang setiap hari berkeliling menggunakan sepeda motor untuk menjangkau pelanggan di berbagai desa.
"Kalau bensin naik, biaya jalan ikut naik. Tapi harga sayur juga tidak bisa sembarangan dinaikkan karena pembeli pasti keberatan," katanya.
Menurut Asep, keuntungan yang diperoleh kini jauh lebih tipis dibandingkan sebelumnya karena sebagian besar pendapatan terserap untuk biaya operasional.
Kenaikan harga Pertamax kini bukan sekadar persoalan bahan bakar, melainkan telah menjadi tekanan baru bagi pelaku usaha mikro yang menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat. Penjualan menurun, biaya usaha meningkat, sementara daya beli warga melemah.
Di tengah kondisi tersebut, para pelaku usaha berharap adanya stabilitas harga dan kebijakan yang mampu menjaga keberlangsungan usaha kecil agar tidak semakin terhimpit oleh beban biaya yang terus meningkat. ** (Agit)










.jpg)





