- DPRD Barito Utara Dorong Peningkatan Fasilitas dan Pelayanan Jamaah Haji
- Pemkab Barito Utara Sambut Kepulangan Jamaah Haji, Harapkan Menjadi Teladan di Masyarakat
- Pertamax Naik, Usaha Rakyat Terpukul! Pedagang dan Ojol di Majalengka Menjerit
- Ketua Umum PRSI Bahas Program Workshop Robotika Bersama Anjungan Kalimantan Selatan TMII
- RISNU Masjid Nurul Hidayah Kembali Gelar Gempita Muharram 1448 H, Hadirkan Festival Islami dan Kegiatan Sosial
- PRO RI Resmi Menjadi Sayap Partai PRI, Siap Kawal Kedaulatan Teknologi Nasional
- Kapolres Cup 2026 Resmi Bergulir, Bupati Barut Buka Kegiatan
- Patih Herman Hadiri Pembukaan Kapolres Cup 2026, Dukung Pembinaan Atlet Voli Barito Utara
- Aliansi Blitar Bersatu Bakal Gelar Tandingan Apel Akbar Dukung Program MBG
- Persoalan PETI Akan Jadi Agenda RDP DPRD Barito Utara
Usung Isu Kekerasan Perempuan, Film Tolong Saya DOWAJUSEYO Siap Tayang Akhir Januari 2026

Keterangan Gambar : Poster film tolong saya Dowajuseyo
MEGAPOLITANPOS.COM, Jakarta, — Industri perfilman Indonesia kembali menghadirkan warna baru melalui film Tolong Saya atau (DOWAJUSEYO), sebuah karya horor-romantis yang memadukan unsur budaya Indonesia dan Korea Selatan. Film ini menjadi produksi perdana Heart Pictures, rumah produksi baru Tanah Air yang berani mengeksplorasi sinema lintas budaya.
Perilisan film tersebut digelar di CGV Sudirman, Studio 2, Jakarta Selatan, Kamis (15/1/2026). Acara ini juga dirangkai dengan dialog budaya bertema “Mitos Horor Korea dalam Film Tolong Saya”, yang menghadirkan akademisi dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI).
Baca Lainnya :
- Film Dalam Sujudku, Siap Tayang 16 April 2026, Angkat Kisah Nyata tentang Cinta, Ujian, dan Kekuatan Doa
- Dibalik Kemewahan dan Utang, Film Aku Harus Mati, Ungkap Sisi Gelap Ambisi
- The Hole Masuk Seleksi Resmi IFFR 2026, Siap Tayang di Bioskop Indonesia Tahun Ini
- Project69 Siapkan Film Drama Keluarga \"Dalam Sujudku\", Penuh Pesan Kesetiaan dan Doa
- Film Sayap Garuda Angkat Isu Bullying di Sekolah, Tarmizi Abka: Pendidikan Harus Jadi Ruang Aman
Gabungan Horor, Budaya, dan Romantika
Produser film, Herty Purba, mengungkapkan bahwa ide produksi film layar lebar ini berangkat dari perubahan lanskap industri hiburan, di mana televisi dinilai mulai kehilangan daya tarik seiring kuatnya penetrasi media sosial.
“Genre horor masih sangat diminati, baik di Indonesia maupun Korea Selatan. Kami mencoba menghadirkan pendekatan berbeda dengan memadukan horor dan drama cinta khas Korea,” ujar Herty.
Ia menambahkan, besarnya basis penggemar drama Korea di Indonesia mulai dari remaja hingga ibu rumah tangga menjadi peluang besar untuk menghadirkan film dengan konsep lintas negara, baik dari sisi cerita maupun pemain.
Angkat Isu Kekerasan terhadap Perempuan
Tak sekadar mengandalkan teror, Tolong Saya juga mengangkat isu serius tentang kekerasan terhadap perempuan.
Film ini berkisah tentang Tania, mahasiswi Indonesia yang tengah menempuh studi di Korea Selatan, yang hidupnya berubah setelah mengalami teror dan kerasukan arwah Min Young, korban kekerasan seksual yang tewas secara misterius.
Tania kemudian terlibat dalam upaya mengungkap kematian Min Young bersama Dr. Park Min Jae dan sahabatnya, Sherly. Konflik semakin kompleks dengan kehadiran Dion, cinta pertama Tania, yang berubah menjadi sosok obsesif dan penghalang dalam misi pencarian kebenaran.
Alur tersebut menjadikan Tolong Saya sebagai film horor dengan sentuhan romantis dan psikologis yang kuat.
Adegan Ikonik dan Latar Dua Negara
Salah satu adegan yang mencuri perhatian adalah saat Tania kerasukan dan melontarkan dialog emosional dalam bahasa Korea, sebuah elemen yang jarang ditemui dalam film horor Indonesia.
Film ini juga memanfaatkan lokasi pengambilan gambar di Korea Selatan dan Indonesia, memperkuat nuansa lintas budaya yang diusung.
Adapun para pemain yang terlibat antara lain Saskia Chadwick, Kim Geba, Cinta Brian, Dito Darmawan, dan Aruma Khadijah.
Siap Tayang Akhir Januari 2026
Disutradarai oleh Nur Muhammad Taufik dan Sjahfasyat Bianca, Tolong Saya dijadwalkan tayang serentak di bioskop mulai 29 Januari 2026.
Herty berharap film ini dapat membuka peluang baru bagi produksi film Indonesia yang berani mengeksplorasi mitologi dan budaya lintas negara.
“Ini baru awal. Masih banyak mitologi dan kisah gaib Korea yang menarik untuk dieksplorasi ke depannya,” pungkasnya.(Reporter: Achmad Sholeh Alek)



.jpg)




.jpg)








