Pasien Puskesmas Bantarujeg Viral, Bupati Majalengka Evaluasi Total

By Sigit 02 Nov 2026, 15:10:41 WIB Jawa Barat
Pasien Puskesmas Bantarujeg Viral, Bupati Majalengka Evaluasi Total

Keterangan Gambar : Bupati Majalengka H Eman Suherman turun langsung ke pasien yang viral di medsos.


MEGAPOLITANPOS.COM MAJALENGKA - Viral video dugaan buruknya pelayanan terhadap seorang pasien di Puskesmas Bantarujeg menjadi alarm keras bagi Pemerintah Kabupaten Majalengka. Bupati Majalengka, H. Eman Suherman, langsung mengambil langkah evaluasi dengan mengumpulkan seluruh kepala Puskesmas, dokter, dan tenaga medis untuk membenahi kualitas pelayanan kesehatan di wilayahnya.

Peristiwa yang menimpa Masriah (61), warga Blok Babakan, Desa Cipeundeuy, Kecamatan Bantarujeg, tersebut menyita perhatian publik setelah video dan informasi mengenai kondisi pasien beredar luas di media sosial.

Dalam unggahan warganet, keluarga pasien menyebut Masriah sempat berada di teras luar Puskesmas. Bahkan, keluarga mengklaim masih terdapat tiga ruang rawat inap yang kosong ketika pasien membutuhkan penanganan. Informasi itu memunculkan pertanyaan sekaligus kritik masyarakat terhadap pelayanan fasilitas kesehatan tersebut.

Baca Lainnya :

Merespons polemik yang berkembang, Eman tidak hanya memberikan klarifikasi. Pada Senin (2/11/2026), ia mendatangi langsung kediaman pasien bersama Kepala Dinas Kesehatan, Kepala Puskesmas Bantarujeg, dan Camat Bantarujeg untuk menyampaikan permohonan maaf serta memastikan kondisi kesehatan Masriah.

Bupati menjelaskan, berdasarkan informasi yang diterimanya, pasien telah menjalani pemeriksaan awal oleh petugas medis. Dari pemeriksaan tersebut, pasien teridentifikasi sebagai suspek tuberkulosis (TBC).

Namun, salah satu ruang pemeriksaan saat itu sedang digunakan untuk menangani pasien darurat akibat kecelakaan. Pasien kemudian ditempatkan sementara di area transit atau lorong Puskesmas.

Dokter selanjutnya merekomendasikan rujukan ke rumah sakit untuk pemeriksaan lanjutan, termasuk rontgen, karena keterbatasan fasilitas di Puskesmas. Akan tetapi, pasien sempat keberatan dirujuk dengan alasan jarak tempuh. Petugas kemudian mengira pasien telah berangkat menuju rumah sakit, padahal masih berada di lingkungan Puskesmas.

"SOP sebenarnya sudah berjalan dan pasien sudah dilayani. Namun, karena ada keterbatasan fasilitas untuk pemeriksaan rontgen, pasien harus dirujuk. Petugas mengira pasien sudah berangkat, ternyata masih di lorong. Inilah miskomunikasi yang terjadi di lapangan," jelas Eman.

Meski menyebutnya sebagai miskomunikasi, Eman menegaskan bahwa pemerintah daerah tetap bertanggung jawab atas persoalan tersebut. Ia bahkan menyatakan kesediaannya menanggung seluruh biaya pengobatan apabila pasien bersedia dibawa dan dirawat di rumah sakit.

"Saya sebagai Bupati bertanggung jawab atas persoalan ini. Kami datang langsung ke rumah pasien untuk meminta maaf. Jika pasien bersedia dibawa dan dirawat di rumah sakit, seluruh biayanya akan kita tangani dan tanggung," tegasnya.

Langkah yang lebih besar disiapkan Bupati pada Selasa (3/11/2026). Seluruh kepala Puskesmas bersama dokter dan tenaga medis se-Kabupaten Majalengka akan dikumpulkan untuk mendapatkan arahan sekaligus menjalani evaluasi pola pelayanan kesehatan.

Evaluasi tersebut menjadi penting karena persoalan di Bantarujeg bukan hanya menyangkut prosedur medis, tetapi juga koordinasi petugas, komunikasi dengan pasien, serta kepastian pendampingan ketika masyarakat membutuhkan pertolongan.

Eman mengingatkan, pelayanan kesehatan tidak boleh hanya berorientasi pada terpenuhinya SOP. Sikap ramah, santun, kepedulian, dan empati harus menjadi bagian dari profesionalitas tenaga kesehatan.

Menurutnya, masyarakat yang datang ke Puskesmas maupun rumah sakit umumnya sedang menghadapi berbagai persoalan. Selain sakit secara fisik, mereka juga memikirkan biaya pengobatan, kondisi keluarga, hingga siapa yang akan mendampingi selama menjalani perawatan.

"Masyarakat yang datang ke Puskesmas atau rumah sakit itu membawa segudang persoalan. Bukan hanya sakit fisik, tetapi juga kepikiran biaya, keluarga yang menjaga, dan rasa cemas. Karena itu mereka sangat sensitif," ungkapnya.

Ia pun memberikan pesan tegas kepada seluruh tenaga kesehatan agar tidak menjadikan rutinitas pekerjaan sebagai alasan untuk mengabaikan sisi kemanusiaan dalam pelayanan.

"Petugas harus memahami ini, tinggalkan egoisme di rumah, dan layani masyarakat dengan ramah, santun, serta penuh empati," pungkasnya.

Evaluasi yang akan dilakukan Bupati menjadi momentum penting untuk mengukur sejauh mana pelayanan kesehatan di Majalengka benar-benar berpihak kepada masyarakat. Sebab, pelayanan yang baik tidak cukup hanya dibuktikan melalui prosedur administrasi, tetapi juga melalui kepastian bahwa setiap pasien mendapatkan perhatian dan penanganan yang layak.

Publik kini menunggu apakah evaluasi tersebut akan menghasilkan perubahan nyata, mulai dari pembenahan koordinasi, mekanisme rujukan, pendampingan pasien, hingga peningkatan sikap pelayanan tenaga medis.

Bagi Eman, insiden Bantarujeg harus menjadi pelajaran bagi seluruh jajaran kesehatan. Semangat Majalengka Langkung SAE tidak boleh berhenti sebagai slogan pembangunan, tetapi harus terasa langsung ketika masyarakat membutuhkan pertolongan.

Sebab, kualitas pemerintah tidak hanya terlihat dari pembangunan fisik, tetapi juga dari bagaimana warganya diperlakukan ketika sedang sakit dan membutuhkan pertolongan. ** (Agit)




  • Pasien Puskesmas Bantarujeg Viral, Bupati Majalengka Evaluasi Total

    🕔15:10:41, 02 Nov 2026
  • Kapolres Majalengka Bongkar Dua Kasus Pengeroyokan, Ini Kronologinya

    🕔12:31:41, 02 Nov 2026
  • Hasil Pilkades Kebonjati Dipertanyakan, Warga Soroti Sistem QR Code

    🕔12:27:07, 01 Nov 2026
  • Lima Hari Kades Sangkanhurip Sulit Ditemui, Warga Pertanyakan Pelayanan Desa

    🕔10:59:57, 31 Okt 2026
  • Sejarah Baru Pramuka Majalengka, 545 Anggota Resmi Jadi Pramuka Garuda

    🕔12:37:50, 30 Okt 2026