- Berbagi di Ramadan, PRI Santuni 1.000 Anak Yatim dan Dhuafa serta Bagikan 20 Ribu Paket Bantuan
- Polri Fasilitasi Mediasi, Kasus Nabilah O\'brien dan Zendhy Kusuma Berakhir Damai
- Undangan Bukber Wagub Kalsel, PRSI Dorong Penguatan Teknologi untuk Generasi Muda
- Momentum Nuzulul Qur-an, H. Nurul Anwar Ajak Masyarakat Perkuat Nilai Ibadah di Bulan Ramadhan
- Ramadhan Momentum Memperbaiki Diri, Hj Nety Herawati Ajak Masyarakat Tingkatkan Ibadah dan Jaga Kesehatan
- Musrenbang RKPD 2027 Resmi Dibuka, Bupati Barito Utara Tekankan Perencanaan Terarah dan Prioritas Pembangunan
- Ketua DPRD Barito Utara Musrenbang RKPD Jadi Wadah Menyelaraskan Aspirasi Masyarakat
- Taufik Nugraha Dorong Revisi RTRWK dan Peningkatan Layanan Pendidikan - Kesehatan
- Hj. Henny Rosgiaty Usulkan Lokasi Strategis Pembangunan Jembatan Lahei
- Salurkan 200 Becak Listrik Banpres Presiden ini Pesan Bupati Blitar Rijanto
KDDI Sebut Partisipasi Pendonor Perlu Kemitraan dan Menjadi Perhatian Serius

MEGAPOLITANPOS.COM, Jakarta - Komite Donor Darah Indonesia (KDDI) menyatakan, pemahaman masyarakat tentang pentingnya aksi donor darah perlu mendapatkan perhatian serius dari semua pihak dan pemerintah. Hal itu disampaikan Ketua Umum KDDI Ir. Edward Napitupulu dalam konferensi pers, di Kantor Sekretariat Pusat KDDI, Jakarta, Sabtu (12/10/2024).
Untuk itu, menurut Edward, pihaknya akan bekerjasama membangun dan menjalin kemitraan dengan para pendonor guna meningkatkan pemahaman, pengetahuan dan kesadaran masyarakat terkait donor darah, kesinambungan dan ketersediaan donor darah yang berkelanjutan melalui seminar, pelatihan dan kegiatan-kegiatan edukasi dan pelayanan sosial.
“Kami semua awalnya tidak saling mengenal, tetapi karena darah kami bisa menjadi satu kesatuan untuk memberikan kontribusi kepada bangsa dan negara. Kami sadar bahwa ketiadaan pendonor akan membuat banyak kesulitan bagi pasien-pasien yang membutuhkan darah. Oleh karena itu, kami akan melakukan seminar nasional untuk mempertemukan para pendonor dan pakar kesehatan di bidang darah," ujar Edward.
Baca Lainnya :
- Berbagi di Ramadan, PRI Santuni 1.000 Anak Yatim dan Dhuafa serta Bagikan 20 Ribu Paket Bantuan
- Polri Fasilitasi Mediasi, Kasus Nabilah O\'brien dan Zendhy Kusuma Berakhir Damai
- Undangan Bukber Wagub Kalsel, PRSI Dorong Penguatan Teknologi untuk Generasi Muda
- Momentum Nuzulul Qur-an, H. Nurul Anwar Ajak Masyarakat Perkuat Nilai Ibadah di Bulan Ramadhan
- Ramadhan Momentum Memperbaiki Diri, Hj Nety Herawati Ajak Masyarakat Tingkatkan Ibadah dan Jaga Kesehatan
Edward mengungkapkan, KDDI penyelenggarakan seminar dilatarbelakangi berbagai faktor, seperti rendahnya literasi kesehatan, mitos seputar donor darah, serta kesenjangan fasilitas, memengaruhi partisipasi masyarakat dalam kegiatan donor darah. Sementara itu pengakuan dan penghargaan terhadap para pendonor terlihat tidak ada kemajuan yang signifikan, atau bahkan di beberapa aspek dapat dikatakan semakin menurun.
"Kita ada tiga hal yang sangat penting yaitu mengkoordinir para pendonor di Indonesia supaya ada database yang lengkap sehingga setiap pendonor itu akan diapresiasi, yang kedua adalah kita ingin menggalakkan atau mendorong orang-orang itu ikut terlibat di dalam donor darah dari mulai generasi yang muda, kita kasih contoh bahwa donor darah itu adalah keren dan bagus untuk (kesehatan) mereka dan yang ketiga kita membantu kebutuhan darah yang ada di setiap rumah sakit maupun yang jadi kita menambah menjadi mitra dan kalau boleh kita juga ikut nanti memberi apresiasi penghargaan kepada pendonor-pendonor itu gitu ya. Jadi tidak hanya yang tercatat di PMI tetapi yang tidak tercatat kita akan apresiasi kita akan memberi penghargaan sehingga mendorong mereka," papar Edward.
Edward menilai, selama ini para pendonor darah yang merupakan pahlawan kemanusiaan tanpa nama tersebut semakin minim mendapatkan apresiasi dari waktu ke waktu. Akibatnya, kegiatan dan manfaat dari mendonor darah juga kurang mendapatkan dukungan dari masyarakat.
Hal tersebut, terang Edward, jelas memprihatinkan sekaligus membahayakan sebab WHO menganjurkan ketersediaan darah setiap negara minimal 2 persen dari total jumlah penduduk. Sementara itu, ia menyebutkan jumlah penduduk di Indonesia per semester 1 tahun 2024 menurut Ditjen Dukcapil Kemendagri berkisar 282 juta jiwa penduduk.
"Indonesia idealnya memiliki persediaan kantong darah sekitar 5,6 juta per tahun. Akan tetapi, kondisi yang terjadi malah sebaliknya, Indonesia justru masih kekurangan kantong darah sebanyak 1,4 juta per tahun," imbuhnya.
KDDI akan menggelar seminar nasional bertajuk “Memaknai Lebih Dalam Donor Darah di Indonesia: Tantangan dan Peluang di Era Teknologi Maju”, di Aula Siwabessy, Kementerian Kesehatan pada Selasa (15/10/2024), dengan menghadirkan narasumber kunci (keynote speaker) Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin.
"Kita hadirkan para pendonor yang sudah mendonor 100 hingga 200 kali, dan kita juga menghadirkan UGD unit donor darah tingkat utama dari salah satu provinsi di Indonesia karena ada tiga wilayah yang tingkat utama ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan, pertama adalah Jakarta, Jawa Timur dan Jawa Barat dan kita akan mengundang mereka untuk menyampaikan apa yang disebut pelayanan terhadap kebutuhan darah dan bagaimana risiko yang dihadapi," kata H. Muhammad Muas, anggota Dewan Pengawas menambahkan.
Sekedar informasi, KDDI sebagai organisasi perkumpulan telah mendapatkan pengakuan pemerintah dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia melalui Direktur Jenderal Administrasi Hukum Umum dengan Keputusan No. AHU - 0009152. AH.01.07. Tahun 2024, dan secara sah Komite Donor Darah Indonesia disingkat KDDI, dan bisa aktif sejak 7 Oktober 2024. KDDI diketahui Ketua Umum Ir. Edward Napitupulu dan Wakil Ketua Umum Nickolas Dewa Putra: Sekretaris Fefriyandi: Bendahara Endang Tuty Windarsih. Sedangkan H.R. Agung Laksono Ketua Dewan Pengawas KDDI. Adapun anggota Dewan Pengawas KDDI yakni, Ahmad Doli Kurnia Tandjung, dr. Ali Ghufron Mukti, DR.Moestar Putra Jaya, Irjen Pol (Purn) Erwin TPL Tobing, Ir. Anton Adan Nangoy dan Mengatur Nainggolan. ** (Anton)















