- Segenap Jajaran Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Pemerintah Kabupaten Tangerang mengucapkan Dirgahayu Kemerdekaan Indonesia ke -81
- Teken Kesepakatan KUA-PPAS 2027 Legislatif dan Eksekutif Dorong Percepatan pembangunan Kabupaten Blitar
- Indonesia Perkuat Kesiapsiagaan Bencana Lewat EDRR 2026, Teknologi AI Jadi Andalan
- Kementerian UMKM Perkuat Standar Layanan Publik bagi Pengusaha UMKM
- Monas Jadi Pusat Pesta Rakyat 17 Agustus 2026, 300 Ribu Kaus dan Jutaan Porsi Kuliner Dibagikan
- Pidato Kenegaraan Presiden Jadi Momentum Perkuat Sinergi Pemkab Barito Utara dengan Pemerintah Pusat
- Hadiri Paripurna Pidato Kenegaraan, H Nurul Anwar Sampaikan Harapan untuk Indonesia
- Dengarkan Pidato Kenegaraan, Anggota DPRD, Gun Sri Witanto Tekankan Pentingnya Mengisi Kemerdekaan Dengan Amanah UUD 45
- DPRD Barito Utara Gelar Paripurna Dengarkan Pidato Kenegaraan Presiden Jelang HUT ke-81 RI
- Menjelang HUT RI ke-81 2026 Legislatif dan Eksekutif Kabupaten Blitar Dengarkan Pidato Presiden Prabowo
Festival Angkringan Pasar Ngasem, Turut Meriahkan HUT ke-267 Kota Jogjakarta

Keterangan Gambar : Kopi Joss layak dinikmati(Poto :MS)
MEGAPOLITANPOS.COM, Jogjakarta: Dalam rangka memeriahkan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-267 Kota Jogja, puluhan angkringan mengikuti perhelatan Festival Angkringan Yogyakarta yang digelar di Plaza Pasar Ngasem pada 6-8 Oktober 2023.
Kegiatan itu adalah kolaborasi Pemkot Yogyakarta melalui Dinas Perdagangan dengan Gerakan Ekonomi Kreatif (Gekraf) DIY.
Baca Lainnya :
- Monas Jadi Pusat Pesta Rakyat 17 Agustus 2026, 300 Ribu Kaus dan Jutaan Porsi Kuliner Dibagikan
- Kementerian UMKM Koordinasi Lintas Sektor Perkuat Integrasi Layanan Terpadu SAPA UMKM
- PTPN I Raih Anugerah Mahayuga, Tegaskan Peran Perkebunan bagi Ketahanan Pangan Nasional
- Ketum Asbanda Tekankan KUB Bukan Cuma Modal, tapi Sinergi IT dan SDM
- Kementerian UMKM Luncurkan Arah Baru Kewirausahaan, Fokus Naik Kelas dan Daya Saing Global
Pejabat Wali Kota Yogyakarta, Singgih Raharjo mengatakan, Festival Angkringan Yogyakarta yang pertama kali diselenggarakan itu ternyata di luar ekspektasi, karena pengunjungnya banyak. Hal itu menunjukan bahwa angkringan itu tidak hanya sekadar menjual nasi kucing, tapi menjadi satu tempat untuk saling ketemu, diskusi dan bercerita.
"Angkringan itu tempat di mana seluruh elemen masyarakat bisa bersatu. Saya kira budaya angkringan ini menjadi salah satu budaya di Kota Yogyakarta yang harapannya terus dilestarikan. Karena dengan angkringan maka akan mempersatukan banyak orang,” kata Singgih pada wartawan belum lama ini.
Singgih menyampaikan Festival Angkringan Yogyakarta itu juga untuk membangkitkan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) dan ekonomi kreatif di Kota Yogyakarta.
" Saya keliling di tiap angkringan pasti ada yang menikmati nasi kucing, sate dan sebagainya. Ini menunjukan antusias dari masyarakat. Bahkan tidak hanya warga kota tapi ada beberapa dari luar kota. Tentunya ini akan menjadi daya tarik wisata Kota Yogyakarta,” paparnya.

Festival Angkringan Yogyakarta diikuti sekitar 43 angkringan dan kuliner pasar rakyat. Menu-menu andalan angkringan antara lain nasi kucing, aneka gorengan, Kopi Joss, berbagai jenis sate seperti sate usus, telur puyuh, dan lainnya yang ditata pada gerobak angkringan. Ciri khas angkringan juga terdapat cerek untuk memasak air di atas anglo dengan bara api dari arang.
Sementara itu Kepala Dinas Perdagangan Kota Yogyakarta Veronica Ambar Ismuwardani mengatakan Festival Angkringan Yogyakarta pertama kali diadakan di Pasar Ngasem karena tempat itu menjadi ikon dan memiliki sejarah di Kota Yogyakarta. Pihaknya berharap angkringan yang menjadi ikon bisa menjadi branding Yogyakarta. Termasuk untuk mengembangkan pasar rakyat menjadi sebuah ruang ekosistem ekonomi kreatif, sehingga pasar rakyat tidak hanya tempat jual beli barang, tapi juga wisata dan edukasi.
“Kenapa kita memilih angkringan, karena kota orang. Yogya terbuat dari rindu, pulang dan angkringan. Jadi kita berharap orang-orang kalau pulang (ke Yogya) makan di angkringan Kota Yogya. Angkringan bukan hanya menjadi kebiasaan masyarakat Kota Yogyakarta berkaitan budaya kuliner. Tapi juga bagian dari budaya sosial karena di angkringan kita memperoleh kenyamanan. Makan yang murah, tanpa sekat batas apapun kita bisa ngomongin apapun,” tutupnya.(Reporter Achmad Sholeh)

















