- Realisasi Pengadaan Majalengka Baru 25 Persen, Ribuan Paket Belum Terealisasi
- Harga Pupuk Subsidi Turun 20 Persen, Pemerintah Perkuat Ketahanan Pangan Nasional
- Kementerian UMKM Perkuat Pemulihan UMKM Aceh melalui Akses Pasar Digital dan Dukungan Pengembangan Usaha
- PERINTIS 10 Hari Mulai Diterapkan, Kantah Kabupaten Tangerang Hadirkan Layanan Peralihan Hak yang Lebih Cepat dan Mudah.
- 14 Samsat Polda Metro Kunjungi Taman Kanak-kanak, Hadirkan Sosok Polisi yang Bersahabat
- Mulyani Dukung Deteksi Dini Kanker Serviks, Apresiasi Gerakan Perempuan Sadar Sehat di Pasir Kuda
- DPMPTSP Barito Utara Paparkan Lima Manfaat Perizinan bagi Pelaku Usaha Mikro
- Buka Bimtek Perizinan Usaha Berbasis Risiko dan LKPM, Wabup Tekankan Pemahaman Pelaku Usaha Terhadap OSS-RBA
- Dua Pria Pelaku Pembunuhan Berencana di Pinang Ranti Jaktim Berhasil Ditangkap
- Manfaatkan PTSL untuk Urus Sertipikat, Masyarakat: Proses Dipermudah.
DPR Soroti Risiko Fiskal 2026, Program Makan Bergizi Gratis Bisa Disesuaikan

Keterangan Gambar : Anggota DPR RI, Anis Byarwati
MEGAPOLITANPOS.COM, Jakarta– Anggota DPR RI Anis Byawati menyatakan sepakat dengan ide Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang membuka opsi pemangkasan anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta penundaan sebagian belanja infrastruktur yang bersifat multi-years jika defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 berpotensi melampaui batas aman 3 persen.
Menurut Anis, langkah antisipatif tersebut perlu dipertimbangkan apabila lonjakan harga minyak mentah dunia akibat konflik geopolitik memicu pelebaran defisit fiskal.
“Defisit APBN kita memang sudah semakin mengkhawatirkan. Defisit APBN 2025 sebesar 2,96 persen saja merupakan yang tertinggi pasca era reformasi, dengan mengecualikan masa pandemi,” ujar Anis di sela-sela kegiatan reses anggota DPR RI di Jakarta.
Baca Lainnya :
- Mulyani Dukung Deteksi Dini Kanker Serviks, Apresiasi Gerakan Perempuan Sadar Sehat di Pasir Kuda
- Hadiri Talk show Perlindungan Anak, Ketua DPRD Kota Bogor Dorong Sinergi Menuju Indonesia Emas 2045
- Dandim 0506/Tgr Hadiri Pelantikan Ketua DPRD Kota Tangerang.
- Transformasi Bank DKI Jadi Bank Jakarta, Pemprov DKI Dorong Ekspansi Bisnis
- Disambut Pangkogabwilhan II Marsdya TNI Muzafar, Komisi I DPR RI Tegaskan Komitmen Dukung Alutsista dan Kesejahteraan Prajurit.
Anggota Badan Anggaran (Banggar) DPR RI itu menilai potensi kenaikan defisit tidak hanya dipicu oleh lonjakan harga minyak mentah dunia akibat konflik Iran–Israel–Amerika Serikat, tetapi juga dari asumsi penerimaan pajak dalam APBN 2026 yang dinilai terlalu tinggi.
Ia menjelaskan, target pertumbuhan penerimaan perpajakan sebesar 21,5 persen jauh di atas tingkat pertumbuhan natural yang berkisar sekitar 7,5 persen.
“Jika target penerimaan pajak meleset, maka pendapatan negara akan sulit mencapai target dan defisit APBN 2026 berpotensi melebihi 3 persen,” kata legislator dari Partai Keadilan Sejahtera tersebut.
Anis menilai opsi pemangkasan anggaran program Makan Bergizi Gratis cukup masuk akal mengingat besarnya alokasi dana program tersebut yang mencapai Rp335 triliun. Selain itu, lembaga pemeringkat global Fitch Ratings juga menyoroti program tersebut karena dinilai berpotensi menekan belanja negara dan memperlebar defisit fiskal.
Ia menambahkan, pemerintah sebelumnya juga telah melakukan simulasi risiko (stress test) terhadap kemungkinan kenaikan harga minyak dunia hingga menyentuh rata-rata 92 dolar AS per barel per tahun akibat eskalasi konflik global.
Sebagai anggota Komisi XI DPR RI, Anis mengingatkan bahwa potensi pelebaran defisit, baik dari faktor internal maupun eksternal, harus diantisipasi sejak dini oleh pemerintah.
“Sebelumnya Moody’s Investors Service juga menyoroti risiko fiskal dan defisit APBN, serupa dengan Fitch Ratings yang memproyeksikan defisit anggaran sekitar 2,9 persen pada 2026, di atas target APBN sebesar 2,69 persen,” ujarnya.
Ia menegaskan, apapun opsi kebijakan yang diambil pemerintah harus memiliki dampak paling minimal terhadap masyarakat.
Menurutnya, menaikkan administered price atau harga yang diatur pemerintah seperti BBM, LPG, maupun tarif listrik justru berpotensi semakin menekan daya beli masyarakat yang hingga kini belum sepenuhnya pulih.
“Karena itu pilihan menyesuaikan program diyakini lebih rasional, seperti memangkas anggaran program MBG dan menunda sebagian belanja infrastruktur yang bersifat multi-years,” pungkasnya.(Reporter: Achmad Sholeh Alek).

.jpg)













